Kondisi orang utan albino di Kalimantan ‘membaik’

orang utan Hak atas foto Yayasan BOS
Image caption Orang utan albino yang diselamatkan di Kalimantan Tengah pada 29 April lalu dinamai Alba.

Setelah selama dua pekan menjalani perawatan, orang utan albino yang diselamatkan di Kalimantan Tengah 'kondisinya berangsur membaik'.

Hewan yang diberi nama Alba—'putih' dalam bahasa Latin dan 'fajar dalam bahasa Spanyol—masih berada di fasilitas konservasi orang utan Yayasan BOS di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Hak atas foto Yayasan BOS
Image caption Alba ditempatkan di bawah pengawasan penuh dan diberikan perawatan intensif di Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah.

Alba diselamatkan pada 29 April lalu di Desa Tanggirang, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Tengah.

"Saat itu dia dalam kondisi menyedihkan. Dia mengalami stres, dehidrasi, lemah, menderita infeksi parasit, dan tidak menunjukkan nafsu makan yang sehat. Selama beberapa hari pertama tinggal di Pusat Reintroduksi Orang Utan kami di Nyaru Menteng, ia hanya mau makan tebu," kata Jamartin Sihite, direktur utama Yayasan BOS.

Menurut Fransiska Sulistyo selaku kepala dokter hewan Yayasan BOS, orang utan betina itu ditempatkan di bawah pengawasan penuh dan diberikan perawatan intensif. Kondisinya berangsur membaik, kata Fransiska. Bahkan, setelah dua pekan perawatan, berat badannya telah bertambah 4,5 kilogram.

"Selain kulit, yang paling menciri pada kasus albino adalah mata. Matanya berwarna biru. Dia merasa sangat tidak nyaman terhadap sinar matahari langsung, bahkan cenderung fotofobia—artinya takut pada sinar matahari," ujar Fransiska. kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.

Hak atas foto Yayasan BOS
Image caption Kondisi Alba, menurut Yayasan BOS, berangsur membaik setelah dua pekan perawatan. Berat badannya telah bertambah 4,5 kilogram.

Penampakan Alba yang albino, menurut Fransiska, menimbulkan dampak langsung maupun tidak langsung terhadapnya.

"Implikasinya lebih besar dari yang kita bayangkan. Kulitnya lebih rentan, lebih mudah terbakar, lebih mudah terkena kanker kulit. Lalu, karena orang utan seperti manusia dalam konteks sosial, kemungkinan dia tidak disukai jantan sehingga sulit berkembang biak. Kemudian, karena warna kulitnya, dia sulit bertahan hidup mengingat dia mudah ditemukan predator atau pemburu," papar Fransiska.

Lantaran kondisi langka dan uniknya, Yayasan BOS belum bisa memastikan apakah hendak terus merawatnya atau melepasliarkannya ke hutan sebagaimana dilakukan terhadap orang utan dewasa.

"Kami tidak bisa begitu saja menempatkannya di hutan atau di suaka, tanpa mempertimbangkan semua kemungkinan terlebih dulu. Sejauh ini kami masih belum bisa menemukan contoh dan perbandingan dari orangutan albino lainnya, dan kami perlu tahu lebih banyak mengenai kondisi uniknya. Kesejahteraan dan keamanan merupakan prioritas dalam pengambilan keputusan mengenai masa depannya," ujar Jamartin Sihite.

Kasus albino pada orang utan, menurut Jamartin, adalah yang pertama dalam pencatatan sejarah.

Hak atas foto Yayasan BOS
Image caption Yayasan BOS belum bisa memastikan apakah hendak terus merawat Alba atau melepasliarkannya ke hutan.

Berdasarkan data badan International Union for Conservation of Nature (IUCN), orang utan Kalimantan dikategorikan sebagai hewan yang "kritis terancam punah".

Populasinya turun lebih dari 60% antara tahun 1950 hingga 2010, karena pengrusakan habitat dan perburuan.

Jumlah orang utan diperkirakan akan mengalami penurunan lagi sebesar 22% antara tahun 2010 hingga 2025, kata IUCN.

Topik terkait

Berita terkait