Nasi Jamblang, kuliner Cirebon yang bertahan sejak zaman Belanda

Nasi Jamblang Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Nasi Jamblang dibungkus dengan daun jati

Nasi Jamblang merupakan makanan khas Cirebon yang telah ada sejak jaman penjajahan Belanda, dan kini kian populer, bagaimana mereka bertahan di tengah persaingan?

Fitri tampak sibuk melayani pembeli dari balik meja kasir di warung Nasi Jamblang Mang Dul yang menempati sebuah ruko atau rumah toko di pusat kota Cirebon.

Di tengah ruangan ruko, tampak beberapa pembeli sibuk memilih berbagai lauk pauk yang terhidang di meja sepanjang 3 meter. Mulai dari tempe goreng, sayur tahu, sambal goreng yang terbuat dari irisan cabai dan cumi hitam, yang disajikan di atas nasi yang dibungkus daun jati.

Aroma daun jati dan berbagai masakan dapat tercium ketika saya memasuki ruko. Fitri mewarisi bisnis ini dari ayahnya Abdullah, Muhammad Abdullah atau yang dikenal dengan Mang Dul.

"Kios dari saya kecil tahun 70 tuh cuma satu bakul mider, dekat kolam renang, ibu memang senang masak ambil nasi ke nenek, tambah banyak jadi nenek ga kuat jadi bikin sendiri," kata dia.

Nasi Jamblang merupakan salah satu kuliner khas Cirebon yang diburu warga lokal dan kini wisatawan yang semakin banyak berkunjung ke daerah yang dijuluki kota Udang ini. Fitri mengatakan sehari-hari dia menghabiskan sekitar dua kuintal beras untuk nasi, jumlah itu meningkat sampai dua kali lipat pada akhir pekan dan liburan panjang anak sekolah dan Idul Fitri.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Kesibukan di warung Nasi Jamblang Mang Dulu
Hak atas foto BBC INDONESIA

Meski banyak pengusaha nasi Jamblang baru pun bermunculan. Tetapi warung Mang Dul tetap bertahan, Fitri pun membagikan resepnya.

"Kalau saya jaganya itu kualitas rasa, udah tetap gitu, kalau orang makan akan cari sendiri, kadang orang Jakarta tahu beda rasanya, di sini bedanya sama tahu sayur daging telur dadar perkedel beda, kalau beli di tempat lain tahu, orang tahu ciri khasnya tahunya Mang Dul ," kata dia.

Sedekah bagi buruh pabrik

Nasi Jamblang disebutkan merupakan kuliner yang berasal dari Desa Jamblang yang berada di pinggiran kota Cirebon, yang merupakan daerah asal kuliner ini. Di sana saya bertemu dengan Kusdiman dan Tien Rustini yang merupakan keturunan Tan Piaw Lung atau yang dikenal dengan Mbah Pulung, yang pertama kali disebutkan menciptakan nasi Jamblang.

Nasi itu dibungkus dengan daun jati, dan dilengkapi berbagai lauk pauk antara lain tempe, telur dadar, sambal cabai dan lain-lain.

"Dulu ga ada plastik tapi di sini banyak daun jati, makanya dibungkus dengan daun jati dan bukan daun pisang selain memiliki aroma juga membuat nasi tidak cepat basi," kata Kusdiman.

Tien yang merupakan generasi kelima menjelaskan asal-usul Nasi Jamblang yang dibuat oleh moyangnya Abdul Latief dan istrinya Mbah Pulung, dulu dibagikan secara gratis pada buruh Pabrik Gula Gempol, Pabrik Spiritus di Palimanan dan stasiun kereta api pada kurun waktu 1847 dan 1883.

"Mereka membagikan buat sedekah bagi rakyat pekerja pabrik gula dan spiritus juga yang membangun jalan kereta, lalu lama kelamaan akhirnya muncul keinginan agar menjual nasi Jamblang ," Tien.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Masakan cumu hitam, merupakan salah satu menu khas Nasi Jamblang

Bisnis Nasi Jamblang marak

Penjualan nasi Jamblang keluarga mba Pulung mencapai puncaknya pada tahun 1960-1970an, tetapi kemudian semakin merosot karena keturunannya memilih untuk bekerja di sektor lain dan meninggalkan bisnis nasi Jamblang.

Kusdiman dan Tien pun tinggal di Jakarta sejak tahun 1970an. Baru pada 2004 lalu, setelah pensiun dari pekerjaan di Jakarta, Tien dan Kusdiman berupaya terjun ke bisnis kuliner ini, karena melihat perkembangan wisata di Cirebon yang semakin meningkat.

"Kami lihat banyak yang menjual nasi Jamblang dan digemari wisatawan, akhirnya kami mengumpulkan saudara-saudara dan tukang masak yang dulu pernah ikut dengan keluarga kami untuk memulai membuka kembali warung nasi Jamblang," jelas Kusdiman.

Hak atas foto BBC INDONESIA

Pasangan suami istri ini pun membuka warung nasi Jamblang Tulen di depan Pasar Jamblang Kabupaten Cirebon. Kusdiman mengatakan dia berupaya untuk mengembalikan menu-menu khas nasi jamblang warisan keluarga, yang sudah mulai jarang dijual saat ini, dan juga cara memasaknya.

"Saat kita membuat ini istilahnya filosofinya mengambalikan citra rasa tempo dulu, kita buka primbon resepnya, memang banyak yang bisnis nasi Jamblang, tapi ada menu yang tidak mereka masak lagi seperti dendeng bumbu laos, jadi kita melakukan seperti dulu, masak pun pakai kayu bakar," kata dia.

Meski demikian, dia mengatakan merupakan meski keturunan dari penemunya, tak mudah memulai bisnis nasi Jamblang.

"Orang lebih banyak yang ke Cirebon dibandingkan dengan ke daerah ini, tapi perlahan sudah mulai terlihat ada peningkatan," jelas Kusdiman yang enggan menyebutkan omset penjualannya.

Meski begitu, Kusdiman merasa senang karena kuliner 'warisan keluarganya' ini semakin berkembang dan semakin banyak peminatnya.

Berita terkait