Serbuan belalang kembara di Sumba Timur ‘bisa dicegah sedini mungkin’

belalang
Image caption Hama belalang dapat dicegah sedini mungkin, kata peneliti serangga.

Hama belalang kembara yang selama sebulan terakhir menyerbu Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, membuat pusing Umbu Ndikir.

Petani yang juga berstatus sebagai mahasiswa pertanian itu seharusnya bisa memanen puluhan karung besar, namun gara-gara belalang hasil panennya nihil.

"Sebelum ada hama belalang, sawah seluas 76 are bisa menghasilkan 37 sampai 38 karung beras. Setelah ada belalang ini, wah gagal total," kata Umbu.

Kini dia memilih menunggu hingga hama belalang kembara dibasmi sebelum mulai menggarap sawahnya lagi.

"Kalau belalangnya masih ada, tahan dulu untuk kerjakan sawah," ujarnya.

Umbu Ndikir tidak sendirian. Serangan belalang kembara di Kabupaten Sumba Timur mengakibatkan para petani merugi lantaran ladang dan sawah mereka habis dilalap. Hal ini membuat Bupati Sumba Timur, Gidion Mblijora, menetapkan status Kejadian Luar Biasa.

Gambaran mengenai serbuan serangga tersebut dituturkan wartawan radio Max FM di Waingapu, Heinrich Dengi.

"Ketika mereka datang menyerupai awan gelap, seperti mau hujan. Tapi ketika dekat kelihatan belalang beterbangan. Bunyi sayapnya begitu terasa," tutur Heinrich.

Hak atas foto APris LLL
Image caption Serangan belalang kembara di Kabupaten Sumba Timur mengakibatkan para petani merugi lantaran ladang dan sawah mereka habis dilalap.

Serangan berkala

Berdasarkan catatan sejumlah ahli serangga, serbuan belalang kembara di Sumba Timur bukan kali pertama. Serangan serupa berlangsung pada 1950-an, 1970-an, dan terjadi secara berkala setiap 10 tahun.

Penyebab utamanya adalah perubahan cuaca dan berkurangnya pemangsa alami, kata Mariana Moy, dosen entomologi, ekologi, dan keanekaragaman hayati di Universitas Kristen Wira Wacana Sumba.

"Panas yang berkepanjangan lalu hujan sedikit-sedikit adalah kondisi ideal bagi perkembangan populasi belalang kembara. Faktor lainnya, burung-burung pemakan serangga di beberapa titik di Sumba Timur berkurang drastis karena adanya penangkapan," tutur Mariana, merujuk hasil penelitian program studi Biologi, Universitas Kristen Wira Wacana Sumba.

Populasi belalang kembara, menurut Mariana, tidak langsung membengkak dan menjadi ancaman.

"Belalang mengalami tiga fase perkembangan. Fase pertama, mereka hidup sendiri. Kalaupun ada tiga sampai lima pasang di suatu titik itu kategori aman. Ketika naik menjadi 10-20 pasang, itu harus hati-hati karena kalau situasinya pas mereka akan menjadi fase seperti sekarang," papar Mariana.

Hak atas foto Mariana Moy
Image caption Serangan hama belalang kembara di Sumba Timur.

Pengendalian

Karena belalang kembara memiliki fase-fase perkembangan, sejatinya populasi serangga itu bisa dikendalikan.

"Sebenarnya bisa dicegah sedini mungkin jika sistem pencatatan populasi belalang kembara berjalan dengan baik. Selama ini, yang saya perhatikan, jika sudah terjadi ledakan baru mendapat perhatian," kata Mariana.

Secara teknis, pengendalian populasi belalang kembara dilakukan dengan mencari belalang yang sakit. Apa gunanya?

Damayanti Buchori, profesor ilmu serangga dari Institut Pertanian Bogor (IPB), mengatakan belalang yang sakit itu diperlukan agar ilmuwan dapat mencari penyebabnya dan mengembangkannya untuk memerangi hama belalang.

"Sehingga kalau ada hama belalang seperti ini kita tinggal menyemprotkannya," kata Damayanti.

Taktik itu, menurutnya, jauh lebih ramah lingkungan ketimbang menyemprot pestisida sintetis sebagaimana yang dilakukan Pemprov NTT di Sumba Timur. Pada pertengahan Juni lalu, Gubernur NTT, Frans Belu Raya, mengatakan penggunaan pestisida "mau tidak mau kita gunakan".

Damayanti menyebut efek pestisida mengakibatkan belalang yang bertahan hidup akan jauh lebih kebal terhadap pestisida. Pestisida juga bisa membunuh makhluk hidup lainnya yang sejatinya bukan merupakan target.

"Yang lebih parah, pestisida akan meracuni air, tanah, dan berdampak pada kesehatan manusia. Ini justru akan menimbulkan masalah baru," tutupnya.

Topik terkait

Berita terkait