Apa yang Anda lakukan jika anak Anda menjadi pelaku perundungan?

Pelaku bully Hak atas foto Thinkstock
Image caption Satu dari lima remaja mengaku mengalami perundungan di dunia maya, namun hanya sedikit yang mengakui sebagai pelaku perundungan.

Para orang tua khawatir jika anak-anak mereka mengalami bullying melalui internet, namun bagaimana jika anak Anda sendiri yang mem-bully teman-temannya?

Itulah pertanyaan yang diajukan oleh seorang pembaca BBC, menyusul sebuah laporan tentang bagaimana anak-anak berjuang untuk mengatasi masalah bullying yang mereka alami di dunia maya.

Ada begitu banyak informasi tentang bagaimana menangani intimidasi di media sosial, namun masih sedikit pengetahuan soal apa yang harus dilakukan jika Anda tahu bahwa pelaku bullying adalah anak Anda sendiri.

BBC mendapat berbagai saran dari para ahli dan seorang ibu yang mengetahui bahwa putrinya mem-bully teman sekolahnya lewat dunia maya.

Pandangan orang tua

Hak atas foto OTHER
Image caption Nicola Jenkins mengetahui putrinya yang berusia 12 tahun mengunggah komentar kasar secara online dari gurunya.

Tidak banyak orang tua yang mau mengakui bahwa anak mereka menjadi pelaku perundungan atau bullying, tapi Nicola Jenkins blak-blakan menceritakan kisah putrinya yang menjadi pelaku perundungan.

"Tak ada seorang pun yang berpikir bahwa anak mereka bisa berlaku kejam terhadap anak-anak lain, kan? Saya membiarkan anak-anak saya menggunakan semua situs media sosial dan percaya bahwa mereka bisa memanfaatkannya dengan baik.

"Suatu hari, guru anak kami menelepon saya pada jam sekolah, ia memberi tahu bahwa putri saya mengirimkan pesan dengan kata-kata kasar terhadap dua orang temannya. Salah satu dari mereka sangat marah dengan isi pesan tersebut.

"Lantas ibunya berbicara pada saya sembari menunjukkan pesan yang dikirimkan anak saya. Saat saya menanyakan hal itu pada putri saya, ia menyangkalnya. Butuh waktu untuk membuatnya berterus terang, tapi saya marah saat mengetahui bahwa dirinya yang mengirimkan pesan-pesan itu.

"Saya membicarakan hal ini dengan gurunya dan para orang tua lainnya, dan kami sepakat untuk memberitahu anak-anak bahwa mereka tidak boleh kasar dan menegaskan kami sebagai orang tua akan merekam dan menyimpan perkataan kasar mereka. Dan mereka semua mengambil pelajaran dari semua itu.

"Saya menghapus semua jejaring media sosialnya, sehingga ia tidak dapat mengaksesnya untuk sementara dan lalu saya mengawasi apa saja yang ia katakan kepada orang lain.

"Tapi itu membuat saya merasa marah dan sangat malu karena putri saya bisa mengatakan hal-hal seperti itu kepada teman-temannya, tapi ia sudah sedikit mengalami kemajuan sejak saat itu dan ia mengambil pelajaran.

"Anda ingin mempercayai anak-anak Anda, tapi mereka masuk ke dalam situasi yang tidak bisa mereka hindari.

"Dan saat mereka beranjak dewasa, mereka melihat hal yang berbeda. Saya tahu putra saya melihat hal yang sama sekali berbeda dengan apa yang dilakukan putri saya, jadi saya menyadari apa yang mereka akses dan memastikan bahwa mereka senang dengan apa yang kita lakukan.

Pandangan pakar

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Banyak informasi tentang bagaimana mengatasi intimidasi di media sosial, namun masih sedikit pengetahuan soal apa yang harus dilakukan jika Anda tahu bahwa anak Anda sendiri yang melakukan perundungan.

Menurut organisasi nirlaba Internet Matters, satu dari lima anak berusia 13-18 tahun mengaku pernah mengalami bullying di dunia maya, namun hanya sedikit statistik tentang jumlah anak yang melakukan bullying.

Carolyn Bunting, general manager Internet Matters, menyampaikan berbagai saran berikut:

"Pertama, duduklah bersama mereka dan cobalah untuk membangun fakta-fakta seputar kejadian tersebut dengan pikiran terbuka. Sebagai orang tua, terkadang kita dibutakan dengan perilaku anak-anak kita sendiri - jadi cobalah untuk tidak bersikap defensif. Bicaralah tentang ranah yang mungkin menyebabkan mereka stress atau marah dan mengarahkan mereka untuk mengungkapkan perasaan ini secara online.

"Perjelaslah perbedaan antara mengunggah dan berbagi konten. Katakan pada mereka: ini serius. Sangat penting bagi mereka untuk memahami bahwa mem-bully orang lain secara online adalah perilaku yang tidak dapat diterima. Hal itu bisa membuat kita kehilangan teman, bisa membuat mereka bermasalah dengan sekolah ataupun berurusan dengan polisi.

"Jika anak Anda mem-bully orang lain di internet untuk balas dendam, Anda harus memberi tahu mereka bahwa dua kesalahan tidak dapat dilakukan dengan benar dan ini hanya akan mendorong perilaku bullying lebih lanjut. Tetap tenang saat mendiskusikannya dengan anak Anda dan cobalah untuk berbicara seperti dengan orang dewasa lewat emosi yang Anda rasakan terhadap situasi yang ada.

"Menghapus berbagai media sosial bisa menjadi kontraproduktif. Malah bisa membuat situasi semakin buruk dan mendorong mereka untuk menemukan cara lain untuk bisa mengkases dunia maya. Sebaliknya, pikirkan untuk membatasi akses dan hilangkan hak-hak istimewanya jika mereka tidak menghentikan perilakunya.

"Sebagai panutan, tunjukkan kepada anak Anda bahwa bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka sendiri adalah hal benar untuk dilakukan. Yang terpenting, bantulah anak Anda belajar dari apa yang telah terjadi. Pikirkan tentang apa yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua dengan cara yang berbeda atau keluarga dan berbagi pengalaman dengan para orang tua dan para pengasuh anak. "

Pandangan media sosial

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kekerasan sangat produktif di Twitter dan pihak jejaring sosial ini berjanji berbuat lebih banyak menciptakan aplikasi anti perundungan.

Banyak kritik menyalahkan media sosial yang tidak bisa berbuat banyak dalam mengatasi bullying di dunia maya. Kekerasan sangat produktif di Twitter dan pihak jejaring sosial ini berjanji berbuat lebih banyak, termasuk menyediakan aplikasi yang memungkinkan para pengguna untuk membisukan, memblokir dan melaporkan apa yang disebut troll.

Sinead McSweeney, wakil presiden kebijakan publik di Twitter, menjelaskan mengapa masalah tersebut menjadi keprihatinannya:

"Sebagai seorang ibu dari seorang putra berusia tujuh tahun, saya selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan antara mendukung keamanan internet dan mendorong jenis eksplorasi, pembelajaran dan kreativitas yang dapat dibuka internet."

Ia menyampaikan berbagai saran di bawah ini:

"Jika Anda mendapati anak Anda turut serta dalam jenis perilaku ini, langkah pertama yang dilakukan adalah memahami jenis materi yang mereka ciptakan, siapa targetnya, dan mencoba untuk memastikan apa motivasinya.

"Jika bullying terjadi di platform media sosial, pastikan untuk menjelaskan kepada mereka mengapa perilaku tersebut tidak sesuai dan berbahaya, dan untuk mengawasi penghapusan konten intimidasi yang telah mereka buat. Jika berlanjut, mungkin perlu dicari saran tambahan dari guru atau orang yang dipercaya. "

Topik terkait

Berita terkait