Penambang perempuan yang menyamar jadi laki-laki dan dituduh memerkosa

Pili Hussein Hak atas foto UN WOMEN/DEEPIKA NATH

Pili Hussein ingin mengais rezeki dengan menambang satu jenis batu berharga yang dikatakan ribuan kali lebih langka dibandingkan berlian, tetapi karena perempuan dilarang bekerja di lokasi penambangan maka ia berpakaian seperti laki-laki dan berhasil mengelabui para pekerja laki-laki selama hampir 10 tahun.

Pili Hussein dibesarkan di keluarga besar di Tanzania. Putri seorang penjaga ternak yang mempunyai banyak lahan pertanian luas, ayah memiliki enam istri dan Pili adalah salah seorang dari 38 anaknya.

Meskipun kehidupannya sangat terurus dari berbagai aspek, ia tidak mengenang masa kecilnya dengan senang hati.

"Ayah memerlakukan saya seperti anak laki-laki dan saya diberi tugas mengurus ternak. Saya sama sekali tidak suka dengan kehidupan seperti itu," ujarnya.

Akan tetapi pernikahannya bahkan membuatnya bertambah tidak bahagia, dan pada usia 31 tahun Pili melarikan diri dari suaminya yang kasar.

Hak atas foto AFP
Image caption Penggembala Maasai pertama kali menemukan batu tanzanite pada 1967.

Dalam rangka mencari pekerjaan, ia sampai di Mererani, sebuah kota kecil di Tanzania. Kota itu terletak di kaki gunung paling tinggi di Benua Afrika, Kilimanjaro, satu-satunya tempat di dunia yang masih ada penambangan batu berharga biru-ungu langka yang disebut tanzanite.

"Saya tidak bersekolah, jadi tidak banyak pilihan bagi saya," kata Pili.

"Perempuan dilarang berada di kawasan tambang, jadi masuk ke lokasi dengan berani bagaikan seorang laki-laki, seperti seorang pria perkasa. Saya membawa celana panjang besar, memotongnya seperti celana pendek dan saya tampak bagaikan seorang laki-laki. Itulah yang saya lakukan."

Untuk menyempurnakan transformasi ini, ia juga mengubah namanya.

"Saya dipanggil Paman Hussein, saya tidak mengatakan kepada siapa pun bahwa nama saya yang sebenarnya adalah Pili. Bahkan sekarang jika Anda ke kamp, Anda mencari saya dengan nama itu, Paman Hussein."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penambang menggunakan pahat dan memasukkan pecahan batu ke kantong yang ditarik keluar dengan menggunakan tali.

Di dalam terowongan yang sempit, panas dan kotor -sebagian terowongan memiliki kedalaman ratusan meter- Pili bekerja selama 10-12 jam per hari, menggali dan menyaring dengan harapan menemukan batu-batu berharga di dalam pembuluh bebatuan grafit.

"Saya dapat turun sampai 600 meter ke dalam tambang. Saya melakukannya lebih berani di banyak banyak pekerja pria lain. Saya sangat kuat dan mampu melakukan apa yang diharapkan dari seorang laki-laki."

"Saya beraksi bagaikan gorila," kata Pili. "Saya bisa bertarung, menggunakan kata-kata kotor, saya dapat membawa pisau besar seperti ksatria Maasai. Tak seorang pun tahu saya adalah seorang perempuan sebab apa pun yang saya lakukan, saya lakukan seperti seorang laki-laki."

Hak atas foto UN WOMEN/DEEPIKA NATH
Image caption Pili Hussein sekarang mengoperasikan perusahaan tambang miliknya sendiri.

Dan setelah satu tahun, ia menemukan keberuntungannya dengan membongkar dua bongkahan besar batu tanzanite.

Dengan uang hasil penjualan batu itu, ia membangun rumah baru untuk ayahnya, ibunya dan saudara perempuan kembarannya. Ia juga membeli peralatan lebih banyak untuk dirinya sendiri dan mulai memekerjakan penambang.

Identitas terungkap

Penyamarannya begitu meyakinkan sampai kejadian luar biasa pada akhirnya membuka identitasnya yang sejati. Seorang perempuan setempat melaporkan ia diperkosa oleh beberapa penambang dan Pili ditangkap sebagai tersangka.

"Ketika polisi datang, para laki-laki yang melakukan pemerkosaan mengatakan, 'Inilah orang yang melakukannya,' dan saya kemudian dibawa ke kantor polisi," tutur Pili.

Ketika itu Pili tidak punya pilihan lain kecuali membeberkan rahasianya.

Ia meminta polisi mencari seorang perempuan untuk memeriksanya secara fisik guna membuktikan bahwa ia bukan pelaku pemerkosaan, dan tak lama kemudian ia dilepas.

Bahkan setelah kejadian itu, rekan sesama penambang tidak percaya mereka diperdaya dalam waktu begitu lama.

"Mereka bahkan tidak memercayai polisi ketika mereka mengatakan saya seorang perempuan," kata Pili, "tidak mudah bagi mereka menerima kenyataan itu sampai pada 2001 ketika saya menikah dan memulai kehidupan rumah tangga."

Dikatakannya untuk mencari seorang suami ketika semua orang sudah terbiasa mengenalnya sebagai laki-laki tidaklah mudah tetapi Pili pada akhirnya menemukan pasangannya.

"Pertanyaan yang selalu ada di benaknya adalah, 'Apakah ia benar-benar perempuan?'" ungkapnya.

"Ia perlu waktu lima tahun untuk lebih dekat dengan saya."

Pili sudah berhasil meniti karier dan sekarang mempunyai perusahaan tambang sendiri yang mempekerjakan 70 orang. Tiga di antara karyawannya adalah perempuan, tetapi mereka bekerja sebagai juru masak, bukan penambang.

Topik terkait

Berita terkait