Konser jazz di Masjid Cut Meutia 'jadi contoh dunia'

Glenn Fredly
Image caption Aksi panggung Glenn Fredly di Ramadan Jazz Festival 2017, Jumat (09/06)

Untuk ketujuh kalinya halaman Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, menjadi tuan rumah sebuah acara yang sangat jarang kita dengar digelar di lingkungan masjid, yaitu sebuah konser musik.

Sebuah panggung besar berdiri megah di halaman masjid. Lampu merah gemerlapan menerangi alat musik lengkap yang memenuhi panggung.

Ketika salat Tarawih selesai, halaman masjid yang semula ramai dengan jamaah, berubah disesaki ratusan anak muda. Musik jazz pun menghentak, ketika musisi mulai menunjukkan kelihaiannya di halaman masjid.

Itulah secuplik kemeriahan Ramadan Jazz Festival (RJF) 2017, yang digelar pada Jumat (09/06) dan Sabtu (10/06) ini. Festival musik yang diadakan Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) dan media pengupas isu jazz, WartaJazz, kali ini memasuki tahun ketujuh penyelenggaraannya.

Image caption Salat Tarawih dilaksanakan di halaman masjid, di dekat panggung sebelum konser dimulai.

Lalu mengapa konser ini digelar saat bulan Ramadan, di halaman masjid?

"Karena biar syiar Islamnya dapat," ungkap manajer proyek RJF, M Derisman Nugraha, kepada BBC Indonesia, Jumat (09/06).

"Mengajak orang-orang untuk kumpul di masjid, lewat musik. Tujuan intinya seperti itu, kita berdakwah via musik, dan berlokasi cukup nyentrik di halaman masjid," pungkasnya.

Image caption Konser jazz di halaman masjid diramaikan penonton berbagai usia.

Derisman mengakui, ada suara yang menilai bahwa Islam dan musik 'tidak dapat dicampurbaurkan'. Namun, dirinya mengklaim itu hanya masalah sudut pandang belaka.

"Musik itu ibarat pisau dua arah. Kalau kita kan menggunakan musik untuk kebaikan, mengumpulkan orang berkumpul di masjid (apa salahnya). Sebelum acara ini, kita juga bertarawih," katanya.

Untuk keberagaman

'Kebaikan' yang dimaksud Derisman disampaikan melalui tema 'Morality in Harmony', dengan menjunjung tinggi pluralisme.

"Kami ingin menanamkan nilai-nilai Pancasila itu sendiri," ujar Ketua RICMA, M Soekarno Hatta saat membuka acara. "Yang hadir, maupun pengisi acara, mau latar belakang suku, agamanya apapun boleh untuk (tampil dan) hadir di sini walau yang mengadakan adalah remaja masjid," tegasnya yang diiringi riuh tepuk tangan penonton.

Image caption Glenn menjadikan momen manggung di halaman masjid Cut Meutia ini untuk menyuarakan harapannya.

Dan itu terbukti dari penampil utama festival ini, Glenn Fredly musisi asal Maluku.

Ketika Glenn menaiki panggung, lantunan saksofon yang membawakan senandung Shalawat terdengar syahdu. Kombinasi yang jarang didengar, di tempat yang tak biasa pula.

Tentu Glenn mendapat tepuk tangan, sorak-sorai riuh dari penggemarnya. Namun, yang menarik adalah bagaimana Glenn menggunakan kesempatan langka bermusik di halaman masjid itu untuk menyuarakan harapannya.

Image caption Tari Saman dari Aceh membuka acara.

Di antara lagu, dia mengisahkan pengalamannya hidup di Ambon pada 1999 hingga 2004, saat terjadi konflik komunal. "Agama bisa dipolitisasi, (membuat orang) melakukan hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya," kata Glenn.

Dia kemudian merujuk pada konflik bernuansa SARA yang belakangan terjadi di Indonesia. "Kami pernah melewatinya (di Maluku), kami harus kehilangan begitu banyak sanak-saudara. Kami telah melewati hal yang paling gelap dari kehidupan persaudaraan antar umat beragama."

Hak atas foto AFP
Image caption Glenn meminta penonton untuk merefleksikan apa yang pernah terjadi di Ambon.

Dan Glenn meminta penonton untuk berkaca kepada apa yang telah terjadi, agar tidak terulang kembali.

"Kami tak mau lagi dipecah belah, dipolitisasi karena agama," tegasnya.

Contoh untuk dunia

Di antara penonton yang hadir adalah Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik. Dia berkali-kali meninggalkan tempat duduknya di kursi VIP, agar bisa berdiri lebih dekat ke panggung, menikmati musik Glenn.

"Ini acara yang istimewa," tutur Moazzam. "Saya belum pernah berkunjung ke festival jazz, di seluruh dunia, yang diselenggarakan di lingkungan masjid."

Menurutnya acara seperti ini bisa menjadi inspirasi "gaya hidup modern dan maju bahwa remaja muslim bisa menikmati musik selama bulan puasa, tetapi bisa menikmati suasana suci juga."

Moazzam, yang merupakan duta besar Inggris untuk Indonesia pertama yang muslim, bercerita, saat berkunjung ke sejumlah masjid di Birmingham dan Radford, Inggris beberapa waktu lalu, dia menceritakan acara Ramadan Jazz Festival ini kepada imam masjid dan remaja muslim di sana.

Image caption Pengunjung masuk dengan membayarkan donasi.

"Dan di sana banyak yang jadinya bertanya pada saya, jadi tanya jawab... Karena di Inggris sendiri remaja berjuang untuk menemukan gaya hidup yang modern, yang juga bisa disesuaikan dengan keperluan agama. Ini contoh yang baik, bagi seluruh dunia."

Penonton lain juga merasakan 'inspirasi' itu. Khususnya dari metode tiket masuk dengan cara berdonasi; Rp30 ribu untuk alat tulis, Rp50 ribu untuk perlengkapan sekolah, atau Rp100 ribu bagi seragam sekolah. Penonton juga boleh masuk dengan menyumbangkan barang, misalnya buku.

Image caption Selain donasi uang, pengunjung juga bisa memberikan barang seperti buku.

"Dengan acara kayak gini, banyak orang yang terbantu. Jadi, kita nggak cuma senang-senang aja dengar jazz," kata salah satu penonton, Adit.

"Lebih membantu orang yang miskin atau membutuhkan dengan cara seperti ini, daripada memberikan uang," tutur Adea yang menyumbangkan buku.

Donasi, menurut manajer acara, Derisman, akan digunakan untuk membantu renovasi sebuah sekolah di Balaraja, Kabupaten Tangerang.

Topik terkait

Berita terkait