Berkunjung ke museum 'pembunuh kolonialisme' di Rangkasbitung

multatuli, rangkasbitung Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Museum Multatuli di Kota Rangkasbitung, Provinsi Banten.

Terletak di sudut alun-alun Kota Rangkasbitung, Provinsi Banten, sebuah bangunan berarsitektur khas kolonial, memampang aksara besar: 'Museum Multatuli'.

Suasananya sepi ketika saya melangkahkan kaki ke dalam bangunan museum. Di balik pagar, sejumlah anak berseragam sekolah asyik bercengkerama sambil menikmati sepoi angin.

Mereka mengernyitkan dahi ketika saya bertanya soal Multatuli.

"Multatuli? Dia siapa ya? Saya tahunya Multatuli nama jalan dan nama museum," kata Indriani, salah seorang perempuan berseragam putih-abu-abu.

Apakah Multatuli diajarkan di sekolah? Indriani menggeleng, begitu pula teman-temannya di sekelilingnya. "Kami nggak pernah diajarin soal Multatuli," ujarnya.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Perpustakaan Saidjah dan Adinda, yang memakai nama tokoh dalam novel Max Havelaar, berdiri persis di sebelah Museum Multatuli.

Pengalaman di Rangkasbitung

Multatuli adalah nama pena Eduard Douwes Dekker, asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada Januari hingga Maret 1856. Berdasarkan pengalamannya di daerah tersebut, dia menulis sebuah novel berjudul Max Havelaar yang pertama kali diterbitkan pada 1860.

"Dengan Max Havelaar, dia ingin membuka mata dunia tentang busuknya kolonialisme di Hindia Belanda. Ide-ide itu menginspirasi tokoh-tokoh pendiri bangsa, seperti Sukarno, untuk memerdekakan Indonesia. Menurut Pramoedya Ananta Toer, Max Havelaar adalah novel yang membunuh kolonialisme," kata Ubaidillah Muchtar, kepala seksi cagar budaya dan museum, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Lebak.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Patung Multatuli di Amsterdam, Belanda.

Karena pentingnya novel Max Havelaar, Kabupaten Lebak memutuskan untuk menjadikan bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun pada 1920-an sebagai museum. Dan sejak Mei 2017, museum itu telah diresmikan.

Menurut Ubaidillah, museum itu terbagi dalam tujuh ruangan dan empat segmen. Segmen pertama menceritakan sejarah masuknya kolonialisme di Indonesia dan segmen kedua memaparkan Multatuli dan Max Havelaar. Adapun segmen ketiga menuturkan sejarah Banten dan Lebak. Sedangkan segmen terakhir menunjukkan sejarah Rangkasbitung.

Museum Multatuli sejatinya didirikan pertama kali di Amsterdam, Belanda. Kepemilikan Museum Multatuli di Rangkasbitung tidak terkait dengan yang di Amsterdam. Meski demikian pemerintah daerah Lebak mendapat sejumlah hibah dari Museum Multatuli di Belanda.

Hibah itu, menurut Ubaidillah, meliputi novel Max Havelaar berbahasa Prancis cetakan pertama tahun 1868, ubin bekas kediaman Multatuli, litografi Multatuli, dan peta Rangkasbitung abad yang lalu.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Saat menjalani jabatan sebagai asisten Wedana Lebak, pria kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 ini menyaksikan praktik pemerasan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak.

Kekurangan buku

Sejak terbit pada 1860, novel Max Havelaar telah dicetak dalam berbagai bahasa.

Penerbitan novel itu berdampak luas sehingga melahirkan gerakan Politik Etis atau Politik Balas Budi oleh pemerintah Hindia Belanda.

Di Eropa, lebih dari 100 tahun kemudian, nama Max Havelaar juga diabadikan dalam kebijakan perdagangan yang adil bagi petani. Singkat kata, Multatuli dan Max Havelaar telah mendunia.

Namun, mengapa kaum muda di depan Museum Multatuli di Rangkasbitung tidak mengenal Eduard Douwes Dekker?

Saya bertolak beberapa ratus meter ke SMA Negeri 3 Rangkasbitung dan menjumpai Dedi Sambas, guru sejarah sekolah tersebut. Baginya, kenyataan Multatuli adalah nama yang asing bagi sebagian kaum muda Rangkasbitung tidak mengherankan.

"Kalau mendengar kisah Saijah dan Adinda di dalam novel Multatuli, pasti mereka tahu. Tapi, untuk kedalamannya, kami juga kesulitan. Di mana mencari bukunya? Kecuali kalau buku itu diedarkan dalam jumlah banyak ke setiap sekolah supaya mereka lebih tahu," kata Dedi.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Bupati Lebak, Iti Jayabaya, memprakarsai berdirinya Museum Multatuli di Rangkasbitung.

Tertinggal dan miskin

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan dan kebudayaan tahun 2015, Kabupaten Lebak adalah salah satu daerah dengan populasi buta huruf terpadat di Indonesia dengan 58.224 orang tuna aksara di antara penduduk 1,3 juta jiwa.

Fakta itu diamini Bupati Lebak, Iti Jayabaya. Untuk memberantas buta huruf, dia mengaku memiliki program Lebak Cerdas yang mendatangkan lebih banyak guru dan memberi beasiswa kepada para pelajar untuk merangsang minat belajar.

"Kalau kita tidak persiapkan SDM-nya, kita hanya akan menjadi penonton," kata Iti, di pendopo Museum Multatuli.

Soal mengapa dia mendirikan Museum Multatuli, Iti mengatakan ingin agar penduduk Lebak lebih mengetahui siapa Multatuli. "Justru dengan adanya museum ini, saya berharap penduduk dan kaum muda khususnya bisa mengenal Multatuli," ujar Iti.

Di samping itu, keberadaan museum tersebut diharapkannya akan mendorong wisatawan untuk datang ke Rangkasbitung.

"Kita targetkan 500.000 wisatawan tahun ini," kata Iti.

Bonnie Triyana, pemerhati sejarah dan sosial Banten, berharap pemerintah kabupaten Lebak dan pemprov Banten bisa menjadikan keberadaan Museum Multatuli sebagai momentum kebangkitan dari ketertinggalan.

Sebab, menurutnya, dari segi pembangunan infrastruktur, Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten masih tertinggal dan miskin, predikat yang sama ketika Multatuli tinggal di sana pada 1856.

"Rendahnya literasi, bagaimana cara memeranginya, bagaimana menumbuhkan minat baca dengan cara menarik adalah pekerjaan yang harus dilakukan. Museum ini, yang di sebelahnya ada perpustakaan, menjadi salah satu cara untuk meningkatkan semangat baca masyarakat Lebak dan Banten," tandasnya.

Berita terkait