Hunian 400 orang tersembunyi di bawah apartemen mewah Beijing

beijing Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Tersembunyi di ruang bawah tanah, kamar-kamar kontrakan untuk kaum buruh di Beijng.

Baru-baru ini stasiun radio pemerintah Cina menyoroti keberadaan kamar-kamar kontrakan tanpa jendela di ruang bawah tanah sebuah kompleks apartemen mewah di Beijing yang menampung sekitar 400 orang.

Kamar-kamar yang hanya memiliki satu pintu darurat itu berada di Julong Gardens, sebuah kawasan di timur laut Beijing yang dihuni para ekspatriat kaya.

Publik Cina menjuluki para penghuni kamar-kamar itu dengan sebutan shuzu—atau suku tikus—karena tinggal di bawah tanah. Di Beijing, diperkirakan sebanyak satu juta orang menghuni kamar yang dibangun pada era 1970-an dan 1980-an sebagai bunker dan tempat perlindungan dari ancaman bom.

Keberadaan kamar-kamar itu baru diketahui setelah para penghuni apartemen mewah di kompleks Julong Gardens curiga saat banyak wajah-wajah tak dikenal lalu-lalang di sekitar kediaman mereka.

Akhirnya mereka mengetahui bahwa ada kamar-kamar tanpa jendela di balik salah satu pintu di ruang bawah tanah salah satu menara apartemen.

Buruh migran

Di ruang bawah tanah itu, bunker yang luas disekat-sekat menjadi beragam kamar, seperti kamar tidur, dapur, hingga ruang khusus merokok.

Sebagaimana dilaporkan stasiun Radio Nasional Cina, para penghuninya adalah para buruh migran yang taraf hidupnya berbeda langit dan bumi dengan orang-orang yang tinggal di atas mereka.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Kamar-kamar kontrakan di ruang bawah tanah berukuran kecil dan tanpa jendela.

Belum terang apakah kamar di bawah tanah itu sah secara hukum. Saat ini aparat tengah melancarkan penyelidikan. Radio Nasional Cina menyebutkan ruang bawah tanah sejatinya dimiliki pemerintah daerah, namun sepertinya disewakan lagi.

Aparat Cina dulu mendorong penggunaan ruangan bawah tanah untuk hunian dan kepentingan lainnya. Namun, beberapa tahun terakhir, aparat menggelar razia dan berhenti mengeluarkan izin tinggal karena hunian seperti itu menimbulkan ancaman keselamatan.

Pada 2015 saja, aparat menggelar razia besar-besaran sehingga lebih dari 120.000 shuzu digusur karena alasan keamanan.

Biaya terus naik

Hunian bawah tanah dipilih buruh migran dan mahasiswa karena biaya sewanya hanya mencapai sekitar US$20 atau Rp265.000 per bulan.

Sebaliknya, harga sewa apartemen di Beijing terus melesat. Sebuah survei menemukan rata-rata harga sewa bulanan sebuah apartemen di Beijing mencapai 4.550 RMB atau Rp8,8 juta, naik 60% dari 2010.

Di jaringan media sosial Sina Weibo, kasus Julong Gardens memicu beragam reaksi dari netizen.

"Mengapa datang ke Beijing untuk menjadi terhimpit seperti ini? Saya benar-benar tidak paham," tulis seorang pengguna.

"Beijing menyambut Anda (tapi silakan keluar jika Anda tidak punya uang)," cetus pengguna lain dengan nada sarkasme.

Topik terkait

Berita terkait