Berebut berkah nasi tumpeng dari kirab Malam Selikuran di Solo

kirab Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Gunungan nasi tumpeng yang dibawa para abdi dalem keraton.

Keraton Solo menjalani tradisi kirab Malam Selikuran untuk menyambut datang malam penuh berkah Lailatul Qadr. Sebagai simbol syukur, kirab mengusung 1.000 tumpeng. Bagi sebagian warga tumpeng dari kirab ini diyakini membawa berkah.

Derap langkah prajurit dengan iringan suara drum band terdengar saat kirab dimulai. Mengambil start di Keraton Surakarta, kirab akan berakhir di Joglo Sriwedari sejauh tiga kilometer.

Barisan pertama dari kirab itu adalah para pemain drum band. Selanjutnya berurutan sekumpulan prajurit, kerabat keraton, dan disusul para abdi dalem yang menyunggi ancak cantaka sebagai wadah dari 1.000 nasi tumpeng.

Di belakang pembawa tumpeng, terdapat iring-iringan abdi dalem yang membawa lampion serta lampu ting sebagai salah satu simbol cahaya seribu bulan. Tak ketinggalan barisan abdi dalem yang membawa perangkat gamelan yang juga ditabuh. Tetabuhan gamelan ini seirama dengan lantunan salawat dengan diiringi rebana.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Para pemain drum band adalah barisan pertama dalam kirab malam di Solo.
Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Para penabuh gendang memukul instrumen tersebut seraya melantunkan shalawat.
Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Lampion dan lampu ting dibawa para abdi dalem keraton.

Kirab menyusuri jalan protokol. Sepanjang rute itu warga terlihat berjajar menonton iring-iringan kirab. Tak hanya itu, para pengendara kendaraan baik roda dua maupun roda empat ikut mengabadikan tradisi yang sudah turun temurun ini.

Sekitar satu jam, kirab sampai di Joglo Sriwedari. Lantas tumpeng ini diserahterimakan dari pihak keraton kepada ulama keraton untuk keperluan didoakan. Begitu selesai didoakan, warga dan abdi dalem berebut untuk mendapatkan nasi tumpeng yang dianggap oleh sebagian abdi dalem memiliki tuah. Hanya dalam hitungan lima menit, seribu nasi tumpeng itu ludes.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Sebanyak 1.000 porsi nasi tumpeng siap dirayah.
Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Rayan nasi tumpeng pada puncak acara.

Salah satu abdi dalem dari Klaten, Marinem, mengaku senang setelah mendapatkan rayahan dua nasi tumpeng yang dibungkus di dalam plastik. Bungkusan itu terdiri dari nasi gurih, telur puyuh, kedelai hitam, cabai hijau, mentimun dan lainnya. "Satu dimakan di sini, satu dibawa pulang biar dimakan anak-anak," kata dia kepada wartawan di Solo, Fajar Sodiq.

Ia pun meyakini jika nasi tumpeng pada kirab Malam Selikuran memiliki tuah. Marinem berharap dengan menyantap nasi tersebut bisa diberi keselamatan, keberkahan, sehat dan umur panjang.‎ "Ya, kami percaya jika nasi ini berkahi," ucapnya.

Hak atas foto Fajar Sodiq
Image caption Dua abdi dalem keraton menerima tumpeng.

Hal serupa juga dialami Suminar, warga Mojogedang, Kabupaten, Karanganyar, Jawa Tengah. Dalam rayahan itu ia mendapatkan tiga bungkus nasi tumpeng. "Ini nanti dibawa pulang, untuk dimakan bersama keluarga. Semoga nasi tumpeng ini membawa berkah, keselamatan dan panjang umur, " jelas dia.

Sementara itu, Humas Keraton Solo, KP Bambang Pradotonagoro mengatakan kirab malam selikuran memiliki makna bahwa kegiatan ini digelar untuk menyambut malam seribu bulan dalam lailatul qadr. Acara ini telah dilakukan secara turun temurun di Keraton Solo setiap datangnya malam kedua puluh satu dalam bulan Ramadan.

Berita terkait