Sekolah elit AS Choate Rosemary Hall 'minta maaf' atas kekerasan seksual

Choate Rosemary Hall Hak atas foto WIKIMEDIA.ORG
Image caption Choate Rosemary Hall di Connecticut telah meminta maaf atas kekerasan seksual yang terjadi selama bertahun-tahun

Sedikitnya 12 siswa di sekolah asrama elit di AS mengalami kekerasan seksual setidaknya oleh 12 staf selama empat dekade, seperti disampaikan sebuah laporan.

Choate Rosemary Hall di Connecticut, mempublikasikan temuan dalam sebuah penyelidikan. Sekolah elit itu memiliki satu alumninya adalah mantan Presiden John F Kennedy, dan juga Ivanka Trump, putri presiden AS.

Laporan menyebutkan, tuduhan kekerasan mulai terjadi sejak 1960an di mana sekolah menanganinya secara internal.

Sekolah membenarkan temuan tersebut, dan menyatakan "Kami memohon maaf sedalam-dalamnya".

"Tingkah laku orang dewasa ini telah melanggar fondasi komunitas kami: kepercayaan sakral antara murid dan orang dijaga dengan kepedulian mereka," kata pihak sekolah.

Permintaan maaf dilakukan setelah sekolah berasrama itu disampaikan setelah sekolah itu meluncurkan investigasi independen terhadap catatan laporan mengenai "pelecehan seksual oleh orang dewasa terhadap sejumlah murid".

Laporan itu menyebutkan bahwa setelah meminta mereka untuk menyampaikan informasi yang terkait dengan tuduhan itu, penyelidik "menerima sejumlah telepon dan email".

Insiden yang paling awal tercatat terjadi pada 1960an, dengan pengurus fakultas di sekolah itu dituduh melakukan kekerasan terhadap sejumlah murid sampai 2010.

Jumlah insiden yang terbesar terjadi pada 1980an, menurut laporan tersebut.

Tidak ada laporan kejahatan seksual yang dilakukan oleh staf sekolah saat ini.

Dalam sebuah insiden yang dilaporkan terjadi pada 1999, seorang guru bahasa Spanyol dituduh memperkosa seorang siswi berusia 17 tahun di sebuah kolam renang dalam sebuah perjalanan sekolah ke luar negeri, jelas laporan tersebut.

Dalam beberapa kasus, sekolah menangani kasus tersebut secara internal daripada melaporkannya kepada polisi,"bergerak cepat dan tegas," kata laporan tersebut. Tetapi dalam kasus lain, sekolah "lambat merespons" dan mengizinkan staf yang dituduh tetapi "berada di sekolah dalam waktu tertentu".

"Banyak lulusan Choate yang melaporkan insiden kepada kami namun tidak memberitahukan orang dewasa mana di sekolah dan waktu insiden tersebut," jelas laporan itu.

Sekolah mengatakan sejumlah murid tidak melaporkan kekerasan karena mereka tidak menyadarinya atau tidak "ingin sekolah mengetahuinya".

Penyelidikan menemukan bahwa sekolah mengetahui bahwa anggota fakultas berkait dengan dalam "ciuman intim" dan "sentuhan intin" dengan murid laki-laki dan perempuan, tetapi insiden tersebut tidak dilaporkan kepada polisi.

"Investigasi kami kemudian menunjukkan bahwa ketika laporan pelecehan seksual dibuktikan oleh pejabat sekolah, masalah itu ditangani secara internal dan diam-diam.

"Bahkan ketika seorang guru diberhentikan atau mengundurkan diri di tengah tahun ajaran sekolah karena dia terkait dengan pelecehan seksual dengan seorang murid, pihak fakultas hanya sedikit dan kadang-kadang tidak menyampaikan alasan kepergian guru tersebut, dan jika diminta mereka memperingatkan untuk tidak mengatakan apa-apa tentang situasi tersebut.

Sekolah mengatakan merilis laporan investigasi untuk memenuhi "janjinya untuk berada di garis depan dari standar kepedulian untuk pencegahan dan penanganan pelecehan seksual oleg orang dewasa".

Berita terkait