Pesawat ruang angkasa Cassini: penjelajahan terakhir untuk mengungkap Saturnus

cassini Hak atas foto NASA/JPL-CALTECH
Image caption Penjelajahan terakhir Cassini dalam 20 tahun misi wahana NASA.

Pesawat ruang angkasa Cassini melakukan penjelajahan pertama dari 22 kitaran antara Saturnus dan cincin-cincin spektakulernya, misi terakhir dalam 20 tahun .

Misi Badan Ruang Angkasa Amerika Serikat (NASA) ini mengitari planet Saturnus dengan menggunakan antena besar sebagai pelindung dari bebatuan dan pecahan es saat melakukan orbit dan merupakan wahana pertama yang masuk dalam planet besar.

Pesawat ruang angkasa ini bergerak cepat sehingga benturan dengan batuan kecil sekalipun dapat menimbulkan kerusakan besar.

Kitaran Cassini ini akan menghasilkan gambar-gambar dan data untuk memecah misteri planet sebelum hancur pada September mendatang dengan melebur di atmosfer Saturnus.

Perjalanan sulit antara Saturnus dan cincin-cincinya dilakukan dengan kecepatan lebih dari 110.000 kilometer per jam dan berlangsung pada Rabu (26/04) pukul 15:00 WIB.

Dosen astronomi Institut Teknologi Bandung, ITB, Evan Irawan Akbar mengatakan inilah untuk pertama kalinya satu wahana ruang angkasa masuk ke planet besar.

"Ini untuk pertama kalinya ada wahana yang masuk ke dalam planet yang besar, kita menyebutnya planet raksasa yang terbuat dari gas, Tentu kondisnya sangat beda dengan Bumi yang berupa planet batuan, dan ukurannya kecil, Jadi kita ingin tahu yang benar-benar terukur seperti apa," kata Evan kepada BBC Indonesia.

Evan mengatakan pengukuran yang selama ini dilakukan baru terbatas pada planet Mars, komet dan meteor.

"Bila kita pelajari Saturnus, bisa jadi sampel untuk mempelajari planet-planet lain yang ukuran besar, yang tidak mirip seperti Bumi, kira-kira apakah bisa dihuni atau tidak dan kondisinya seperti apa," tambah Evan.

Cassini dilengkapi dengan antena yang diarahkan berlawanan dari Bumi saat mulai pengitaran. Akibatnya, Cassini tak akan terdeteksi oleh kontak radio paling tidak 20 jam setelah kitaran pertama dan paling cepat dapat terdeteksi serta mulai melepas data baru pada Kamis (27/04) pukul 13:05 WIB.

Saturnus 'tersenyum'

Hak atas foto NASA/JPL-CALTECH
Image caption Orbit terakhir Cassini akan dilakukan sampai September sebelum hancur.

Mesin pencari Google merayakan momen ini dengan memasang animasi Google doodle dengan wahana ruang angkasa tengah memotret berbagai penjuru saat melewati Saturnus yang 'tersenyum.'

Bila penjelahaan berhasil, 21 putaran lain akan dilakukan dalam lima bulan ke depan sebelum Cassini dihancurkan. Bahan bakar yang tersisa tinggal sedikit dan Cassini tidak dapat melakukan misi lebih lama lagi.

NASA menyebut penjelahan di antara Saturnus dan cincin-cincinnya ini sebagai "grand finale" atau "final besar" karena ambisi mereka untuk mengeluarkan gambar-gambar dan data sains terkait sejarah pembentukan planet besar ini.

"Kita akan mengakhiri misi ini dengan melakukan pengukuran baru - sejumlah data baru yang mengagumkan," kata Athena Courtenis dari Paris Observatory di Meudon, Prancis.

"Kami memperkirakan akan mendapatkan komposisi, struktur dan dinamika atmosfer serta informasi fantastis tentang cincin-cincin."

Nama Cassini diambil dari astronom Italia-Prancis Giovanni Domenico Cassini yang menemukan empat satelit Saturnus dan memperhatikan adanya pembagian cincin-cincin Saturnus pada tahun 1675

Wahana ruang angkasa ini diluncurkan pada Oktober 1997 dan memasuki orbit Saturnus pada 1 Juli 2004.

Usia cincin-cincin Saturnus

Hak atas foto NASA/JPL-Caltech/Handout via REUTERS
Image caption Wahana Cassini di orbit Saturnus pada tahun 2015

Tujuan utama adalah menentukan ukuran massa dan juga umur cincin-cincin Saturnus. Semakin besar massa menunjukkan usia cincin, yang mungkin setua Saturnus itu sendiri.

"Sebelumnya, kami tidak dapat menentukan massa cincin-cincin karena Cassini terbang di luar arena cincin," kata Luciano Iess dari Universitas Sapienza, Roma, Italia.

Namun mengetahui ukuran massa tidak dapat segera mengetahui usia cincin, kata Nicolas Altobelli, ilmuwan di mitra NASA dalam misi ini, Europan Space Agency (EPA).

"Kita masih perlu mengetahui komposisi cincin. Cincin terdiri air murni, es. Bila usianya tua dan terbentuk pada saat yang bersamaan dengan Saturnus, mengapa cincin masih terlihat masih segar walaupun sering dibombardir materi meteor?" kata Altobelli.

Salah satu kemungkinan adalah cincin itu masih sangat muda, dan mungkin merupakan pecahan komet raksasa yang berada terlalu dekat dengan Saturnus dan terpecah-pecah.

Coustenis, Iess dan Altobelli membiarakan tentang fase terakhir misi Cassini di Wina dalam majelis umum European Geosciences Union, Persatuan Geofisika Eropa.

Topik terkait

Berita terkait