Perempuan Inggris pejuang anti-ISIS di Suriah cemaskan keluarganya

Kimberley Taylor
Image caption Kimberley Taylor adalah perempuan Inggris pertama yang menjadi relawan yang bertempur melawan ISIS.

Perempuan pertama yang bertempur untuk melawan ISIS di Suriah, mengaku keluarganya mendapat ancaman akan dituntut secara hukum.

Kimberley Taylor bergabung bersama kelompok Kurdi dalam pertempuran untuk merebut kembali kota Raqqah pada Maret 2016.

Ia mengatakan laptop dan telepon orangtuanya telah dibawa pergi dan tidak dikembalikan selama satu bulan.

Dia menyebut keluarganya kini 'mencemaskan keselamatan hidup mereka.' 

Perempuan berusia 27 tahun - yang juga dikenal sebagai Kimmie - bergabung dengan akademi militer di Unit Perlindungan Perempuan Kurdi (YPJ) dan telah bertempur melawan apa yang disebut Negara Islam atau ISIS di Raqqah sejak Oktober tahun lalu.

Taylor mengatakan bahwa polisi kontra-terorisme telah mendatangi ibunya, ayahnya, ayah tirinya dan adiknya.

Telepon dan komputer mereka juga disita dari rumah mereka di Prescot dan Chorley.

Berbicara kepada BBC melalui aplikasi pesan dari Suriah utara, Kimberley Taylor menanggapi informasi yang diperolehnya tentang keluarganya.

Taylor mengatakan: "Setelah satu bulan, tak ada benda yang dikembalikan kepada mereka."

"Ini berarti bahwa kami belum bisa melakukan kontak selama ini dan tingkat stres mereka tentang keselamatan saya pastilah sangat tinggi."

Mantan mahasiswa matematika University of Liverpool itu menambahkan: "Keluarga saya sekarang tidak hanya cermas tentang keselamatan saya ... mereka sekarang juga takut tentang keselamatan mereka sendiri dari tindakan pemerintahan Inggris, dan mereka tidak tahu alasan atau latar belakangnya tindakan polisi itu."

"Tindakan mereka tidak bisa dibenarkan sama sekali. Mereka bukannya tentang mengendalikan ancaman teroris, mereka justru menakut-nakuti orang-orang yang ingin mengubah dunia dan Inggris."

Kementerian Dalam Negeri mengatakan tidak bisa mengomentari operasi yang dilakukan polisi.

Seorang juru bicara pemerintah menambahkan mereka yang bepergian ke luar negeri untuk berpartisipasi dalam konflik bisa menghadapi tuntutan hukum ketika mereka kembali ke Inggris.

Taylor, yang juga menggunakan nama Zilan Dilber, mengatakan bahwa dia bertempur di garis depan bersama rekan-rekannya serdadu pria di YPG.

Image caption Ryan Lock, 20 tahun, dinyatakan telah meninggal di Raqqah saat bertempur sebagai relawan YPG.

Bulan Februari lalu Taylor berkata: "Kaum perempuan ini masih muda. Usianya 18, 19, 20 tahun, dan mereka mengambil alih Raqqah yang tampaknya tak terkendali."

"Saya tidak ingin mati. Masih terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan."

"Langkah (bertempur di Suriah) ini diperlukan," tambahnya. "Ini demi kebebasan semua orang dan demi kemanusiaan."

Meskipun Taylor adalah perempuan pertama yang diketahui bertolak dari Inggris ke Suriah untuk bergabung memerangi ISIS, banyak pria Inggris lain telah melakukannya.

Salah satunya adalah Ryan Lock, 20 tahun, yang bulan Januari lalu dinyatakan telah meninggal di Raqqah saat bertempur sebagai relawan YPG.

Berita terkait