Sandiaga Uno: Perda Syariat, proses hukum, dan berbagai isu lain

sandiaga uno Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga Uno saat bertemu pendukungnya di Jakarta, 21 Maret 2017 lalu.

Ketika wawancara berlangsung, Sandiaga Uno tiba-tiba menginterupsi "apakah wawancaranya dihentikan dulu atau tetap dilanjutkan?" Saat itu terdengar bunyi adzan maghrib dari alat pengeras suara di salah-satu ruangan kantor Recapital di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, salah-satu perusahaan miliknya.

Wawancara akhirnya dihentikan sementara. "Kita break dulu ya," ujar pria kelahiran 1969 ini. Petang itu, Senin, 27 Maret, calon Wakil Gubernur Jakarta yanng berpasangan dengan cagub Anies Baswedan ini mengenakan kaos Polo putih, celana krem dan sepatu kets warna hitam.

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan Sandiaga dipadati dengan aktivitas kampanye Pilkada Jakarta dan kegiatan lainnya. Di akun Twitter miliknya, Sandi hari itu antara lain menghadiri rapat kerja HIPMI hingga menerima wartawan Majalah Bollywood untuk sebuah wawancara.

"Maaf saya agak flu," katanya, sebelum wawancara, namun politikus Partai Gerindra ini menerima wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Christine Franciska, Oki Budhi serta Mehulika Sitepu, untuk wawancara.

Selama sekitar satu jam, pengusaha yang pernah digolongkan sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia ini menjawab berbagai pertanyaan.

Mulai soal program kerjanya, pilihannya berpolitik, persoalan isu agama dan ras yang merebak selama pilkada. Pencinta olah raga lari ini juga menepis berbagai isu yang dilekatkan pada dirinya dan Anies Baswedan.

"Ini salah-satu hoax. Perda syariat itu tidak pernah ada dalam platform kita, dalam rencana kerja kita," katanya menanggapi informasi yang beredar di masyarakat tentang agenda pemberlakuan Perda Syariat di Jakarta jika pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno memenangkan pemilihan gubernur nanti.

Berikut petikan wawancara BBC Indonesia dengan Sandiaga Uno:

Anda sudah lama malang-melintang di bisnis, dan bahkan Forbes pernah menobatkan Anda sebagai salah seorang terkaya di Indonesia. Namun Anda memutuskan terjun ke politik. Di titik mana Anda bisa memutuskan meninggalkan bisnis dan total terjun ke politik?

Awal 2015, saya terlibat pembicaraan dengan yang bisa dikatakan heart to heart dengan Pak Prabowo. Singkatnya, beliau menyampaikan undangannya agar saya bergabung ke Partai Gerindra. Dan saya sampaikan pada saat itu, saya belum siap dan saya menolak.

Tapi beliau menyampaikan bahwa politik di Indonesia itu butuh kontribusi dari orang-orang yang sudah selesai dengan kebutuhan ekonominya. Jadi betul-betul ingin kontribusi untuk bangsa dan negara. Saya waktu itu, awalnya mengatakan, saya sudah berkontribusi untuk bangsa dan negara melalui dunia usaha, yaitu menciptakan lapangan kerja.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga Uno, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan dalam sebuah acara kampanye di Jakarta.

Tapi dia sampaikan bahwa kalau di politik itu dampaknya bukan hanya 50 ribu karyawan, tapi bisa dirasakan oleh mungkin jutaan, belasan juta atau bahkan puluhan juta warga atau rakyat Indonesia.

Dia ceritakan bahwa saya punya passion terhadap UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). Dia bilang kalau kamu hadirkan kebijakan yang sangat mumpuni, 57 juta UMKM akan terbantukan dengan policy yang berpihak kepada mereka dan akan meningkatkan ekonomi mereka.

Akhirnya di titik itu, dia juga sampaikan: 'mau kaya sampai gimana lagi sih? Sudah jadi pengusaha sangat sukses, dan mungkin jarang sekali ada anak muda dengan usahanya sendiri bisa membangun usaha. Kamu tanya deh sama orang tua, tanya sama ibu.'

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga mengaku keputusannya untuk terjun ke politik praktis tidak terlepas dari peranan ibunya, Mien Uno.

Untuk mengakhirinya saya bilang 'ya pak, saya akan tanya', karena saya sudah pernah tanya kepada orang tua, dan orang tua saya tidak pernah mengizinkan.

Pagi-paginya, saya menghadap ibu saya dan ibu saya tanya: 'kenapa pagi-pagi ini datang ke sini, mau tanya boleh atau enggak masuk politik?' Saya jawab: Kok tahu. Ternyata Pak Prabowo sudah mendahului saya, berkomunikasi dengan ibu saya, dan saya diizinkan masuk politik.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Selama masa kampanye, Sandiaga menyempatkan memangkas rambut di kawasan Glodok, Jakarta, 28 Maret lalu.

Sekitar bulan April 2015, di situlah dimulai. Tapi saya langsung konsekuen, saya tidak mau hidup di dua dunia. Saya mau betul-betul totalitas. Saya tinggalkan dunia usaha. Saya tidak mau berpolitik sambil berdagang dalam waktu yang sama. Saya tidak mau mempolitikkan dagang, dan saya tidak mau memperdagangkan politik. Saya tinggalkan secara totalitas posisi-posisi saya di dunia usaha.

Jadi memang benar anggapan yang menyatakan bahwa peran ibu Anda sangat besar dalam menentukan pilihan Anda untuk berpolitik?

Ibu sangat, sangat sentral peranannya dalam keputusan-keputusan strategis yang saya ambil. Karena beliau yang menanamkan nilai-nilai luhur tentang harus amanah, harus rajin, harus disiplin, dan bagaimana bertutur kata, bagaimana berinteraksi secara sosial.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga Uno, Anies Baswedan, Djarot Syaiful Hidayat dan Basuki Tjahaja Purnama usai mengikuti sebuah acara di Net TV.

Saya beruntung ibu memberikan bimbingan sedari awal. Dan untuk keputusan penting, salah-satunya waktu memutuskan untuk terjun ke politik secara totalitas, saya berdiskusi dengan beliau dan beliau memberikan arahan dan bimbingannya, dan sepertinya itu mungkin menjadi takdir yang maha kuasa, dan pada saat itu saya juga akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam politik.

Kembali ke soal pilihan Anda terjun ke politik. Apakah pilihan itu diambil ketika usaha Anda sedang mengalami penurunan?

Usaha saya yang saya bangun sekitar 20 tahun, terus berkembang. Dan saya berhaisl mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia sehingga sangat transparan. Bisa dicek kinerjanya. Bisa dicek investasi portfolionya di mana saja. Perusahaannya terus berkembang, dan setelah tinggal alhamdulillah kinerjanya terus membaik.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga Uno bersama mantan Presiden BJ Habibie pada Februari 2017 lalu.

Sampai saya berpikir, apakah saya terlalu lama menjadi CEO, karena saya hampir lebih dari 17 tahun. Sekarang dengan tim yang solid, profesional, anak-anak muda yang menjalankan, ternyata portfolio yang saya bangun saat itu menghasilkan kinerja yang sangat memuaskan.

Bisa Anda ceritakan apa yang terjadi pada Mandala Airlines dan TV Bloomberg Indonesia yang akhirnya ditutup?

Ada beberapa hal tidak kita hitung dengan baik. Walaupun kita bermitra dengan perusahaan terbaik di dunia di bidang penerbangan (yaitu Singapore Airlines), ternyata ada masalah infrastruktur yang ada di Indonesia, mengenai rute, airport, dan juga kita akhirnya terterpa dua permasalahan yang sangat inti tidak terbayangkan saat itu, yaitu harga minyak yang melonjak tinggi dan nilai tukar Rupiah atas Dollar AS yang melambung tinggi juga. Bisnisnya jadi tidak dapat hidup terus. Karena income menurun draktis, karena incomenya dalam Rupiah, sementara pengeluarannya yang Dollar itu meningkat tajam. Akhirnya setelah kita berembug, kami putuskan untuk menghentikan operasinya.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga Uno dikerubuti anak-anak muda di sela-sela Rakernas HIPMI, 27 Maret lalu

Bloomberg itu di-drive oleh anak muda yang waktu itu saya betul-betul tertarik. (Sandiaga Uno menyebut nama). Dia membawa proposal, mengajak Bloomberg untuk eksis di Jakarta dan dengan business model yang bagus sekali. Dia ingin pendanaan dari kita. Saya sampaikan bahwa saya tidak terlalu aktif di Recapital (nama perusahaan) dari tahun 2007. Rupanya juga sama terpaan daripada pengeluaran yang tinggi dan biaya yang tinggi ini tidak diimbangi revenue karena belum bisa menarik iklan, akhirnya harus ditutup. Saya sedih juga. Setiap ada investasi yang tidak berhasil.

Ketika Anda memutuskan untuk menjadi calon wakil gubernur dan Anies menjadi calon gubernur, padahal sebelumnya Anda yang disebut-sebut sebagai calon gubernur. Mengapa Anda akhirnya membiarkan Anies menjadi calon gubernur?

Saya bukan membiarkan. Saya meminta mas Anies sebagai calon gubernur. Karena, saya melihat kombinasi ini bisa menawarkan sebuah solusi dan inovasi dalam perpolitikan di Indonesia.

Pertama, saya melihat bahwa masalah pendidikan, Anies adalah ahlinya. Kedua, saya melihat bahwa ini juga pelajaran politik yang baik, karena saya dulu jubirnya Pak Prabowo, beliau jubirnya Pak Jokowi. Kita menunjukkan ke khalayak ramai, kepada Jakarta dan Indonesia, bahwa demi memajukan masyarakat Jakarta, kita tidak punya beban politik, kita berdamai dengan masa lalu dan kita menapak masa depan.

Ketiga, saya melihat bahwa ini juga jawaban bahwa selama ini politik sarat dengan harus menjadi gubernur, harus menjadi pimpinan, harus menjadi nomor satu. Tapi saya tunjukkan bahwa di dalam politik itu ada inovasi. Di mana kita sama-sama sepakat konsepnya itu adalah Dwi Tunggal. Kita bagi porsisnya secara kongkrit dari awal bahwa kalau posisinya adalah ekonomi dan infrastruktur, itu tanggungjawab saya, dan beliau membidangi institusi dan manusia.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam acara sholat subuh di Masjid Istiqlal, Jakarta, 10 Februari 2017.

Saya melihat ini sebuah terobosan. Biasanya orang politik itu berpikir tidak ada keikhlasan. Tapi menurut saya, kalau politik mau membangun buat warga, khususnya warga Jakarta, kita harus lakukan ini dengan pikiran terbuka. Enggak boleh pokoknya. Harus ada kemauan dan kemampuan untuk melihat kombinasi yang terbaik.

Kepada media Anda menyebut telah mengeluarkan sekitar Rp7milyar selama kampanye pilkada putaran kedua. Dan pasti lebih besar jika ditambah dana yang Anda keluarkan selama putaran pertama. Gelontoran uang Anda ini tentu sangat besar, dan pasti ada pertanyaan di masyarakat, mengapa Anda sampai mengeluarkan uang banyak demi sebuah jabatan. Apa yang melatari dan memotivasi Anda?

Saya tidak hitung-hitungan. Kalau melihat di dalam politik bahwa apa yang saya lakukan ini murni demi untuk menjawab harapan masyarakat. Dan saya sampaikan kepada tim, kalau bisa cari pendanaan. Tapi memang kondisi ekonomi lagi sulit, dan kita tidak didukung oleh pengusaha-pengusaha besar, tidak didukung oleh kekuatan-kekuatan yang besar. Jadi saya begini: Jangan takut. Kalau ada kekurangan, saya akan mencoba memberikan dana dari pribadi saya.

Tentang pro-kontra reklamasi Teluk Jakarta, bagaimana posisi Anda? Menolak, atau menerima dengan catatan, atau seperti yang Anda utarakan ke media: akan mengkomunikasikan orang-orang di belakang proyek itu dan masyarakat nelayan?

Posisi kami menolak reklamasi dan kami akan menghentikan reklamasi yang dilakukan hari ini. Karena kami sudah lihat prosesnya sangat tidak terbuka, sangat tidak berkeadilan. Kita sudah melihat juga ada kasus hukum yang menerpa di mana sudah ada vonis yang dijatuhkan. Jadi mari kita duduk bersama, jangan dipaksakan, karena akhirnya akan menimbulkan ketidakpastian dan ini akan menjadi sebuah komoditas politik.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga saat berkampanye di Kampung Bali, Jakarta, 22 Maret.

Bagi kami selama reklamasi itu bisa menghadirkan kepentingan dan keberpihakan kepada warga kebanyakan, khususnya nelayan-nelayan yang ada di pesisir, masyarakat di pesisir, dan membangun Jakarta dan Indonesia berbasis maritim, dan sebuah keinginan masyarakat bisa memiliki akses terhadap pantai, akses terhadap rekreasinya, mari kita duduk bersama, kita komunikasikan dan kita coba mendengar apayang menjadi isu yang dihadapi oleh para nelayan, investor.

Tapi kalau reklamasi yang seperti sekarang ini, kita sudah putuskan untuk menghentikan reklamasi. Kita tidak mau kompromi.

Setelah lolos ke putaran kedua Pilkada Jakarta, sebuah survei memprediksi Anda dan pasangan Anies dan Sandiaga lebih diunggulkan untuk memenangi Pilkada Jakarta. Apa komentar Anda?

Masih perlu kerja keras. Kami tidak terlalu menitikberatkan kepada survei. Kami terus gunakan kesempatan untuk menangkap aspirasi warga. Kami tidak mau takabur atau jumawa karena kami dikatakan unggul. Tapi selama 18 bulan, saya tidak pernah diperhitungkan. Saya selalu dianggap anak baru di politik, enggak akan punya peluang sama sekali. Tapi dengan kerja keras, dan saya sampaikan ke mas Anies, kalau mas Anies ikut dengan ritme saya, dan mas Anies percaya bahwa tiga isu itu, yaitu pendidikan, lapangan pekerjaan dan biaya hidup di Jakarta, kita mestinya mendapatkan sebuah kampanye yang sangat mendapat feedback yang bagus dari masyarakat. Kita akan memenangkan hati dan pikiran warga Jakarta kalau kita fokus isunya itu adalah isunya yang sangat riil yang mereka hadapai dalam keseharian.

Selain tema ekonomi kerakyatan yang disebut menjadi kampanye Anda dan Anies, apa yang bisa Anda katakan ketika sebagian pengamat mengatakan faktor lain yaitu isu sentimen agama yang diderita lawan politik Anda?

Saya dididik di Sekolah Dasar PSKD (Persatuan Sekolah Kristen Djakarta), saya lulus dari SMA Katolik. Partner-partner saya dari multi etnis, ada multi etnis Tionghoa, ada Kristen. Komitmen saya, yang tidak bisa dikompromikan, adalah Bhinneka Tunggal Ika. Dan yang sangat disayangkan dua isu itu, agama dan ras, membuat kita terpecah belah. Dua isu itu membuat kita terkotak-kotak.

Hak atas foto Jakarta Maju Bersama.com
Image caption Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Sekarang alhamdulillah, putaran kedua jauh lebih tenang, pembicaraan lebih fokus pada program. Tapi di putaran pertama kemarin, fokus kami tetap dalam koridor lapangan pekerjaan, pendidikan dan biaya hidup. Dan kami tidak suprise dengan hasil akhir putaran pertama, karena survei internal kami - yang tidak pernah kami rilis - menunjukkan memang tiga isu yang kami pilih, kalau kami disiplin mengkomunikasikan dengan baik ke masyarakat dan menghadirkan solusinya, mestinya kita bisa memenangkan hati dan pikiran warga Jakarta.

Tetapi bagaimana dengan pendukung Anda dan Anies di kalangan bawah yang menggunakan isu agama untuk menyerang rival Anda?

Itu tugas kita bersama untuk meyakinkan mereka bahwa bangsa kita ini bangsa yang menghargai keberagaman. Jadi tugas kita sebagai pemimpin adalah yang bisa mempersatukan, mengingatkan mereka. Dan bukan hanya di pihak yang mengutarakan SARA, ada juga di pihak lain yang sangat, kalau boleh dibilang, pokoknya. Enggak mau mendengar. Jadi ini ada dua spektrum sama-sama enggak bicara satu sama lain. Kita butuh pemimpin yang bisa mempersatukan. Nah saya mencoba ke spektrum yang satu, dan mas Anies ke spektrum yang lain. Dan kita mencoba menjembatani ini semua. Karena kalau tidak akhirnya kota kita akan terbelah, dan akhirnya menyatukannya sangatlah sulit. Itu yang selalu saya ingatkan.

Soal misi sebagai jembatan itu, apakah ini yang mendasari Anies Baswedan menemui pimpinan FPI Rizieq Shihab, walaupun para pengamnat menganggapnya sebagai blunder?

Pak Anies datang ke sana itu diundang FPI untuk mengklarifikasi beberapa isu yang sangat menganggu mereka, dan pada saat yang sama, saya diterima oleh Kongregasi lebih dari 40 pendeta, dan itu tidak diangkat sama-sekali. Kami memang melihat harus ada yang menjembatani. Haters itu sangat-sangat mudah terpicu kalau tidak ada komunikasi. Kita ingin adanya pengertian di antara kelompok masyarakat yang ada di spektrum yang berbeda.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga Uno diajak selfie oleh warga Jakarta di sela-sela kampanye, 9 Maret silam.

Anies punya kemampuan untuk bicara dengan siapapun. Dan bukan berarti kalau saya datang ke satu tempat kemudian saya menjadi pendukung atau didukung, belum tentu. Tapi berkomunikasiitu hal yang positif.

Orang-orang di sekitar Anda menyebut Anda menganut Islam moderat. Nah ketika Anda dikelilingi orang-orang atau kelompok yang digolongkan Islam garis keras, apakah Anda nyaman dalam situasi seperti itu?

Yang mendampingi saya dalam 18 bulan berkampanye, ada etnis Tionghoa. Namanya Antoni Leong. Jubir saya Antoni Leong. Saya tidak melihat ada orang-orang (Islam) garis keras di samping saya. Tapi saya mengerti ada sebagian orang menghembus-hembuskan isu itu.

Buat saya, saya sangat nyaman di dalam suasana apapun, karena saya menjunjung tinggi pluralisme dan menjunjung tinggi bahwa kita harus saling menghargai satu sama lain. Kita akhirnya sama-sama orang Indonesia, kita cinta damai, kita toleran, dan untuk itu saya sangat melihat bahwa Bhinneka Tunggal Ika dan keberagamaan kitu justru aset. Jadi sangat nyaman.

Jika Anda dan Anies memenangi Pilkada Jakarta, apakah ada semacam politik balas budi kepada orang-orang yang dinamakan kelompok Islam garis keras. Misalnya, jika mereka menuntut pemberlakuan Perda syariat, Anda dan Anies akan mendukungnya?

Ini salah-satu hoax. Perda syariat itu tidak pernah ada dalam platform kita, dalam rencana kerja kita. Saya harus bantah secara tegas pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab terus menghembes-hembuskan ini. Mereka ingin memecah-belah kita. Saya percaya ekonomi syariah akan berkembang secara luar biasa di Indonesia, karena ini ekonomi berbasis keadilan, tetapi bukan artinya akan ada peraturan daerah (perda) syariah. Enggak bisa begitu.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Sandiaga Uno bersama para penggemarnya, 17 Maret lalu

Kita lihat Bank Syariah, Bank Mualamat, Bank Syariah Mandiri. Dan ini sebuah keniscayaan di mana ada dua pemikiran di mana kewirausahaan itu adalah sebuah terobosan daripada prinsip ekonomi yang lebih berkeadilan. Dan ini ada di konsep-konsep ekonomi syariah. Kalau berkaitan dengan apa yang dihembus-hembuskan itu saya bisa bantah dari sekarang. Menurut saya, kalau orang yang mengenal saya sebagai orang moderat, komit terhadap NKRI, mereka sangat tercengang dan pasti tidak akan setuju. Karena itu jauh dari pribadi saya dan mas Anies. Mudah-mudahan dengan gerakan anti-hoax akan lebih menurunkan tensi politik.

Ketika belakangan muncul sejumlah proses dan gugatan hukum terhadap Anda, apakah ini menganggu proses kampanye Anda?

Saya harus tanggapi sebagai warga negara yang baik dan patuh terhadap hukum. Harus saya hadapi dengan segala konsekuensinya. Ini adalah konsekuensi kita menawarkan suatu perubahan. Dan begitu warga Jakarta melihat ada momentum yang kuat mendorong dan sekarang Anies-Andi sebagai alternatif kepemimpinan baru di Jakarta, ada pihak-pihak yang tentunya menggunakan kesempatan ini dengan motivasi yang berbeda-beda.

Hak atas foto Twitter Sandiaga Uno
Image caption Bersama warga Cakung, Jakarta, Sandiaga Uno mengkampanyekan program kerjanya.

Mungkin ada motivasi ingin menjatuhkan, ada motivasi ekonomi. Tapi kenapa tidak dulu-dulu? Apalagi ini kasusnya 10 atau 20 tahun lalu. Mengapa sekarang (dipermasalahkannya)? Tapi, ya, itulah, saya enggak boleh cengeng dengan isu ini, karena sudah diingatkan bahwa akan ada isu-isu yang muncul. Jadi akan kita hadapi dengan baik. Dan kami tahu, ini basisnya adalah politik. Dan tentunya kita akan hadapi dan kita pastikan bahwa proses hukumnya berlangsung dengan penuh transparansi dan jujur.

Berita terkait