Cornelis Chastelein, ' Belanda Depok' dan daerah otonom zaman kolonial

Depok Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Yoshua dan Ferdy Jonathans berdiri di bangunan yang sekarang menjadi kantor YLCC.

Suasana di kantor Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, Depok tampak lengang, beberapa orang tampak sibuk berkutat dengan kertas-kertas yang ada di depan mereka. Saat itu menjelang tahun ajaran baru di sekolah milik yayasan.

Lembaga pendidikan ini dikelola oleh para keturunan budak yang dimerdekakan oleh Cornelis Chastelein, tuan tanah asal Belanda yang memiliki tanah perkebunan di Depok.

Ketika dia meninggal pada 28 Juni 1714, tanah seluas lebih dari 1.244 hektar itu diwariskan para 12 orang budak - yang kemudian dimerdekakan - untuk dikelola bersama yang membuat Depok menjadi wilayah partikelir di masa kolonial Belanda yang dipimpin oleh seorang presiden.

Di sana saya bertemu dengan Ferdy Jonathans, Koordinator Bidang Aset Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein.

Dia mengatakan nama-nama belakang yang mirip dengan nama Belanda ini membuatnya kehilangan identitas.

"Ya dengan marga berbau Belanda ini, kami agak kehilangan identitas, " jelas Ferdy, " Saya ini Ferdy Jonathans saya ga tahu berasal dari suku apa, tak ada informasi mengenai asal nama marga ini".

Ferdy menyebutkan dalam surat wasiat yang ditulis Chastelein pada 13 Maret 1714 itu, hanya ada satu marga yaitu Soedira, sementara 11 marga lain, diyakini diberikan oleh tokoh agama Baprima lucas.

"Mungkin diberikan dari alkitab, setelah Cornelis meninggal", kata Ferdy.

Hak atas foto Dokumen YLCC
Image caption Bangunan kantor YLCC Depok Lama, pada zaman dulu.

Selain Jonathans dan Soedira, marga-marga lain yaitu Bacas, Laurens, Leander, Loen, Isakh, Samuel, Jacob, Joseph, Tholense dan Zadokh. Marga Zadokh telah hilang karena tak memiliki keturunan anak laki-laki.

Dosen Sastra Belanda Universitas Indonesia Liliek Suratminto mengatakan para budak Chastelein ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Nusa Tenggara, Bali serta Bangladesh dan Sri Lanka.

"Itu jadi dia mengkristenkan tapi juga membelandakan, terbentuklah komunitas berbahasa Belanda, waktu itu ada undang-undang orang Jawa, Sunda dan Madura tidak boleh dijadikan budak," jelas Liliek.

Menurut Yano, Chastelein membeli daerah di Depok sebagai perkebunan setelah dirinya mundur sebagai pejabat yang bertanggung jawab terhadap gudang VOS di Batavia, pada 1691.

"Katanya sih mundur atas alasan kesehatan padahal karena tidak cocok dengan Gubernur Jenderal Willem Van Outhroon yang memiliki pandangan berbeda dengan Chastelein," jelas Yano.

Hak atas foto Dokumen YLCC
Image caption Tulisan tangan Cornelis Chastelein yang dipajang di kantor YLCC.

Yano mengatakan Chastelein yang lahir di Amsterdam 10 Agustus 1657, dibesarkan dalam keluarga Anthonie Chastelein penganut Kristen yang taat dikenal dengan sifat yang humanis. Dia merantau ke Hindia Belanda dalam usia masih remaja 17 tahun, mengikuti bibinya Henriette Chastelein, yang bersuamikan pejabat di Batavia yaitu Cornelis van Quaelbergh.

Setelah mundur dari jabatannya Chastelein membeli lahan di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Depok, juga wilayah yang dikenal sebagai Weltevreden (daerah Jakarta Pusat). Rumahnya saat ini digunakan sebagai RSPAD Gatot Subroto. Dia juga memberikan tanahnya untuk dibangun menjadi Pasar Senen pada 1735.

Daerah otonom dan peristiwa gedoran

Sejak Chastelein meninggal, Depok kemudian menjadi sebuah daerah otonom satu-satunya di wilayah jajahan Belanda yang dipimpin oleh seorang presiden yang dipilih dari keturunan 12 marga itu.

Di masa kolonial Belanda sampai kemerdekaan RI, Depok telah dipimpin oleh lima orang presiden.

"Perhitungan saya ada presiden di Depok, sepertinya setelah ada UU agraria, daerah otonom ini kan merupakan daerah partikelir, otonomi daerah gitu jadi tidak ikut kerajaan, (wilayah ) yang lain kan ikut kerajaan, jadi di Depok ini daerah tertentu dengan bentuk pemerintahan sendiri dan punya warna sendiri, kalau tak salah mereka memiliki UU yang memberikan hak pilih pada warga yang dewasa," jelas Liliek.

Setelah Indonesia merdeka, keturunan bekas budak Chastelein ini dianggap tidak mendukung kemerdekaan Indonesia. Lalu terjadinya peristiwa gedoran yang berakhir dengan penahanan warga Depok yang berbahasa Belanda ini.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Yoshua Jonathans duduk di bawah gambar simbol 'keluarga Cornelis Chastelein'.

Yoshua Doff Jonathans (89 tahun) mengaku mengalami peristiwa itu ketika berusia 13 tahun.

"Kita tinggalkan jadi waktu kita diserang, kita lari ke belakang rumah ada halaman ada pohon bambu dan ada empang yang kering untuk cari perlindungan, itu terhadi 11 oktober," kata Yoshua.

Di tahanan selama sekitar dua tahun di daerah Kedung Halang, para keturunan 12 marga ini kemudian mulai menggunakan Bahasa Indonesia, dan tanah miliknya sebagian besar dijual atau diserahkan pada pemerintah Indonesia.

"Setelah kemerdekaan tahun 1945 itu mereka masih ada masih dibiarkan oleh pemerintah RI, dan presiden terakhir itu menjabat sampai tahun 1952 dan saat itu Bung Karno menyerukan semua harus lebur, kerajaan harus lebur kecuali Daerah Istimewa Yogyakarta," jelas Liliek.

Meski sebagian besar tanah diserahkan pada pemerintah RI pascakemerdekaan tepatnya 1952, tetapi masih ada beberapa tanah dan bangunan yang dikelola bersama oleh keturunan eks budak Chastelein, antara lain; kantor beserta bangunan YLCC, gereja dan pemakaman.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Genteng tua yang dulu pernah diproduksi di Depok.

Sebutan berawal dari olok-olok

Para budak yang berasal dari berbagai tempat ini kemudian diajari bahasa Belanda sebagai bahasa utama, dari situlah kemudian mereka disebut Belanda Depok, jelas Penulis buku Depok Tempo Doeloe Yano Jonathans.

"Sebutan Belanda Depok, sebenarnya dimulai dari anak-anak sebenarnya yang tinggal di daerah Bojong Gede dan yang naik kereta dari Bogor, ah elu mah Belanda Depok, ya setiap hari kan orang-orang di kereta kanbanyak orang dari dengar tuh akhirnya bertahun-tahun dan melekat di otak," jelas Yano sambil terkekeh.

Ketika itu, anak-anak Depok yang berbahasa Belanda ini naik kereta ke Batavia untuk bersekolah.

Hak atas foto BBC INDONESIA
Image caption Ferdy mengatakan sekarang banyak anak muda tak bisa berbahasa Belanda.
Hak atas foto Dokumen YLCC
Image caption Pemuda-pemuda Depok dengan pakaian khasnya.

Bagi Ferdy sebutan tersebut sudah tak lagi relevan: "Ya kalau kami memilih untuk menyebut kaum Depok," ujarnya sambil tersenyum.

Liliek mengatakan bahasa yang digunakan orang tua di Depok merupakan Belanda kuno yang digunakan pada abad 17.

"Mereka menggunakan bahasa Belanda yang berkembang di masa kolonial, jadi tidak mengikuti perkembangan bahasa di negara asalnya, ya memang ada beberapa pengucapan yang berbeda, ada yang sudah tak dipakai di Belanda, masih digunakan di sini,"kata Liliek.

Saat ini, banyak keturunan 'Belanda Depok' tak bisa berbahasa Belanda dan tidak memahami sejarahnya, apalagi menjalani tradisi yang sama dengan leluhurnya.

"Ya mulai tahun kemarin saya tetapkan anak-anak yang sekolah di sekolah kami ini harus mengenal sejarah depok, agar mereka tahu siapa Chastelein dan siapa kaum depok, banyak kaum depok yang tak tahu mengenai sejarahnya.

Saat ini, keturunan warga depok ini berjumlah lebih dari 3.000 orang dan tersebar di luar Depok.

Berita terkait