Badai debu menyapu Beijing dan beberapa kawasan Cina lain

Beijing, Cina, polusi Hak atas foto Reuters
Image caption Gedung pencakar langit Beijing 'tersembunyi' di balik lapisan debu pada Kamis (04/05) pagi.

Badai debu menyapu sebagian besar kawasan Cina utara, termasuk ibu kota Beijing, yang mengangkat kembali memburuknya kualitas udara di negara itu.

Tingkat kualitas udara, Kamis (04/05, memperlihatkan angka yang jauh di atas batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia, WHO.

Pihak berwenang sudah menyarankan para penduduk untuk meghindari kegiatan di luar rumah sementara anak-anak dan kalangan lanjut usia diminta berada di dalam ruangan.

Debu berhembus dari negara tetangga Mongolia dan wilayah otonomi milik Cina, Mongolia Dalam.

Badan Lingkungan Beijing mengatakan pada pukul 11.00 waktu setempat, PM2,5 -yang mengukur polusi dalam bentuk partikel-partikel kecil yang bisa terhirup manusa- mencapai 500 mikrogram/m3.

Hak atas foto Reuters
Image caption Jarak pandang juga menjadi rendah akibat badai debu, yang berhembus dari Mongolia.

Angka yang jauh di atas batas aman 25 mikrogram/m3 yang ditetapkan WHO.

Pihak berwenang mengatakan Beijing akan mengalami kualitas udara yang buruk hingga malam hari dengan jarang pandang yang rendah pada siang hari. Belasan penerbangan sudah ditunda maupun dibatalkan.

Badai debu -dengan tingkat yang bervariasi- juga melanda kawasan yang luas di sebelah utara Cina, mulai dari Provinsi Zinjiang hinga ke Heilongjiang dengan Mongolia Dalam yang paling menderita.

Hak atas foto BEMC
Image caption Badan Lingkungan Beijing mengatakan pada pukul 11.00 waktu setempat, PM2,5 mencapai 500 mikrogram/m3, jauh di atas 25 mikrogram/m3 yang ditetapkan WHO.

Memburuknya polusi udara membuat beberapa warga mengungkapkan kemarahan lewat media sosial.

"Badai debu menghantam Beijing. Saya merasa semakin dekat dengan kanker paru-paru," tulis seseorang di Sina Weibo, layanan media sosial yang mirip dengan Twitter.

Warga yang lain membandingkannya dengan masalah asap -baik dari kendaraan bermotor, pabrik, maupun pembakaran batu bara untuk penghangat- yang sering melanda ibu kota itu.

"Saya sudah terbiasa dengan asap, saatnya untuk mencoba sesuatu yang baru. Jika saya harus memilih antara badai debu dan asap, saya lebih suka yang pertama," tutur pengguna Sina Weibo lainnya.

Dalam beberapa tahun belakangan, kualitas udara di Cina memburuk, khususnya pada musim dingin karena banyak warga di kawasan utara yang menggunakan batu bara sebagai penghangat ruangan.

Namun pada saat bersamaan, badai debu juag semakin sering karena kota-kota yang semakin berkembang ke gurun-gurun pasir yang pada gilirannya menyebarkan debu, yang didorong pula oleh perubahan iklim.

Hak atas foto EPA/WU HONG
Image caption Pihak berwenang sudah meminta agar para warga menghindari kegiatan di tempat terbuka.

Pihak berwenang sudah berupaya untuk mengatasinya, antara lain dengan menanam pohon-pohon, dan juga lewat kebijakan untuk mereformasi industri batu bara maupun penutupan pabrik-pabrik berpolusi tinggi.

Beijing untuk pertama kali mengeluarkan peringatan merah -yang merupakan tertinggi untuk kondisi polusi- pada tahun 2015 dan sejak itu peringatan ini sudah beberapa kali diumumkan.

Topik terkait

Berita terkait