Karmila: Joki perempuan 'pertama' di dunia tong setan Sumatra

Karmila Purba
Image caption Karmila sudah sejak masa kanak-kanak tertarik pada tong setan.

"Ayo, ayo! Sebentar lagi tong setan akan segera dimulai, bersama lima perempuan!"

Dengan menggunakan pengeras suara, penjual karcis di pasar malam Binjai, Sumatra Utara, membujuk orang-orang untuk menyaksikan atraksi tong setan, aksi bermotor unik dan mendebarkan jantung, yang kali ini didominasi para pengemudi perempuan.

Malam di akhir Mei lalu itu mendekati pukul 19:00 dan penonton mulai berdatangan untuk antre membeli karcis seharga Rp10.000.

Aksi ngebut bersepeda motor ini begitu unik: dilakukan di sepanjang dinding suatu ruang sempit yang bentuknya seperti tong raksasa -karenanya atraksi ini disebut Tong Setan. Dan berbeda dengan atraksi serupa di tempat lain, para joki, atau pemain tong setan kelompok ini kebanyakan adalah perempuan muda.

Salah seorang pengemudi atau joki yang dipromosikan penjaja tiket ini adalah Karmila Purba, remaja yang telah berkecimpung dalam aksi ini selama lebih dari lima tahun.

Untuk menyaksikan pertunjukan ini, para penonton harus terlebih dahulu mendaki sekitar 30 anak tangga.

Dengan lingkaran enam meter dan tingginya dari dasar empat meter, dinding tong raksasa ini membentuk sudut hampir tegak lurus. Sepertinya mustahil berkendara di dinding dengan sudut hampir 90 derajat itu. Namun itulah yang dilakukan Kamila dan kawan-kawannya.

Image caption Anak-anak muda menyaksikan aksi tong setan

Hiburan rakyat ini biasanya menetap di satu tempat selama satu atau dua minggu, sebelum pindah ke tempat lain di Sumatra, sebagai satu dari sejumlah wahana dalam pasar malam, termasuk kincir raksasa dan komedi putar.

Para pengunjung satu persatu memasuki ruang penonton di atas tong raksasa itu. Sementara di dasar tong, sejumlah teknisi memeriksa sepeda-sepeda motor yang akan digunakan. Khususnya ban dan rantai roda -yang harus selalu dalam kondisi prima untuk atraksi ini. Tangki bahan bakar juga diisi bensin yang dikucurkan dari bekas botol air mineral.

Penonton sudah berdiri berjejalan. Pertunjukkan siap dimulai.

Para joki menyalakan motor masing-masing -sebagain dengan susah payah. Ada tujuh orang yang berlaga: lima perempuan, termasuk Karmila, dan dua laki-laki.

Asap mengepul dari knalpot, suara mesin meraung raung. dan para joki tong setan itu pun melakukan aksinya satu per satu. Mereka mengemudikan motor menjelajahi dinding hampir tegak lurus itu berkeliling dalam putaran spiral, dari bawah hingga ke atas, dengan posisi menyamping, seakan melawan hukum gravitasi.

Hak atas foto EPA
Image caption Karmila Purba, beraksi di tong setan.

Mereka beraksi bergantian beratraksi selama masing-masing 15 menit. Pertunjukkan biasanya baru berakhir mendekati tengah malam.

Seakan mengemudikan motor mengelilingi dinding vertikal itu tak cukup berbahaya dan menegangkan, para joki itu menambah atraksi dengan sesekali mengemudi sambil berbaring, berdiri, mengangkat sebelah kaki, atau memindahkan kedua kaki di sisi yang sama.

Dan mereka semua melakukannya tanpa helm pelindung kepala, tanpa pengaman apa pun.

Penonton menahan nafas dalam ketegangan. dan ketika motor-motor itu kembali ke dasar, mengakhiri atraksi mereka, mereka menarik nafas lega dan tepuk tangan bergemuruh.

Image caption Para joki menunggu giliran yang turun di tong setan.

Bagaimana bisa mereka mengemudi seperti itu, tidakah mereka takut akan jatuh, misalnya?

"Yang kurasain takut emang ada juga takut," kata Karmila saat ditemui menjelang aksinya di pasar malam Binjai pertengahan Mei lalu.

"Cuma, kita kendalikan perasaan saja. Dan balik ke diri kita juga: kita hibur orang, ada perasaan senang bahwa orang terhibur. Dan waktu mereka tepuk tangan lihat atraksi kita, ya seneng lah."

Cuma Rp2.000

Sekitar 200 orang menyaksikan Karmila dan joki lain beraksi, banyak di antara mereka yang berteriak memberikan dukungan dan melempar uang atau dalam istilah di lingkungan pertunjukkan rakyat, 'saweran.'

"Saweran juga buat semangat untuk dapat penghasilan selain dari gaji. Jadi punya bonus buat sekedar uang jajan. Apalagi kalo yg nyawer Rp50.000, Rp100.000, langsung keluar semangat," cerita Karmila.

Ia berkisah, sebagai joki yang paling menyedihkannya adalah kalau motornya rusak.

Tapi yang lebih menyedihkan dari motor rusak adalah, "pengunjung yang main-main dengan saweran. Ada yang gak pikir kita mati-matian padahal dia cuma kasih Rp2.000, cuma sedih ya, perasaan itu gak bisa dikeluarkan... paling dipendam saja."

Image caption Karmila mengaku mendapatkan Rp6 juta setiap bulan belum termasuk tip penonton

Sejak kecil, perempuan asal Pematang Siantar ini sudah tertarik dengan motor dan aksi di tong ganjil ini.

"Dari dulu waktu kecil saya penasaran kok bisa sih ini motor mutar-mutar di dalam, apa sih rahasianya. Terus coba-coba dan murni mendapat skill (keterampilan) ini ya gara-gara penasaran."

Joki perempuan pertama di Sumatra

Penampilan Karmila, sebagai joki perempuan, termasuk salah satu yang menarik perhatian pengunjung.

"Karena balapnya menegangkan, dan ada juga cewek-ceweknya, jadi seru lah. Saya rasa, saya puas," kata Bima Akbar, salah seorang penonton di Binjai.

Image caption Menghitung tip yang diberikan penonton.

Risiko tinggi menjadi daya tarik sendiri, sehingga pertunjukkan begitu menegangkan, dan menarik perhatian penonton.

Karmila menyadarinya dan secara sadar menempuh risiko itu. Ia bermimpi bahwa berkat keterampilannya ini namanya dikenal di luar negeri.

Tora Palepi, pelatih para joki tong setan kelompok itu, memuji Karmila.

"Dialah perempuan pertama di Sumatra ini yang jadi joki tong setan, Aku juga bangga bisa mengajari wanita. Lama lama, jadi banyak wanita yang tertarik. Tidak semuanya bisa, tapi banyak yang benar-benar jadi joki" cerita Tora.

Image caption Dua joki perempuan lain.

Tora - yang dulu juga adalah joki tong setan, dan sebelumnya malah jadi penjual karcis juga mengakui risiko permainan ini. Namun menurutnya, pengamanan dengan memakai helm akan membuat para joki terganggu.

"Yang kuajarin ke orang itu pokoknya yakin aja, nyali tidak cukup... dia harus pandai bawa kereta (motor)," kata Tora.

"Jarak pandang jadi tidak luas kalau pakai helm, jadi terganggu, lah."

Ia menyebut, yang harus diperhatikan sekali adalah rantai roda dan ban.

"Risiko bahaya, itu kalo pas di atas, ban bocor, akan jatuh," tambahnya.

Orang tua menangis

Karmila mengaku tidak pernah punya hari libur. Ia mengambil jeda bila pindah ke pasar malam lain, dan ia beristirahat saat para petugas memasang fasilitas hiburan rakyat ini.

Ia mengatakan mendapatkan sekitar Rp6 juta setiap bulan di luar tip dari penonton.

Berbeda dengan Karmila yang mengaku sejak kecil tertarik atraksi ini, Nurul Husna perempuan lain yang baru bergabung dengan pasar-pasar malam di Sumatra Utara dalam dua bulan ini punya alasan berbeda. Ia mengaku menjadi joki merupakan pekerjaan yang terpaksa dia lakukan karena tidak memiliki pilihan lain.

Image caption Karmila sebelum beraksi di tong setan.

"Sebenarnya dari awal tak mau, cuma mau bantu orang tua... Kalau coba cari kerja yang lain udah aku coba tapi susah," kata Nurul.

Ia mengaku, untuk menjadi joki mengikuti jejak Karmila, ia tak terlalu lama belajar.

"Belajar paling seminggu dua minggu. Abis itu udah langsung main... Awalnya takut pasti. Tapi yang membuat berani adalah nyaliku sendiri, dan tekad buat bantu orang tua, demi ibuku," tandasnya.

"Pernah orang tuaku naik ke atas dia nangis lihat aku kerja kaya gini. Dia takut anaknya jatuh. Dia selalu bilang, berhenti kerja kayak gitu. Cuma gimana, hanya di sini aku dapat penghasilan yang bisa bantu keluarga," tambahnya.

Nurul mengatakan, selain gaji, mereka mendapatkan tip dari penonton yang mencapai sekitar Rp1 juta per pekan, yang dibagi rata.

Topik terkait

Berita terkait