Masih relevankah Kartini di mata kaum perempuan modern ini?

selebritis

Benarkah Kartini seorang feminis? Masih relevankah perjuangannya di masa sekarang ini? Itulah sejumlah pertanyaan yang kerap mencuat setiap peringatan hari kelahiran Kartini, 21 April.

BBC Indonesia menjumpai sejumlah selebritis dan pekerja seni yang terlibat dalam berbagai produksi terkait Kartini, dan meminta pendapat mereka soal pertanyaan tersebut.

Gita Gutawa

Hak atas foto Instagram Gitagut
Image caption Gita Gutawa dalam acara pembacaan surat-surat Kartini di Museum Bank mandiri.

Musisi Gita Gutawa menilai perjuangan Kartini "masih relevan" untuk dirayakan. Menurut Gita, pahlawan perempuan yang wafat pada usia 25 tahun di Rembang, Jawa Tengah itu, tidak hanya merupakan simbol emansipasi wanita, tetapi juga simbol harapan.

"Dulu dia punya pemikiran yang dianggap tabu dan tak mungkin terwujud, terkait pendidikan untuk perempuan. Tapi Kartini berusaha mendobrak yang tak mungkin itu, dengan cara yang unik yaitu menulis. Perjuangannya bukan fisik, tetapi tulisannya membuat isu perempuan di Indonesia tersorot, bahkan masih didiskusikan sampai sekarang."

Ketika penyanyi yang ikut mengisi soundtrack film terbaru Kartini ini ditanya apakah Kartini akan bangga melihat capaian perempuan Indonesia sekarang atau tidak, Gita menjawab "pasti senang, banyak sekali perbaikan dan kesempatan."

"Saya saja bisa sekolah ke luar negeri," tutur Gita yang meraih gelar Master dari London School of Economics and Political Science, LSE Inggris, saat masih berusia 22 tahun, pada 2015 lalu.

Christine Hakim

Image caption Christine Hakim di depan poster film Kartini.

Dalam film terbaru Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo, Christine Hakim berperan sebagai Ngasirah, ibunda Kartini. Kepada BBC Indonesia, aktris yang telah malang-melintang di dunia perfilman lebih 40 tahun itu menyatakan persepsinya tentang Kartini berubah sejak bergabung dalam pembuatan film berbiaya Rp12 miliar tersebut.

"Ternyata Kartini tidak hanya berjuang untuk emansipasi wanita, tetapi juga HAM. Pada zaman itu, Kartini juga sudah berikan komentar padangan tentang Islam radikal," tutur Christine.

"Intinya adalah Kartini barangkali sama dengan Tjokroaminoto, Hasyim Asy'ari. Bahkan seorang kiai besar, saat kembali pulang dari haji ke tanah Jawa, dia bergabung dengan nasionalis membangun NKRI. Aduh saya sampai merinding nih. Kartini juga (seperti itu semangatnya)."

Menurut Christine, sejarah seharusnya tidak hanya menjadi catatan belaka. Namun, juga harus dapat menjawab tantangan masa depan. "Dan kehidupan Kartini memberikan itu."

Robert Ronny

Image caption Produser film Kartini, Robert Ronny menyetujui Kartini adalah seorang feminis.

Yang menarik dari film Kartini adalah punggawa utama di balik layarnya adalah laki-laki. Bagus Bramanti menulis skenario film ini bersama Hanung Bramantyo yang duduk di bangku sutradara. Sementara Robert Ronny bertindak sebagai produser.

"Karena itu banyak yang bertanya, apakah film akan bisa menyampaikan feminisme dengan baik? Saya rasa iya, karena sebenarnya yang lebih perlu belajar feminisme itu adalah laki-laki. Karena feminisme ada karena adanya perlakuan tak seimbang laki-laki pada perempuan," cerita Robert Ronny.

Hak atas foto LEGACY PICTURES
Image caption Di balik layar film Kartini.

Ronny melanjutkan, dengan menjadi istri Bupati Rembang, Kartini bisa memenuhi mimpinya untuk membangun sekolah tidak hanya di Rembang, tetapi juga di tanah kelahirannya, Jepara. "Hal yang zaman itu dinilai amat radikal."

Putri Ayudya

Image caption Putri Ayudya (kiri) usai pementasan di Galeri Indonesia Kaya.

Bagi Putri Ayudya, aktris yang pernah bermain dalam film Guru Bangsa: Tjokroaminoto dan Bangkit!, sosok Kartini adalah "simbol dan kata kunci" bagi perempuan Indonesia yang berbuat lebih "dari yang sekedar dikodratkan".

"Zaman dulu, perempuan disebut hanya bisa mengurus dapur, sumur, kasur. Tapi Kartini membuat orang Indonesia memberikan kesempatan kepada perempuan untuk belajar, ke sekolah. Membuat bahwa perempuan pintar itu bukan hal yang masalah, tapi laki-laki jangan minder."

Perempuan peraih gelar Puteri Intelegensia Indonesia pada ajang pemilihan Puteri Indonesia 2011 itu mengaku cukup banyak lelaki yang 'minder' usai berbicara dengannya. "Aku tak suka orang melihat dari jauh, terus bilang, "aduh, kamu cantiknya," tetapi ketika sudah ngobrol lebih jauh soal berbagai hal; seni, politik, atau lingkungan, terus mereka urung, dan menjauh," lanjut Putri.

"Jadi, kita sama-sama punya otak dan hati. Nah, kolaborasi keduanya itu juga adalah kesempatan bagi perempuan juga, tidak hanya kesempatan bagi laki-laki," kata perempuan yang baru-baru ini tampil berperan di sebuah teater kecil terkait Kartini di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Kartika Jahja

Hak atas foto DOK. KARTIKA JAHJA
Image caption Kartika Jahja menyakini jika Kartini hidup saat ini, dia akan melawan pengekangan terhadap kebebasan berekspresi pada perempuan.

Dalam pagelaran 'Panggung Para perempuan Kartini', Selasa (11/04) lalu, musisi dan aktivis kesetaraan gender, Kartika Jahja menyanyikan sebuah lagu yang dibuat berdasarkan surat Kartini. Kepada BBC Indonesia, dia bercerita bahwa perjuangan Kartini 'senyawa' dengan apa yang sedang dialami perempuan Indonesia saat ini.

"Kartini bukan tipe perempuan yang menyerah begitu saja terhadap nilai-nilai yang mengekang perempuan. Kita sekarang kembali ke zaman di mana perempuan sulit bereskpresi, jadi banyak ketakutan untuk mengemukakan pendapat, masih banyak kekerasan pada perempuan, masih banyak perdagangan perempuan. Jika Kartini ada di zaman sekarang, dia akan berjuang melawan semua itu."

Kepada perempuan yang masuk dalam daftar "BBC 100 Women", daftar berisi 100 perempuan yang dianggap paling menginspirasi di seluruh dunia, BBC Indonesia bertanya apakah Kartini akan senang atau sedih melihat capaian dan kondisi perempuan Indonesia saat ini?

"Akan senang, karena meskipun di bawah tekanan terhadap kebhinnekaan, tekanan terhadap gender, mulai muncul banyak sekali inisiatif, aktivis muda yang menyuarakan dirinya, yang pasti akan bikin Kartini senang, kalau dia berada di sini."

Berita terkait