Peran perempuan dalam sains: belajar dari Rusia

Rusia, perempuan, sains, Irina Khoroshko Hak atas foto Oleg Yakovlev
Image caption Irina Khoroshko mengatakan matematika selalu seperti 'gaib' baginya.

Irina Khoroshko dari Zelenograd di dekat Moskow, ibu kota Rusia, sudah belajar perkalian sejak berusia lima tahun.

Bakat istimewa anak perempuan ini -didorong keluarganya yang 'doyan matematika' serta guru perempuannya yang membuat setiap pelajaran jadi permainan untuk memecahkan masalah- membuat dia belajar matematika ekonomi di Plekhanov Russian University of Economics.

"Dosen saya menanamkan kepada saya kekuatan dari angka dan perhitungan, bagaimana hal itu memberi kemampuan untuk memprediksi sesuatu, jadi subjek yang dipelajari selalu terasa gaib."

Kini Irina -yang sudah berusia 26 tahun- bekerja sebagai ilmuwan data di perusahaan kredit keuangan internet, ID Finance, menikmati karier cemerlang dengan mengembangkan model-model analisis untuk menentukan kelayakan sebuah kredit.

Di Rusia, itu bukan cerita yang tidak biasa, seperti yang terjadi di banyak negara-negara lain dunia, termasuk negara-negara maju sekalipun.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Anak-anak perempuan yang tertarik pada teknologi dan sains merupakan soal biasa di Rusia.

Beberapa studi mengukuhkan terlalu sering dan cepat minat anak perempuan hilang untuk subjek STEM -sains, teknologi, teknik, matematika- dan tidak pernah muncul kembali.

Jadi hanya sedikit perempuan yang memilih untuk berkarier di bidang-bidang tersebut. Kenapa?

Sebuah studi yang dilakukan raksasa industri komputer, Microsoft, mungkin bisa memberi jawaban.

Berdasarkan wawancara dengan 11.500 anak perempuan di Eropa, studi menemukan bahwa ketertarikan mereka atas STEM anjlok pada usia 15 tahun karena stereotip jenis kelamin, sedikitnya panutan perempuan, tekanan dari teman bermain, serta kurangnya dorongan orang tua maupun guru.

Tidak demikian halnya di Rusia.

Hak atas foto Alina Bezuglova
Image caption Alina Bezuglova menjelaskan kemajuan ilmu pengetahuan merupakan prioritas nasional di era Uni Soviet.

Menurut UNESCO, tercatat 29% perempuan di seluruh dunia bekerja sebagai peneliti sains namun di Rusia mencapai 41%. Perbandingan lainnya, di Inggris hanya sekitar 4% perempuan penemu sementara di Rusia 15%.

Anak-anak perempuan di Rusia memandang STEM secara jauh lebih positif, dengan ketertarikan yang muncul lebih awal dan bertahan lebih lama pula, seperti dijelaskan Julian Lambertin, Direktur Pelaksana KRC Research, perusahaan yang melakukan wawancara untuk studi Microsoft.

"Sebagian besar anak perempuan yang kami wawancarai dari negara-negara lain, hanya sedikit yang melakukan pendekatan bermain dengan STEM, sedang di Rusia, bahkan anak yang masih kecil memusatkan perhatian pada kenyataan bahwa peluang pekerjaan di masa depan berakar dari subjek-subjek STEM.

Anak-anak perempuan Rusia menyebut dorongan dari orang tua dan panutan perempuan sebagai kuncinya, selain guru perempuan yang lebih banyak dari guru pria yang membuat kurikulum dipandang seimbang secara jenis kelamin.

Bukan hanya itu saja yang membedakan Rusia dengan negara-negara lain.

Hak atas foto Emeli Dral
Image caption Emeli Dral adalah asisten profesor di Moscow Institute of Physics and Technology.

Ketika Departemen Pendidikan Inggris mengajukan pertanyaan kepada para remaja Inggris dari berbagai golongan sosial ekonomi tentang pandangan mereka atas matematika dan fisika, maka lima kata bisa menyimpulkan 'citra'nya.

Kelima kata itu adalah: laki-laki, persamaan, membosankan, rumus, dan tidak relevan.

Stigma ini tidak ada di Rusia, kata Lambertin.

"Mereka keluar dari sana. Orang-orang diharapkan berprestasi baik dalam subjek-subjek tersebut terlepas dari jenis kelaminnya."

Pengalaman Alina Bezuglova juga bisa menjadi petunjuk lain.

Sebagai salah satu pimpinan di Tech London Advocates -organisasi yang menyambungkan bakat di Rusia dengan kesempatan kerja di Inggris- dia sering menggelar acara khusus teknologi untuk perempuan.

Hal yang jarang dilakukannya di Rusia.

"Anda bisa mengatakan karena kami mengabaikan persoalan itu atau tidak ada masalah sama kali dalam soal itu, dan saya jauh lebih cenderung untuk pemikiran yang belakangan," jelas Bezuglova

Dia menekankan bahwa dibandingkan dengan kawasan Eropa lain, Rusia tidak tertekan dalam 'masalah perempuan' di bidang teknologi dan sains.

Jejak perempuan Rusia di kedua bidang itu, tambahnya, bisa dilacak hingga ke zaman Uni Soviet dulu, ketika kemajuan ilmu pengetahuan menjadi prioritas nasional.

Sejalan dengan perkembangan lembaga-lembaga riset, pendidikan teknik juga dibuat tersedia untuk semua orang dan perempuan ikut didorong berkarier di bidang tersebut.

"Tidak pernah terlintas di benak saya ketika sekolah bahwa karena saya perempuan maka sebaiknya saya tidak memilih STEM, dan di tempat kerja saya tidak melihat banyak seksisme. Anda hanya dinilai berdasarkan kemampuan," tutur Bezuglova.

Hak atas foto RIA NOVOSTI/SCIENCE PHOTO LIBRARY
Image caption Dorongan dari orang tua dan panutan perempuan membuat anak-anak perempuan Rusia tertarik pada sains dan teknologi sejak dini.

Karakter bangsa Rusia -yang 'blak-blakan'- juga diperkirakan berperan karena perempuan Rusia menjadi lebih mudah untuk berbicara dalam lingkungan yang didominasi kaum pria.

Emeli Dral -asisten profesor di Moscow Institute of Physics and Technology- mengenang semangat itu ketika menjadi satu dari hanya dua perempuan yang masuk dalam kelompok matematika lanjutan di sekolahnya.

"Itu membuat kami (berdua) bahkan lebih bersaing dan lebih bertekad untuk membuktikan diri bahwa kami lebih baik dari anak laki-laki. Saya kira perempuan-perempuan Rusia cukup yakin sebagai minoritas, karena dukungan yang mereka dapatkan dari para orang tua sejak kecil."

"Saya tidak pernah tertanya-tanya kenapa saya tertarik pada matematika dan perteknikan, tapi amat alami."

Kisah Olga Reznikova, yang mengaku belajar STEM sendiri dan kini menjadi ahli perangkat lunak juga tidak banyak berbeda.

Tumbuh di sebuah kota kecil yang sebagian penduduknya bekerja sebagai penambang dan nelayan, dia mulai suka komputer ketika masih berusia empat tahun namun berjuang untuk mengembangkan kesukaannya itu sebagai karier.

Jadi dia belajar lewat internet untuk menguasai algoritme maupun membuat program dan mendapat uang dari membuat kode-kode untuk situs internet.

Namun karena khawatir akan terperangkap di 'bisnis IT kecil' dia berangkat ke kota besar St Petersburg demi belajar lebih lanjut dan akhirnya mendapat karier bagus.

"Ada masanya saya adalah satu-satunya perempuan yang membuat program komputer di perusahaan," kenangnya.

"Saya menghadapi beberapa masalah yang serius namun saya bertahan dan sekarang mendapat gaji 30% lebih tinggi."

Walau tentu saja ada masalah diskriminasi jenis kelamin di Rusia, dalam urusan sains dan teknologi Rusia tampaknya mendorong imajinasi anak-anak perempuannya.

"Membawa kreatifitas ke ruang kelas dengan langsung mengerjakan, penerapan praktis, dan penekanan relevansi subjek pada lapangan kerja, bisa menjadi langkah maju bagi negara-negara yang anak perempuannya amat terlepas (dari subjek STEM)," jelas Julian Lambertin.

Topik terkait

Berita terkait