Bumi berubah menjadi 'Planet Plastik'

Bola dunia yang dibuat dari plastik di Chile Hak atas foto MARTIN BERNETTI/AFP/Getty Images
Image caption Lebih dari 70% total produksi kini menjadi sampah dan sebagian besar dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Ilmuwan AS telah menghitung plastik yang pernah dibuat selama ini dan jumlahnya mencapai 8,3 miliar ton.

Jumlah ini tergolong mengejutkan untuk suatu materi yang dibuat dalam 65 tahun terakhir.

Bobot 8,3 miliar ton ini setara dengan berat 25.000 gedung Empire State di New York atau satu miliar gajah.

Masalah terbesarnya adalah barang-barang plastik, seperti kemasan, cenderung digunakan dengan sangat cepat sebelum kemudian dibuang.

Lebih dari 70% total produksi plastik itu kini menjadi sampah dan sebagian besar dikirim ke tempat pembuangan akhir - meski sebagian besarnya mencemari lingkungan, termasuk lautan.

"Kita dengan cepat menuju 'Planet Plastik', dan jika kita tidak mau hidup di dunia itu, maka kita harus memikirkan ulang bagaimana kita menggunakan materi ini, terutama plastik," kata Dr Roland Geyer pada BBC News.

Penelitian yang ditulis oleh ahli lingkungan industri dari University of California, Santa Barbara, dan koleganya ini muncul di jurnal Science Advances.

Laporan ini disebut sebagai evaluasi pertama di dunia yang menganalisis sebanyak apa plastik yang sudah diproduksi dalam berbagai bentuk, dan di mana plastik tersebut berakhir. Berikut beberapa temuan kuncinya:

  • 8,3 juta ton plastik diproduksi
  • Separuh dari jumlah itu dibuat hanya dalam 13 tahun terakhir
  • Sekitar 30% dari jumlah total yang diproduksi masih digunakan
  • Dari plastik yang dibuang, hanya sekitar 9% yang sudah didaur ulang
  • Sekitar 12% dibakar, namun 79% masih tersisa di tempat pembuangan akhir
  • Penggunaan plastik yang tersingkat adalah untuk kemasan, biasanya kurang dari setahun
  • Penggunaan plastik terlama biasanya di sektor konstruksi dan permesinan
  • Tren terkini mengindikasikan akan ada 12 miliar ton sampah pada 2050
  • Tingkat daur ulang pada 2014: Eropa (30%), Cina (25%), AS (9%)

Tak ada keraguan bahwa plastik adalah materi yang ajaib. Keawetannya serta kemampuannya beradaptasi membuatnya digunakan dalam berbagai jenis dan melampaui sebagian besar materi buatan manusia lain, seperti besi, semen dan bata.

Sejak awal diproduksi massal pada 1950an, polimer yang ada di sekitar kita - digunakan dalam banyak hal, mulai dari bungkus makanan dan pakaian sampai ke komponen pesawat dan bahan tahan api. Namun justru berbagai keunggulan plastik inilah yang menjadi masalah.

Hak atas foto GOH CHAI HIN/AFP/Getty Images
Image caption Jakarta menghasilkan sedikit 6,5 ton sampah per hari dan tidak memiliki sistem daur ulang resmi yang terorganisir.

Plastik yang digunakan tidak ada yang bisa terurai. Satu-satunya cara untuk secara permanen mengurai sampah ini adalah dengan menggunakan panas - lewat proses penghancuran yang dikenal dengan pirolisis atau pembakaran; meski pembakaran memiliki dampak kesehatan dan lingkungan.

Untuk sementara, sampah terus menumpuk. Dan di luar sana, menurut Geyer dan koleganya, ada cukup banyak sampah plastik untuk menutupi wilayah seluas Argentina. Tim mereka berharap bahwa analisis ini akan menambah kegentingan dalam upaya menangani masalah plastik.

"Mantra kami adalah 'Anda tak bisa mengatasi apa yang tak bisa Anda ukur'," kata Geyer. "Maka dengan menyebut angka itu, kami tidak memberitahu apa yang harus dilakukan oleh dunia, namun hanya agar mulai ada diskusi yang nyata."

Tim yang sama - termasuk Jenna Jambeck dari University of Georgia dan Kara Lavender Law dari Sea Education Association di Woods Hole - juga mengeluarkan laporan pada 2015 yang menghitung total sampah plastik yang sampai ke laut, yaitu mencapai delapan juta ton.

Jumlah sampah plastik yang sampai ke laut inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran bahwa sebagian dari materi yang terbuang itu masuk ke rantai makanan, karena ikan serta hewan laut kecil kemudian mencerna fragmen polimer kecil.

Dr Erik van Sebille dari Universitas Utrecht di Belanda adalah ahli kelautan yang memantau plastik di lautan.

Tentang laporan baru tersebut, dia mengatakan, "Kita menghadapi tsunami sampah plastik dan kita harus mengatasinya. Industri sampah global harus bersatu dan memastikan bahwa tidak ada tambahan plastik yang terbuang dan merusak lingkungan.

"Kita membutuhkan perubahan radikal dalam cara kita mengatasi sampah plastik. Dengan tren sekarang, butuh sampai 2060 untuk plastik didaur ulang dan bukan sekadar dibuang ke lingkungan. Ini terlalu lambat; kita tidak bisa menunggu selama itu," katanya pada BBC News.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Salah satu cara terbaik untuk menangani sampah plastik adalah desain.

Topik terkait

Berita terkait