Bayi simpanse korban penyelundupan satwa telah mati

Nemley Jr
Image caption Nemley Junior telah menjalani perawatan intensif namun tidak mampu melawan serangkaian penyakit.

Bayi simpanse yang menjadi korban jaringan penyelundup satwa di Afrika Barat dan kemudian diselamatkan menyusul investigasi BBC, telah mati.

Meski mendapat perawatan intensif selama beberapa pekan terakhir di Kebun Binatang Abidjan, Pantai Gading, bayi simpanse bernama Nemley Junior itu tidak mampu melawan serangkaian penyakit termasuk malaria.

Nemley menghuni kebun binatang tersebut sejak dibebaskan dari jaringan penyelundup satwa pada Desember 2016 lalu.

Dokter hewan yang merawat Nemley Junior mengatakan bayi simpanse yatim-piatu itu mengalami "kegagalan perkembangan".

Di alam bebas, bayi simpanse biasanya hidup berdampingan dengan ibunya sampai setidaknya berusia empat hingga lima tahun. Namun, Nemley tidak lagi memiliki induk. Bahkan, Nemley amat mungkin menyaksikan pembunuhan ibunya oleh jaringan penyelundup.

"Dia mati di pelukan saya. Dia tidak mati sendirian di dalam kandang. Dia benar-benar berjuang untuk tetap hidup. Dia minum cairan sampai 30 menit sebelum mati. Sampai sekarang saya masih tersentak. Tiada satupun dari kami percaya atas apa yang telah terjadi," tutur Sarah Crawford, seorang pekerja sebuah LSM asal Amerika Serikat yang merawat Nemley selama tiga pekan terakhir.

Nemley berusia 15 bulan saat mengembuskan napas terakhir. Tubuhnya akan diautopsi.

"Ini akan memberikan kami informasi berguna, yang akan membantu orang lain yang merawat bayi hewan yatim piatu," kata Samouka Kane, seorang dokter hewan yang menjabat direktur Kebun Binatang Nasional di Abidjan.

Image caption Nasib Nemley Junior menyoroti tidak hanya praktik penyelundupan satwa yang keji, tapi juga tantangan untuk merawat hewan-hewan yang berhasil diselamatkan.

Penyekapan

Nemley Junior dibebaskan dari sekapan jaringan penyelundup satwa Desember 2016 lalu setelah Kepolisian Pantai Gading mendapat informasi mengenai jaringan tersebut dari investigasi BBC.

Saat melakukan investigasi, termasuk dengan menyamar sebagai pembeli dari Jakarta, BBC ditawari untuk membeli Nemley seharga US$12.500 atau Rp165,9 juta. Penyamaran sebagai pembeli dari Indonesia sengaja dilakukan, karena para pedagang dan penyelundup melihat negara-negara di Asia Timur, seperti Cina, Thailand, dan Indonesia, sebagai pasar yang sangat menguntungkan.

Pada awal bulan ini, dua pria yang bertanggung jawab atas penyekapan Nemley, Ibrahima dan Mohamed Traore, divonis enam bulan penjara dan denda setara US$500 atau Rp6,6 juta.

Namun, karena keduanya telah dipenjara sejak Desember 2016 untuk menunggu persidangan, mereka telah dibebaskan 10 hari lalu.

Mendorong tindakan

Nasib Nemley Junior menyoroti tidak hanya praktik penyelundupan satwa yang keji, tapi juga tantangan untuk merawat hewan-hewan yang berhasil diselamatkan.

Pantai Gading tidak punya suaka khusus yang dapat memberikan penanganan intensif bagi para simpanse yang diselamatkan. Ketika Nemley diselamatkan, BBC dihubungi sejumlah suaka margasatwa di beberapa negara di Afrika, termasuk Liberia, Uganda, dan Kenya, yang menawarkan perawatan untuk Nemley.

Namun, Kementerian Air dan Hutan Pantai Gading menolak tawaran-tawaran itu. Pemerintah Pantai Gading menegaskan bahwa Nemley dibebaskan di Pantai Gading sehingga menjadi milik negara tersebut. Lebih jauh, Kebun Binatang di Abidjan memiliki kapasitas dan kemampuan untuk merawat Nemley.

Namun, dari pemantauan BBC dan kesaksian sejumlah pihak yang kerap berhubungan dengan pemerintah Pantai Gading, kebun binatang tersebut kekurangan dana, para pawang berang dengan upah rendah, dan hewan yang ditampung jauh lebih banyak dari kemampuan mereka merawat.

Sebuah harapan yang disuarakan kalangan pelestari hewan adalah kematian Nemley Junior akan menyoroti nasib para bayi simpanse yang terjerat oleh jaringan penyelundup sehingga pemerintah dan para pemangku kepentingan bisa mengambil tindakan.

Setidaknya, operasi pembebasan Nemley telah membuat dua penyelundup satwa dipenjara. Walau masa penahanan mereka hanya selama enam bulan, itu adalah vonis pertama di Pantai Gading untuk kejahatan terhadap satwa liar.

Organisasi Interpol, yang sampai saat ini tidak punya dana untuk memerangi penyelundupan simpanse, telah mengumpulkan para penyidik dan pejabat dari enam negara guna menyiapkan langkah aksi.

Topik terkait

Berita terkait