El Al dilarang minta perempuan pindah kursi demi pria Yahudi Ortodoks

Israel, El Al Hak atas foto Reuters
Image caption El Al diminta membuat petunjuk tertulis kepada awaknya bahwa permintaan untuk pindah karena alasan jenis kelamin tergolong melanggar hukum.

Pengadilan di Israel melarang maskapai penerbangan El Al meminta penumpang perempuan pindah tempat duduk jika pria Yahudi Ortodoks menolak duduk di samping perempuan.

Kasus ini diajukan seorang perempuan berusia 83 tahun, Renee Rabinowitz, yang selamat dari holokaus atau pembunuhan masal umat Yahudi oleh Nazi Jerman pada pertengahan 1940-an.

Tahun 2015, dia diminta pindah dari kursi kelas bisnisnya dalam penerbangan El Al karena seorang pria Yahudi Ortodoks tak mau duduk di samping perempuan.

Kaum Yahudi Ortodoks yang kolot menerapkan pemisahan tegas antara pria dan perempuan.

Pengadilan juga memutuskan Rabinowitz mendapat ganti rugi sebesar US$1.800 atau sekitar Rp23 juta.

Kasus yang menimpa Rabinowitz terjadi ketika awak kabin El Al di bandara Newark, Tel Aviv, meminta dia pindah demi seorang pria Yahudi Ortodoks, menurut Pusat Aksi Agama Israel, IRAC.

Hak atas foto EPA/ATEF SAFADI
Image caption Kaum Yahudi Ortodoks yang kolot menerapkan pemisahan tegas antara pria dan perempuan.

Rabinowitz -menurut IRAC, yang mewakilinya di pengadilan- kemudian bersedia pindah namun merasa dipermalukan dan memutuskan untuk menggugat El Al.

"Saya merasa senang dengan fakta bahwa (El Al) kini diminta untuk mengatakan kepada haredim (ultra-Ortodoks) yang ingin perempuan pindah bahwa itu tidak bisa dilakukan, bahwa awak kabin El Al tidak bisa melakukannya," kata Rabinowitz dalam wawancara dengan Radio Israel.

Maskapai penerbangan Israel itu mengatakan berupaya untuk menampung keinginan pria itu namun tidak pernah menekan penumpang perempuan pindah.

Dengan keputusan pengadilan, maka El Al harus membuat petunjuk tertulis kepada para awaknya bahwa permintaan untuk pindah seperti itu tergolong melanggar hukum.

Insiden tentang penerbangan El Al maupun maskapai lain yang tertunda karena penolakan beberapa pria Yahudi Ortodoks yang tidak mau duduk di samping perempuan menarik perhatian media beberapa tahun belakangan, seperti dilaporkan kantor berita Reuters.

Dalam pernyataannya IRAC menegaskan bahwa keputusan pengadilan menyatakan bahwa penumpang yang diminta pindah karena jenis kelaminnya merupakan diskriminasi dan oleh karena itu dilarang.

Topik terkait

Berita terkait