Duka usai pria Thailand bunuh putrinya dan menyiarkannya di Facebook

thailand Hak atas foto Reuters
Image caption Jiranuch Trirat berdiri di samping foto mendiang putrinya.

Seorang pria Thailand menyiarkan dirinya sendiri tengah membunuh putrinya lewat Facebook Live dan kemudian menghabisi nyawanya sendiri, kata kepolisian Thailand.

Ayah berusia 21 itu menggantung putrinya yang masih bayi, dan kemudian menggantung diri sendiri di sebuah hotel yang tidak difungsikan lagi di Phuket pada Senin (24/04). Ia dilaporkan melakukan aksi itu setelah bertengkar dengan istrinya.

Sanak keluarga pria Thailand itu melihat rekaman gambar yang sangat menyedihkan dan kemudian memberitahu polisi. Namun pihak berwenang terlambat menyelamatkan nyawa kedua orang itu.

Rekaman gambar menunjukkan pria tersebut mengikatkan tali pada leher putrinya yang baru berusia 11 bulan, sebelum menjatuhkannya tubuh putrinya dari atap. Ia kemudian mengangkat jenazah putrinya.

Pembunuhan dan bunuh diri di Thailand yang disiarkan lewat Facebook Live tersebut banyak diberitakan oleh media di negara itu, dan menjadi viral di media sosial, lapor editor BBC Thailand, Nopporn Wong-Anan.

Ditambahkannya para pengguna media sosial menyatakan kemarahan tapi juga menyampaikan bela sungkawa kepada keluarga.

Hak atas foto Reuters
Image caption Hubungan Trirat dan suaminya, menurut berbagai laporan, kerap diwarnai kekerasan.

Konten dicabut

Anggota keluarga bayi, termasuk ibunya sendiri, mengambil jenazah anak dan ayahnya dari rumah sakit setempat pada Selasa (25/04).

Facebook mengirim pesan bela sungkawa kepada keluarga atas insiden itu dan mengatakan konten pembunuhan itu telah dicabut.

Hak atas foto Reuters
Image caption Facebook berusaha merampingkan proses kaji ulangnya.

Dalam pernyataannya, seorang juru bicara Facebook mengatakan, "Ini adalah insiden yang mengerikan dan rasa simpati kami berikan kepada keluarga korban. Sama sekali tidak ada tempat bagi konten seperti ini di Facebook dan konten itu sekarang sudah dicabut."

Facebook berjanji untuk mengkaji ulang proses untuk menangani konten-konten seperti itu setelah rekaman gambar pembunuhan di Amerika Serikat, yang terjadi kurang dari dua minggu sebelumnya, masih dapat diakses selama empat jam.

Menyusul peristiwa tersebut, Facebook mengatakan pihaknya "secara terus menerus mengeksplorasi cara-cara yang dapat ditawarkan teknologi baru untuk membantu memastikan Facebook sebagai lingkungan yang aman".

Tindakan pemerintah

Peristiwa pembunuhan yang disiarkan secara langsung melalui Facebook mendorong kepolisian Thailand untuk bertindak. Di masa mendatang, kepolisian akan berdiskusi dengan perusahaan-perusahaan media sosial, seperti Facebook, YouTube atau Instagram, guna menemukan cara mencabut suatu unggahan yang tidak patut dalam waktu cepat.

Selama ini, pemerintahan militer Thailand melakukan penyensoran terhadap ribuan situs, khususnya situs berisi tulisan atau video yang dinilai mengkritik keluarga kerajaan.

Saat peristiwa pembunuhan terjadi, Kementerian Informasi Digital dan Ekonomi mendesak penyedia layanan internet melakukan pemblokiran terhadap konten anti-monarki. Bahkan, pemerintah diyakini tengah berupaya menerapkan pintu tunggal di internet yang membuat publik Thailand tidak bisa mengakses konten-konten tersebut.

Akan tetapi, pemblokiran konten di Facebook amat berisiko. Pada 2014, ketika militer mengambil alih pemerintahan dan mencoba memblokir Facebook, publik Thailand sangat menentang langkah itu.

Hak atas foto Reuters
Image caption Steve Stephens mengunggah video pembunuhan terhadap Robert Godwin dan kemudian menggunakan Facebook Live untuk membicarakan pembunuhan itu.

Respons terhadap aksi kekerasan

Peristiwa pembunuhan terhadap bayi berusia 11 bulan oleh ayahnya sendiri juga menyoroti masalah kekerasan domestik dan angka bunuh diri di Thailand.

Departemen Kesehatan Mental Thailand melaporkan ada sekitar 350 aksi bunuh setiap bulan. Dari jumlah tersebut, pria yang menjadi korban empat kali lebih banyak ketimbang perempuan. Adapun hal yang mendorong terjadinya bunuh diri di kalangan pria adalah masalah asmara atau akibat dihina.

Departemen itu mengatakan konsumsi alkohol memainkan peranan besar dalam aksi bunuh diri di kalangan pria.

Akan tetapi, paparan terhadap adegan-adegan kekerasan saat menyaksikan berita di televisi juga berperan.

Topik terkait

Berita terkait