Beberapa metode penetapan jatuhnya 1 Syawal untuk Idul Fitri

The moon Hak atas foto Getty Images
Image caption Islam mengikuti kalender bulan, berdasarkan pergerakan bulan.

Akhir Ramadan ditandai dengan Idul Fitri, di mana keluarga berkumpul, mengenakan pakaian terbaik dan berpesta. Tetapi bagi peristiwa dunia sepenting ini, menentukan kapan ini akan terjadi ternyata adalah suatu hal yang sangat rumit.

Sementara akhir bulan suci Islam, Ramadan mendekat, sekitar 1,8 miliar Muslim di dunia menantikan penetapan Idul Fitri berdasarkan kalender Islam yang mengikuti bulan.

Hak atas foto Reuters
Image caption Seorang ibu berbelanja kerudung menjelang Idul Fitri di Jakarta.

Di negara dengan beberapa musim, Ramadan bisa jatuh pada musim yang berbeda setelah putaran beberapa tahun.

Tetapi pada praktiknya sering terjadi perdebatan tentang waktu dimulainya Idul Fitri. Muslim di sebagian negara menggantungkan diri pada penampakan resmi, bukannya pada penampakan di langit sendiri.

Sebagian mengikuti kalender bulan yang baku, sementara yang lain menggunakan pengamatan astronomis untuk mengumumkan pemunculan bulan baru. Kemudian ada juga yang masih menandai bulan baru hanya setelah melihat bulan sabit di langit.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebagian Muslim menggunakan teleskop untuk memastikan penampakan bulan baru guna menentukan Idul Fitri.

Tanggal penetapan 1 Syawal atau hari Idul Fitri tidak pernah sama di seluruh dunia, meskipun biasanya berbeda satu atau dua hari.

Sebagai contoh, pemerintah di Arab Saudi, negara yang didominasi Sunni dan tempat lahirnya Islam, mengumumkan permulaan dan akhir Ramadhan bergantung pada kesaksian anggota masyarakat yang mengamati bulan dengan mata telanjang.

Muslim di banyak negara lain kemudian mengikutinya.

Tetapi Iran yang mayoritasnya adalah Muslim Syiah, mematuhi pengumuman pemerintah yang didasarkan pengamatan bulan lewat penglihatan.

Dan Irak, yang mayoritas penduduknya Muslim Syiah, dengan kelompok minoritas Sunni, menggabungkan keduanya. Syiah mengikuti pengumuman ulama berpengaruh Ayatollah Besar Ali al-Sistani, sementara minoritas Sunni mengikuti para ulama mereka.

Baik Muslim Sunni maupun Syiah di Irak merayakan Idul Fitri pada hari yang sama di tahun 2016, untuk pertamakalinya dalam beberapa tahun.

Sementara itu, Turki, negara yang secara resmi sekuler, menggunakan perhitungan astronomi untuk menentukan akhir Ramadhan.

Dan di Eropa, kebanyakan Muslim menunggu pengumuman pemimpin masyarakatnya, meskipun ini kemungkinan didasarkan pengamatan bulan seperti halnya di negara Muslim lain.

Topik terkait

Berita terkait