Rahmah, perempuan Muslim Cina berjilbab yang diminta ke konsultan kejiwaan

Media playback tidak ada di perangkat Anda
Rahmah, seorang perempuan Muslim di Cina bercerita tentang diskriminasi yang ia hadapi.

Seorang perempuan Muslim di Cina, Rahmah, bercerita dia pernah diminta ke konsultan kejiwaan karena agamanya dan berkukuh untuk tetap memakai jilbab.

Lahir dari keluarga Muslim di Provinsi Qinhai, Rahmah mengatakan dia mengalami diskriminasi karena memakai jilbab namun kini dia berupaya agar perempuan Muslim di Cina berani mengangkat identitasnya.

Dalam percakapan dengan BBC, Rahmah mengatakan, "Saya akan tetap akan pakai jilbab dan tetap yakin pada agama saya. Saya perempuan Cina berjilbab."

Image caption Rahmah yang memiliki nama asli Ye Qingfang, mulai pakai jilbab pada usia 20 tahun.

Saat ini terdapat sekitar 23 juta pemeluk Islam di Cina dan mengenakan jilbab dianggap sebagian orang sebagai sesuatu yang tabu.

Ia mulai memakai jilbab saat berada di perguruan tinggi dan semakin menekuni Islam.

Image caption Ada yang meminta Rahmah untuk konsultasi ke psikolog.

"Di perguruan tinggi saya putuskan untuk memakai jilbab."

"Identitas Muslim membuat saya unik dan tidak biasa di Cina. Banyak orang yang salah mengerti dan berprasangka karena saya pakai jilbab," kata Rahmah.

"(Nama asli) Saya Ye Qingfang. Nama muslim saya Rahmah, artinya anugerah."

Konsultasi kejiwaan

Image caption Rahmah mendalami Islam saat di perguruan tinggi.

Saat menjalani ibadah, Rahman sempat ditanya dan diminta ke psikolog.

"Pada awalnya, orang tak mengerti saya. Mereka menyuruh saya ke konsultan kejiwaan. Mereka bertanya apakah saya dimanipulasi oleh kelompok-kelompok setan atau terkait dengan itu," katanya.

Ia sempat mengajar bahasa Cina di kota asalnya, Qinhai, namun pindah ke Beijing karena tidak bisa mengenakan penutup kepala.

"Sekolah tak mau guru yang memakai jilbab. Mereka merasa saya akan menjadi pengaruh buruk."

Image caption Pindah ke Beijing dan membuka usaha busaha Muslim.

Akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Beijing pada 2012 dan membuka usaha busana Muslim.

Rahmah mengatakan ingin mewakili perempuan Muslim Cina yang berani mengaangkat identitasnya.

"Saya ingin menjadi wajah jilbab di Cina, mewakili perempuan Muslim."

"Saya berharap perempuan Muslim percaya diri untuk memakai jilbab, dan tetap tenang dan elegan di tempat-tempat kerja," tambahnya.

Topik terkait

Berita terkait