Perempuan Indonesia melawan kekerasan melalui musik

youtube Hak atas foto Kartika Jahja
Image caption Video klip 'Tubuhku Otoritasku' menampilkan perempuan dengan berbagai bentuk tubuh.

Sejumlah perempuan dari berbagai macam latar belakang dan profesi bergabung dalam kampanye 'Hands Off' untuk menyuarakan gaung antikekerasan terhadap perempuan.

Ini bukan kali pertama perempuan Indonesia mulai menggaungkan kampanye menyuarakan antikekerasan dan mengajak perempuan untuk lebih sadar tentang hak atas tubuhnya melalui musik.

Lalu mengapa gelombang kampanye antikekerasan mulai marak digaungkan melalui musik?

Kartika Jahja, vokalis Tika & The Dissidents yang juga berpartisipasi dalam kampanye Hands Off menganggap budaya kekerasan -tidak hanya terhadap perempuan, tapi juga kelompok rentan- langgeng lantaran budaya ini sudah mendarah daging di kultur sosial masyarakat. Hal ini yang membuat pelecehan menjadi hal yang dianggap lumrah dihadapi oleh perempuan.

"Menurutku, apa yang kita lakukan bukan hanya menyuarakan aspirasi, tapi juga merombak budaya yang harmful (berbahaya) bagi kelompok rentan. Intinya adalah melawan budaya dengan budaya yang lebih acceptable (diterima) dan menormalkan kesetaraan gender," ujar perempuan yang akrab disapa Tika kepada BBC Indonesia.

Pelecehan seksual, bagi Tika, merupakan upaya orang lain, dalam hal ini lebih sering dilakukan oleh kaum laki-laki, untuk menegaskan kekuasaan mereka terhadap kaum perempuan dan kelompok lain yang lebih rentan.

"Bahwa dia lebih berkuasa dengan membuat orang lain merasa takut, selama itu dinormalkan, tugas kita untuk mengubah mindset (pola pikir) ini," imbuhnya.

Hak atas foto Vinodii
Image caption 22 perempuan bergabung dalam single terbaru Yacko "Hands Off" untuk kampanye antikekerasan di jalan.

Melawan budaya dengan budaya

Tahun lalu, Tika & Dissidents merilis Tubuhku Otoritasku, single pertama dari album Merah. Video lagu dengan nuansa rock and roll ini pertama kali diluncurkan Maret tahun lalu di Festival Tubuhku Otoritasku dan menampilkan 32 perempuan dari berbagai kalangan.

Di awal video, beberapa di antara mereka yang menyampaikan aspirasi tentang pengalamannya di masyarakat, bagaimana selama ini tubuh perempuan mengalami banyak sekali aturan, penghakiman, dieksploitasi, dipermalukan, bahkan dijadikan obyek kekerasan

Masing-masing dari mereka membuat pernyataan sendiri tentang tubuhnya dan memilih sendiri di bagian tubuh mana mereka ingin menuliskannya.

Musisi yang juga dosen di Universitas Indonesia, Teraya Paramehta mengakui Indonesia kekurangan karya seni, -baik seni rupa maupun seni musik- yang menjadi wahana perempuan membicarakan isu sehari-hari terkait kekerasan yang mereka hadapi.

"Sedikit yang bicara tentang isu ini, mudah-mudahan ini bisa menular," ujarnya.

Tera pula menjelaskan bahwa banyak orang yang menganggap pop culture (budaya pop) tidak berguna lantaran penikmat karya-karya budaya pop tidak membawa perubahan besar dalam budaya sosial.

"Ini salah besar, karena ini justru yang membentuk kultur," tegasnya, seraya menjelaskan budaya yang terbentuk sekarang merupakan hasil dari budaya pop dekade-dekade sebelumnya.

Maka dari itu, ia meyakini bahwa untuk mengubah budaya kekerasan, harus dilawan dengan budaya baru, salah satunya adalah melalui edukasi. "Education is slow, but powerful," cetusnya.

Hak atas foto Vinodii

Cara berpakaian

Selain Tika & Dissidents, rapper perempuan bernama Yacko turut menjadikan antikekerasan terhadap perempuan sebagai tema single terbarunya.

Menurut Yacko, kampanye Hands Off merupakan sebuah bentuk perlawanan terhadap pelecehan seksual di jalan. Pasalnya, hampir setiap jam perempuan di Indonesia mengalami perbuatan tidak menyenangkan, baik di jalan, tempat kerja, maupun di rumah sendiri.

"Ini untuk meningkatkan kesadaran bahwa yang dilakukan adalah tidak normal," ujar Yacko.

Yang lebih mengerikan lagi, imbuhnya, banyak orang yang beranggapan bahwa hal tersebut adalah wajar dan harus dimaklumi karena dianggap sebagai candaan.

Selain itu, di banyak kasus pelecehan seksual di jalanan, justru yang disalahkan adalah perempuan karena cara berpakaian. Kultur ini, menurut Yacko, justru melanggengkan rape culture (budaya yang menoleransi dan mendukung kekerasan seksual).

Hak atas foto Vinodii
Image caption Yacko pada saat pengambilan video klip Hands Off.

Stereotip dari genre musik hip hop, lanjut Yacko, adalah mengobjektivikasi perempuan. Hal ini pula yang ingin diubah Yacko melalui single terbarunya.

"Hip-hop stereotipnya objectiving woman dan kalau ingin mengubah nilai itu, ketika kita berbicara dengan youth, harus dengan bahasa yang masuk ke mereka," kata dia.

Yacko mengajak 21 perempuan dengan berbagai macam latar belakang dan karakter lantaran ia ingin memulai kampanye ini dari lingkaran yang paling kecil. Dia berharap kampanye ini akan menggelinding seperti bola salju yang semakin membesar.

Vivi Restuviani, aktivis dan penggiat Hollaback Jakarta - situs yang memuat kisah-kisah pelecehan dan kekerasan seksual yang dialami perempuan di ruang pubik - mengungkapkan tujuan dari gelombang kampanye antikekerasan terhadap perempuan adalah untuk membangkitkan kesadaran bahwa permasalahan ini ada dan selama ini justru dibiarkan.

"Seenggaknya akhirnya ada sesuatu yang bisa kita bilang theme song untuk perlawanan," kata dia.

Topik terkait

Berita terkait