Jadi gelandangan dan geng narkoba: Cerita anak-anak jalanan di kota Salvador

Joao Vitor
Image caption Joao Vitor memulai kehidupannya di jalanan saat usia 14 tahun.

Pada tahun 1937, Jorge Amado menerbitkan sebuah novel berjudul Capitães da Areia (Captains of the Sands, yang berkisah tentang sekelompok anak yatim piatu yang tinggal di jalanan Salvador, kota yang terletak di bagian timur-laut Brasil. Delapan puluh tahun kemudian, tak banyak perubahan: masih banyak ribuan anak serta remaja yang berkeliaran kota itu dan tidur di mana saja. Dan inilah cerita mereka yang dikisahkan kembali oleh David Baker.

Zeca (bukan nama sebenarnya) tidaklah merasa bangga akan masa lalunya. Remaja berkulit hitam, berperawakan tinggi, kurus, serta sedikit pemalu ini bergumam dan melihat ke bawah menatap kakinya saat berbicara tentang tahun-tahun yang ia habiskan selama hidup di jalanan kota Salvador.

Dengan suara yang terdengar serak dan lelah seperti seorang pria tua yang menanggung beban hidup, remaja berusia 17 tahun ini , menceritakan penyesalannya saat hidup bersama geng narkoba di kota itu.

"Saya melakukan begitu banyak jenis pekerjaan (dengan geng narkoba)," katanya, "perdagangan obat, mengemas narkoba, mencuri.." Lalu..., sejenak ia terdiam, dan menambahkan: "pembunuhan."

Ia tidak memerinci apa saja yang terjadi, namun ia menandaskan bahwa kehidupan sebagai anggota sebuah geng adalah membunuh atau dibunuh.

Saya datang ke kota Salvador untuk bertemu orang-orang seperti Zeca, karena buku yang diterbitkan 80 tahun lalu itu menjadi bacaan klasik bagi orang-orang Brasil.

Jorge Amado pengarang buku Capitães da Areia (Captains of the Sands) berkisah tentang sekelompok anak-anak yatim piatu dan remaja yang tinggal di gudang kosong di kawasan dermaga kota Salvador yang hidup dengan cara mengemis, mencuri dan merusuh.

"Berpakaian compang-camping, kotor, perut keroncongan, agresif, penuh sumpah-serapah, dan menghisap sisa-sisa puntung rokok, merekalah sebenarnya, penguasa kota ini," tulis Amado.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Banyak dari anak-anak itu yang datang dari keluarga berantakan. Setiap kali berada di jalanan, mereka menghadapi risiko dibawa oleh salah satu dari banyak geng narkoba yang menguasai wilayah kota Salvador.

Lewat bukunya, Amado ingin menunjukkan kebebasan dan keceriaan anak-anak yang saling menjaga satu sama lain dan berpetualang di jalan-jalan kota.

Namun, ia pun sekaligus ingin memperlihatkan penderitaan hidup mereka dan mempermalukan Brasil agar berbuat sesuatu terhadap ribuan anak-anak gelandangan yang dianggap oleh orang-orang kaya di sana tak ubahnya sebagai penyakit sampar.

Itu dulu. Tetapi kini pun masih ada beberapa geng anak-anak yang hidup di jalan-jalan kota, seperti yang disebutkan dalam buku Captains of the Sands.

Saya bertemu Zeca di tempat penampungan yang dikelola pemerintah yang mengambil anak-anak dan remaja dari jalan-jalan kota Salvador dan membantu mereka kembali ke kehidupan yang normal.

Sebagaimana halnya Zeca, banyak dari anak-anak itu yang datang dari keluarga berantakan. Dan boleh dikata, begitu berada di jalanan, mereka lamngsung menghadapi risiko dibawa oleh salah satu dari banyak geng narkoba yang menguasai wilayah yang merupakan kota terbesar ketiga di Brasil.

Saat Zeca menceritakan masa lalunya, matanya terlihat menerawang jauh, seolah-olah ada sesuatu yang telah mati dalam jiwanya.

"Itu masa-masa yang sangat keras," katanya. "Jika kita hidup di jalanan, kita harus menjadi jahat."

Kisah Zeca yang begitu mengguncangkan akan membuat kita mudah lupa bahwa ia hanyalah seorang anak.

"Saya terbiasa menghirup kokain dan mariyuana saat saya berusia 10 tahun,"ujar Zeca.

"Saya terbiasa menghisap banyak kokain. Dan pada suatu hari, ketika saya kehabisan kokain, saya pergi ke jalanan dan mulai menghisap sabu."

Lalu ia pun langsung menyadari betapa kerasnya hidup di jalanan Brasil.

"Waktu itu saya memiliki pisau, pistol, dan senjata sejenis, untuk membela diri," katanya.

"Saya hanya bisa tidur di pagi hari karena pada malam hari saya harus tetap terjaga. Begitu banyak bahaya di sekeliling saya, sewaktu-waktu orang bisa datang dan membunuh saya."

Lembaga swadaya masyarakat yang menangani hal ini mengungkapkan masih ada 3.500 orang yang hidup di jalanan kota Salvador, rata-rata berusia di bawah 25 tahun.

Dan di antara mereka, ada seorang pemuda yang ramah, cerdas dan kritis yang saya temui di sebuah alun-alun yang terletak di dermaga kota kota itu, namanya, Joao Vitor.

Joao Vitor, pemuda berusia 20 tahun dan berkulit hitam itu mengaku sangat nyaman dengan kehidupannya di jalanan. Ia sangat senang diajak berbicara dan langsung membereskan kasur busa bekas ia tidur lalu mempersilakan saya duduk dan berbincang dengannya.

Ia dibesarkan dan diurus oleh neneknya sejak usia delapan tahun, ia membantunya memasak dan menjual acaraje, jajanan terkenal dan klasik sejenis pangsit goreng khas kota Salvador. Tapi ketika ia berusia 14 tahun, neneknya jatuh sakit dan harus kembali ke desa dan hidup Joao Vito pun berujung di jalanan.

Image caption Lukisan dinding tentang anak-anak jalanan di Salvador.

Hidup di jalanan begitu keras, katanya, "saya harus tidur di jalan-jalan, harus makan makanan yang saya tidak suka, cemas akan ada orang lain yang mencoba menyerang, tapi seiring berjalannya waktu kita akan menjadi terbiasa".

Lantas, ia berujar, seperti para remaja lainnya dalam kisah Captains of the Sands, kita segera menemukan diri kita sudah menjadi anggota sebuah geng.

"Tak ada barang berharga di sini," katanya, sambil menunjukkan beberapa barang yang ia simpan di samping kasurnya. "Yang benar-benar saya hargai di sini adalah teman-teman saya. Mereka adalah keluarga saya."

Joao Vitor sudah terbebas dari geng narkoba dan ia merasa gembira bisa terlepas dari kelompok itu. "Narkoba menggerogoti diri kita sebagai seorang manusia," katanya.

Tapi jelas ia sudah mengalami berbagai tindak kekerasan. Bekas luka di lengannya dan sisi lehernya berasal dari serangan yang dilakukan orang dengan sebilah belati. Ia sudah juga menyaksikan polisi menyerang orang-orang yang tidur di jalanan.

Terjadi pula, katanya saling serang orang-orang miskin di jalanan terhadap satu sama lain.

"Kita akan melihat banyak zombie saling berkelahi demi sabu," katanya. "Ketika mereka punya uang, mereka senang karena semua orang adalah teman mereka. Tetapi, ketika mereka tidak memiliki uang, jangan coba-coba menyentuhnya, karena bisa menyebabkan perkelahian.

  1. Kerusuhan penjara Brasil tewaskan 56 orang, polisi kejar puluhan napi
  2. Tak dibayar, pekerja Brasil bentrok dengan pasukan anti huru hara
  3. Perang narkoba di Filipina: Perempuan yang membunuh para pengedar

Meski pengalamannya, sangat berbeda dengan Zeca. Ia mengaku lebih suka beradu pendapat ketimbang berkelahi secara fisik. Dan, ketika ia menikmati kebebasan jalan-jalan kota Salvador, ia sepenuhnya melihat dirinya sebagai seperti anak-anak dalam kisah Captains of the Sands.

"Saya adalah Kapten Pasir itu," katanya seraya tersenyum lebar. "Karena lihat saja kehidupan kita, bro. Satu-satunya yang tidak saya lakukan adalah mencuri. Tapi saya yakin, selama kita mencari tahu apa yang ada dalam hidup kita, maka kita akan merasakan sebuah petualangan dalam hidup."

Ia lalu berkemas mengambil barang-barangnya dan mengatakan akan menemui orang-orang yang ia kenal selama hidup di jalanan.

"Di sana ada teman-teman saya juga. Jika saya butuh apa-apa mereka akan menolong saya," katanya. "Ini adalah arti persahabatan. Ini adalah keluarga."

Baik Joao Vitor ataupun Zeca, mereka yakin dengan masa depan mereka - meskipun Zeca, yang berada di tempat penampungan, setidaknya sudah mengambil langkah untuk hengkang dari kehidupan di jalanan. Kedua anak laki-laki itu mengatakan mereka menjalani hidup normal suatu hari nanti.

Tapi, meski hidup mereka telah berubah, masih banyak ribuan anak muda seperti mereka yang tinggal di jalan-jalan kota Salvador sampai hari ini, dan negara bagian di Brasil ini hanya memiliki sumber daya yang minim (dan, sebagian orang akan mengatakan, sangat sedikit kemauan politik) untuk membantu mereka.

Jika kembali ke kota ituhari ini, sastrawan Jorge Amado akan tetap merasa perlu untuk mempermalukan negaranya agar bertindak.

Topik terkait

Berita terkait