Hakim lindungi gigolo Jerman dari pengguna yang hamil

Jerman, Hak atas foto Getty Images
Image caption Perempuan penggugat ingin mendapatkan tunjangan keuangan bagi anak yang dilahirkannya.

Seorang perempuan yang hamil setelah berhubungan dengan pria pekerja seks komersial kalah dalam gugatan untuk menemukan ayah anaknya.

Hakim di Muenchen memutuskan hotel tempat mereka menghabiskan waktu bersama selama tiga malam di kota Halle, tidak harus memberikan nama pria itu kepadanya.

Berdasarkan vonis keputusan hakim, pria PSK tersebut memiliki hak pribadi yang lebih penting dibanding keinginan perempuan untuk mendapat dukungan keuangan bagi anaknya.

Perempuan itu -yang demi alasan hukum tidak disebut identitasnya- hanya mengenal pria bersangkutan sebagai Martin namun pada saat itu ada tiga nama Martin lainnya di dalam hotel.

Keempat pria yang bernama Martin tersebut -menurut hakim- memiliki hak untuk 'mengendalikan data pribadi serta melindungi perkawinan dan keluarganya'.

Hak atas foto SCIENCE PHOTO LIBRARY
Image caption Sperma dari Martin yang mana yang membuat hamil perempuan penggugat? (Gambar bukan sperma, namun buatan seniman grafis)

Perempuan penggugat mengaku dia hamil setelah berhubungan dengan 'Martin' di dalam sebuah kamar di lantai dua hotel. Anak 'mereka' saat ini sudah berusia tujuh tahun dan diberi nama Joel.

Namun hakim berpendapat kurangnya rincian tentang pria tersebut membawa risiko atas terungkapnya data-data pribadi secara acak.

Jika hotel harus mengungkap rincian keempat Martin yang berada di hotel, maka data ketiga Martin lain -yang tak ada urusan dengan perempuan penggugat- juga jadi diketahui umum.

"Dan tidak ada kepastian bahwa nama Kristen itu adalah nama dari pria yang dipertanyakan," menurut keputusan hakim.

Undang-undang kerahasian pribadi di Jerman merupakan yang paling ketat di Eropa.

Salah satunya alasannya adalah pengalaman sejarah karena di bawah rezim Nazi dan juga pemerintahan Jerman Timur terjadi pengawasan atas pribadi secara besar-besaran, yang tergolong pelanggaran hak asasi manusia serius.

Topik terkait

Berita terkait