Bulan puasa dan pengajian para TKI di Hong Kong

pengajian TKI hong kong Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Makanan khas Indonesia menjadi sajian khusus acara-acara seperti ini.

Hari Minggu di Hong Kong, adalah hari para pekerja rumah tangga: ratusan ribu, kebanyakan perempuan asal Filipina dan Indonesia, memenuhi beberapa bagian kota, menggunakan hari libur mereka.

Sejumlah jalan di beberapa kawasan ditutup untuk digunakan sebagai tempat santai para pekerja migran asal Filipina: mereka bahkan memasang tenda-tenda kecil di jalanan, atau di lorong-lorong sekitar stasiun, untuk berleha-leha dengan mendapat sedikit ruang pribadi, serta terlindung dari terik cahaya matahari.

Suasana Hong Kong agak lain hari itu.

Di stasiun-stasiun dan kererta-kereta MTR (Mass Transit Railway) atau dalam bahasa Kanton, Jyutping, diwarnai kelompok-kelompok perempuan berjilbab. Sebagian mengenakan jilbab dan pakaian seragam.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Masjid Kowloon di Hong Kong

Sebagian besar dari mereka kemudian bertemu di Masjid Jami Kowloon, di Tsim Sha Tsui, untuk menghadiri sebuah pengajian yang diselenggarakan Majelis Dzikir Ilham, salah satu dari majelis dzikir para buruh Indonesia yang tergabung dalam Buruh Migran Indonesia (BMI).

"Ruangan di masjid Kowloon ini kami sewa dengan harga $HK4000, dari jam 08.00 hingga pukul 15.30," kata Nur Istiqomah, ketua MDz Ilham yang didirikan tahun 2008 ini.

Nuris, sudah bekerja di Hongkong sejak tahun 2001, tampak sibuk sekali sepanjang hari itu.

Ia tampil di panggung, berkomunikasi dengan hadirin, menyampaikan sejumlah pengumuman, khususnya tentang acara-acara sepanjang ramadhan, menyemangati mereka, juga mempromosikan dagangan tertentu untuk majelis yang dipimpinnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Nuris alias Nur Istiqomah, memimpin MDz Ilham Hong Kong sejak tahun 2008.

"Ini wadah silaturahmi para buruh migran di Hong Kong, yang datang dari berbagai tempat di tanah air," kata Nur Istiqomah, yang biasa dipanggil Nuris.

Ia menegaskan, MDz Ilham yang didirikan tahun 2008, diusahakan untuk memperkuat komunikasi di antara para buruh migran Indonesia yang kebanyakan Muslim, dengan acara-acara pengajian dengan sesekali mendatangkan para dai dari Indonesia, yang tentu tidak murah biayanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ruangan di masjid Kowloon ini disewa sekitar Rp 7 juta, dan hadirin iuran sekitar Rp100.000.

"Biaya untuk mendatangkan dai, juga untuk sewa ruangan, kami patungan. Para anggota iuran masing-masing $HK60 (sekitar Rp100.000), dan kalau ada kelebihan, digunakan untuk kegiatan lain. Termasuk juga menyumbang ke kegiatan di kampung," kata Nuris.

Ia menjelaskan, dana yang dikumpulkan dari beberapa ribu anggota MDz Ilham itu antara lain berbuah pembangunan mushala, rumah yatim, dan sebaginya di beberapa kampung di Indonesia.

Sepanjang Ramadhan ini, kata Nuris, mereka bergabung bersama Posmih, Perhimpunan Organisasi Muslim Indonesia Hongkong, menyelenggarakan Pondok Ramadhan.

"Untuk Pondok Ramadhan ini, kami mendatangkan Ustad Ahmad Nasruddin Latief, MA, dosen universitas Paramadina Jakarta, lulusan Al-Azhar, selama sebulan penuh, yaitu selama Ramadhan hingga Iedul Fitri," kata Sekretaris Posmih, Supiyati.

"Jadi lembaga-lembaga yang anggota Posmih bisa mengajukan permintaan untuk menghadirkan Ustad Ahmad Nasruddin Latief kepada kami, apakah menjadi imam atau memberikan ceramah, selama Ramadan. Kami mengatur jadwalnya," kata Supiyati pula.

Disebutkan, mereka juga bekerja sama dengan lembaga umat Islam di Hong Kong, Islamic Union Hong Kong.

Hak atas foto POSMIH
Image caption Sekretaris dan Ketua Posmih: Supiyati dan Suwarno

Suwarno, Ketua Posmih yang bekerja di Hong Kong sebagai pengemudi, menjelaskan bahwa anggota Posmih mencapai sekitar 100an organisasi.

"Jadi para pekerja migran Indonesia di sini kan membentuk bermacam organisasi, lembaga, majelis taklim. Mereka punya kegiatan masing-masing, di beberapa tempat. Nah, Posmih itu didirikan untuk wadah silaturahmi antara organisasi-organisasi itu, biar ada komunikasi, biar bersatu," kata Suwarno pula.

Hak atas foto POSMIH
Image caption Salah satu acara Pondok Ramadhan yang digelar Posmih

Bagaimana dengan kabar, bahwa kalangan intoleran garis keras, ekstremis, radikal, berusaha menyusup ke kalangan TKI Hongkong, bahkan berusaha merekrut mereka?

"Kami memang mendengar soal itu. Walaupun belum pernah melihatnya sendiri. Tapi Posmih, dan organisasi-organisasi anggotanya, justru kegiatannya itu untuk membentengi warga Indonesia di sini dari pengaruh yang seperti itu," kata Supiyati.

Suwarno menegaskan apa yang banyak dibicarakan orang setiap kali ada pembahasan tentang radikalisme: "Pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah di sini, diarahkan untuk menunjukkan bahwa Islam itu bukan agama kekerasan, tapi rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam."

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Farah, merasa wajib untuk turut mewaspadai pengaruh intoleransi dan ektremisme.

Shalawat

Siang itu masjid terbesar Hong Kong berkapasitas 3500 orang yang didirikan tahun 1984 itu memancarkan suasana yang unik.

Di beberapa sudut, sejumlah orang membuka bekal masing-masing, untuk sarapan -hari itu Ramadhan belum tiba.

Shalawatan khas terdengar dari sekitar 1000 umat, dipandu empat orang yang duduk di mimbar.

Salah satu yang memandu shalawat adalah Farah. Ia belum lama berada di Hongkong, bekerja di sebuah organisasi internasional.

"Saya langsung aktif di pengajian-pengajian ini. Selain karena dari dulu sejak di Indonesia, aktif, juga ingin membantu kawan-kawan di sini, menghindari agar tidak terpengaruh oleh yang radikal-radikal itu," katanya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Ceramah kecil di sebuah sudut di Victoria Park.

Lain halnya Ning dan Sulis, pekerja dari Jawa Tengah, yang baru delapan bulan berada di Hong Kong. Mereka menjadikan pengajian ini sebagai tempat untuk bertemu sesama orang Indonesia.

"Jadi kalau libur hari Minggu begini, ya saya ke Masjid Kowloon ini, atau ke Victoria Park," kata Ning. Victoria Park adalah lapangan luas, yang setiap hari Minggu dijejali TKI asal Indonesia yang memanfaatkan hari libur mereka secara murah meriah.

"Kadang di Victoria Park, bisa untuk santai-santai saja, tapi ada ceramah juga, pake ustad," kata Sulis.

Victoria Park adalah lapangan seluas 19 hektar di Hongkong, yang setiap hari Minggu bagai berupbah jadi lapangan orang Indonesia.

Di tengah lapangan, di berbagai sudut, di jalur-jalur lintasan pejalan kaki, para buruh Indonesia berkelompok dengan kegiatan masing-masing. Ada yang duduk-duduk santai, menikmati makanan, berbaring, bermain musik, bernyanyi, berjoget dengan menyetel musik dari perangkat elektronik, sekadar tiduran, bersenda gurau.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Sebuah kelompok migran Islam menyelenggarakan acara di Victoria Park.

Ada juga yang melangsungkan acara serius. Seperti ceramah agama di sudut-sudut tertentu, dengan hadirin 20-30 orang. Atau acara sedikit lebih besar, dengan hadirin 100an orang,

Di bulan Ramadhan ini, kata Nuris dari MDz Ilham, setiap hari Minggu dilakukan juga ceramah dan tarawih di salah satu sudut Victoria Park.

"Kami minta Ustad dari Posmih (Ustad Ahmad Nasruddin Latief yang didatangkan Posmih dari Jakarta), untuk ceramah dan tarawih. Bahkan kalaupun hujan, kami tetap melakukannya. Kami siapkan payung juga," kata Nuris yang selalu tampak ceria itu.

Berita terkait