Kisah sebuah kota di AS untuk mengalami 72 jam tanpa satupun pembunuhan

Rata-rata dalam setiap harinya satu orang dibunuh di Baltimore, AS, - angka pembunuhan per kapita yang lebih tinggi dibanding Chicago. Kemudian sebuah gerakan yang bermula dari wargabiasa membuat sebuah tekad yang berani - untuk memberlakuan gencatan senjata 72 jam. Apakah berhasil?


Hari 1: Jumat, 4 Agustus

Erricka Bridgeford berdiri di jendela lantai dua rumah susun yang sekarang terabaikan tempat ia bertumbuh besar dan memandang ke arah jalanan di bawahnya, ke titik di mana Mike, seorang bocah di lingkungannya, jatuh lebih dari 30 tahun lalu. Itu adalah kali pertama ia melihat orang ditembak.

"Saya benar-benar mendengarnya meregang nyawa, memohon kepada Tuhan agar ia tidak mati," katanya. "Saya waktu itu berumur 12 tahun."

Sejak media dari seantero Amerika dan dari berbagai penjuru dunia meminta wawancara dengannya, memintanya untuk menjelaskan usahanya yang berani untuk menghentikan pembunuhan selama tiga hari di sebuah kota di mana seseorang dibunuh hampir setiap harinya, Bridgeford mulai membawa mereka ke lingkungan masa kecilnya di Baltimore Timur. Setelah seorang awak televisi lokal berkemas dan pergi, pelatih meditasi berusia 44 tahun tersebut memutuskan untuk menyelinap msuk pintu rusun yang tidak terkunci dan menunjukkan rumah tersebut kepada ketiga anaknya - berusia antara 17 sampai 21 - untuk pertama kalinya.

Erricka Bridgeford, tengah kanan, duduk dengan temannya, Ellen Gee, kanan, dan anak-anaknya di luar rumah gudang yang ditinggalkan.
Image caption Erricka Bridgeford, tengah kanan, duduk dengan temannya, Ellen Gee, kanan, dan anak-anaknya di luar rumah gudang yang ditinggalkan.

Orang-orang ini berjalan di dalam kamar-kamar kosong mengenakan kaus bertuliskan #BaltimoreCeasefire (#GencatansenjataBaltimore). Tercium bau pesing di udara, temboknya penuh lubang dan tanda bekas perkakas rumah tangga yang hilang. Di lantai atas, kondom bekas terletak di lantai tempat orang tua Bridgeford dulu.

"Ini adalah rumah yang membuat saya jadi seperti ini," katanya kepada anak-anaknya. "Saya sedih sekarang terlihat seperti ini. Ini terlihat seperti ditinggalkan oleh cahayanya."

Rusun kosong ini adalah cerminan dari beberapa penyebab yang mendasari kekerasan di Baltimore. Dari jendela lantai dua itu, Bridgeford melihat saat narkoba masuk ke lingkungannya di tahun 1980an, dan para keluarga terusir pindah.

Teman-temannya jatuh dalam putus sekolah dan menjual narkoba. Rumput berubah menjadi tanah. Bersama dengan kemiskinan dan narkoba, datang senapan - Mike adalah orang pertama dari hampir 20 orang yang Bridgeford kenali yang meninggal karena kekerasan.

Tapi di pagi yang khusus ini, Bridgeford sedang bersemangat - ini Jumat, 4 Agustus, hari pertama dari "Gencatan senjata Baltimore." Walaupun gerakan ini tidak berafiliasi dengan Departemen Kepolisian Kota Baltimore atau lembaga pemerintah apa pun, seorang polisi terpercaya telah berjanji kepadanya untuk mengabari lewat SMS jika ada yang terbunuh selama tiga hari tersebut. Sebelas jam memasuki hari itu, kedamaian masih bertahan.

"Udaranya terasa berbeda," kata Bridgeford. "Bahkan para skeptis mengatakan, 'semoga langkah ini berhasil.'"

Erricka Bridgeford berdiri di jendela kamar masa kecilnya
Image caption Erricka Bridgeford berdiri di jendela kamar masa kecilnya

Para penentang gagasan itu memiliki beberapa alasan untuk merasa seperti itu. Gagasan ini berjalan setelah Bridgeford berbicara dengan anak laki-lakinya yang berusia 19 tahun tentang tingkat pembunuhan di kota tersebut, yang berkembang untuk menjadi yang paling buruk dalam sejarah dan bisa naik ke tingkat tertinggi di negara ini. Per kapita, kota ini sudah melampaui Chicago, Detroit dan New Orleans.

Bridgeford membalas beberapa komentar yang telah dibuat online, yang mengejeknya dan kotanya.

"Kami secara sengaja mau menciptakan sebuah jeda dan sebuah ruang suci di mana niat setiap orang adalah 'tidak ada yang terbunuh'. Sebuah pergeseran budaya, sehingga membuat orang-orang sadar bahwa mereka dapat membuat pilihan ini, "katanya." Saya benci dengan pikiran bahwa orang menganggap 'Oh, Baltimore penuh kekerasan. Chicago penuh kekerasan. Detroit penuh kekerasan. " Tempat-tempat ini adalah cerminan Amerika."

Momentum terbangun secara perlahan, pertama di media sosial dan dari mulut ke mulut. Gencatan senjata ini tidak memiliki satu kelompok atau orang sebagai pemimpinnya. Tidak ada selebriti, tidak ada sponsor atau logo, kecuali satu: tanda hitam, putih dan merah yang bertuliskan "Gencatan Senjata Baltimore: Tidak ada yang Membunuh Siapapun selama 72 Jam." Gagasannya adalah untuk meyakinkan warga kota untuk mengambil kepemilikan atas isu tersebut.

Bagian besar dari upaya ini adalah meminta dukungan di sudut-sudut Baltimore yang paling kejam, berjalan ke pasar narkoba terbuka kota tersebut dan mengajukan permohonan kepada orang-orang yang bekerja di sudut-sudut kota untuk ikut memperjuangkan berlangsungnya satu akhir pekan bebas kekerasan.

Salah satu orang pertama yang ditelepon Bridgeford adalah PFK Boom, pendiri 300 Gangstas, sekelompok mantan anggota geng dan mantan pelaku kriminal yang berkumpul bersama-samamelakukan advokasi setelah kematian Freddie Gray pada tahun 2015.

"Itu tidak masalah sama sekali," kata Boom tentang permintaan bantuan Bridgeford. "Saya menghormati apa yang dia lakukan, saya melihat pekerjaannya, apa yang dia inginkan, jadi karena itulah saya akan menerima ajakan itu dan menempatkan anak buah saya, reputasi saya, dan semua itu mendukung niat itu."

Bridgeford dan penyelenggara lainnya melarang media untuk mengamati upaya pendekatan dari pintu ke pintu, namun dia mengatakan bahwa upaya tersebut cukup berhasil sehingga orang-orang mulai menelponnya secara independen untuk menjanjikan komitmen mereka.

"Ada orang-orang yang menelepon untuk mengatakan 'Saya berafiliasi dengan geng dan saya memberi tahu Anda siapa pun yang berada di bawah tanggung jawab saya sedang bersantai di akhir pekan itu,'" katanya. "Jika orang terbunuh akhir pekan itu, bahkan jika kita tidak tahu siapa yang melakukannya, kita akan tahu siapa yang tidak melakukannya."

Erricka Bridgeford

Tinggi badan Bridgeford 157 cm. Lengan kanannya berakhir tepat di bawah siku karena kondisi yang dia bawa saat berada di dalam rahim. Perawakannya yang kecil, kacamata dan kepribadiannya yang ceria dapat berkontribusi pada alasan mengapa beberapa orang menganggapnya sebagai naif. Itu tidak mengganggunya.

"Saya dibesarkan di Baltimore Timur. Saya telah diperkosa dua kali. Saudara laki-laki saya terbunuh ... Saya telah kehilangan anak tiri saya. Saya telah kehilangan sepupu. Dua minggu yang lalu, saya kehilangan keluarga. Ada beberapa tahun saya pergi ke dua pemakaman dalam satu hari, "katanya.

Ketika orang-orang yang dia ajak bicara mencemooh gagasannya tentang akhir pekan bebas kekerasan, dia menoleh.

"Apakah Anda mengatakan bahwa Anda tidak bisa menjaga lingkungan Anda tetap aman?" Dia bertanya pada mereka "Dan jawabannya selalu, 'Oh, jangan khawatir, itu akan aman di sekitar sini.' ... Saya mengerti ego laki-laki. "

Setelah tiga bulan penggalangan dukungan, pergi ke acara radio lokal setiap minggu, bertemu dengan organisasi di seluruh kota, menempelkan poster di setiap tiang telepon, setiap pintu dan jendela dengan poster dan stiker Gencatan Senjata Baltimore, akhir pekanitu telah tiba. Ada puluhan acara terbuka dan tertutup yang direncanakan di seluruh kota - makan di luar, pesta lingkungan, jalan damai, pertunjukkan seni, mengheningkan cipta.

Seorang penyelenggara bahwa lusinan dan lusinan teman Facebooknya telah mengubah foto profil mereka menjadi logo Gencatan Senjata tersebut.

Teman Facebook Penyelenggara Ellen Gee telah mengubah foto profil mereka menjadi logo gencatan senjata
Image caption Teman Facebook Penyelenggara Ellen Gee telah mengubah foto profil mereka menjadi logo gencatan senjata

Dan dia juga memperhatikan hal-hal lain, simbol-simbol kecil. Seperti, untuk pertama kalinya sepanjang musim panas, dia melihat capung.

Seiring sore berubah menjadi malam, orang-orang mulai pulang kerja, bar-bar terisi dan pesta dimulai - ini adalah ujian pertama gencatan senjata sesungguhnya.

Bridgeford dan anak-anaknya pergi menuju sebuah persimpangan yang ramai di barat daya Baltimore dimana sekelompok orang melambaikan tanda gencatan senjata, dan membagikan selebaran ke para pengendara. Seorang sopir bus kota membuka pintu, meraih sebuah poster Gencatan Senjata Baltimore dari seseorang, dan menancapkannya secara mencolok di kaca depan.

Pada suatu saat, seorang pria tinggi dan kurus muncul di tengah mereka, mengenakan pakaian rumah sakit hijau berwarna- gelang tanda pengenal di pergelangan tangannya yang bertato dan tempelan elektrokardiogram masih melekat di dadanya. Dia mengambil sebuah poster dan memegangnya tinggi di udara.

"Saya tertembak tadi malam," katanya sambil menunjuk sepotong kasa yang ditempelkan di pipi kanannya. "Masih ada dua peluru yang tertinggal di tubuh saya."

Namanya Devrone McKnight - pria berusia 23 tahun itu sedang menyetir pulang dari rumah sakit saat melihat relawan gencatan senjata di pinggir jalan. Dia bilang dia malu. Dia pernah mendengar tentang upaya gencatan senjata namun tidak pernah berniat untuk berpartisipasi.

"Sekarang saya korban," katanya. "Mulai sekarang, saya mendukung ini."

Devrone McKnight membagikan selebaran ke pengendara

Dia berjalan secara serampangan ke jalanan dengan kaus kaki dan sandal, membagikan selebaran dan poster ke pengendara mobil yang berhenti di lampu merah. Dia tampak agak panik.

"Ambillah lembar ini," dia memohon kepada pengendara yang tidak mau menurunkan jendelanya.

Beberapa acara gencatan senjata lebih bersifat pribadi, seperti pada jalan sepi yang disebut McCulloh di seberang kota.

Brittany Oliver berkumpul bersama keluarganya di depan tangga di mana pamannya David Lamont Hill ditembak tepat satu tahun yang lalu sepulang mengunjungi teman-temannya setelah usai kerja.

Keluarga itu, yang mengenakan kaus oblong dengan foto Hill, meletakkan lampu di dekat tempat di jalan di mana ia jatuh setelah ditembak tujuh kali. Mespun dijanjikan hadiah sebesar $ 5.000 untuk informasi, tidak ada yang ditangkap sehubungan dengan kematiannya.

"Kami belum memiliki banyak informasi tentang siapa yang melakukannya atau apa yang terjadi," kata Oliver.

Dalam dua tahun terakhir, tidak hanya jumlah pembunuhan meningkat, namun jumlah kasus yang ditutup oleh Departemen Kepolisian Baltimore - entah karena mereka telah dipecahkan atau pelaku terbunuh sendiri atau dipenjara atas tuduhan lain - jatuh ke salah satu tingkat terburuk untuk kota-kota besar di negara ini.

Sejak titik rendah sekitar 33% pada tahun 2015 ketika 242 kasus pembunuhan tidak terpecahkan, kota tersebut mencatat tingkat penutupan kasus telah pulih menjadi sedikit lebih rendah dari setengahnya. Tapi itu masih berarti bahwa kota ini memiliki ratusan kasus pembunuhan yang belum terungkap, karena yang baru terus berlanjut tanpa henti.

Ketika Oliver mendengar bahwa akhir pekan gencatan senjata terjadi pada hari ulang tahun pertama kematian pamannya, dia mengatur sebuah upaya penggalangan dukungan di sekitar McCulloh.

Brittany Oliver berdiri di dekat tempat pamannya, David Lamont Hill, ditembak mati satu tahun yang lalu
Image caption Brittany Oliver berdiri di dekat tempat pamannya, David Lamont Hill, ditembak mati satu tahun yang lalu

"Saya pikir saya akan menangis lebih banyak hari ini," katanya.

"Sejujurnya, itulah gencatan senjata. Untuk waktu yang lama, saya tidak melakukan apapun. Ini terjadi dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Ketika gencatan senjata terjadi, ini memberi saya kesempatan untuk menemukan suara saya lagi."

Beberapa jam kemudian, di tempat parkir mobil di sisi timur Baltimore, waktu hampir tengah malam. Bridgeford, PFK Boom, dan puluhan anggota masyarakat berkumpul untuk barbekyu sepanjang malam. Sebuah tim pengacara begadang semalaman untuk membantu siapa pun dari lingkungan tersebut yang datang dengan penghapusan catatan kriminal, masalah tunjangan anak, persoalan penyewa dan penggusuran.

Saat tengah malam, suatu sorakan terdengar dari keramaian. Suara rapper Kendrick Lamar meledak dari speaker, menyanyikan "Kita akan baik-baik saja".

"Kita baru saja melampaui 24 jam tanpa pembunuhan di Baltimore, bapak-bapak dan ibu-ibu," sahut Bridgeford. "Siapa bilang kita tidak bisa melakukannya? Mereka bilang kita tidak akan mampu mengalaminya bahkan tidak satu haripun Ayo semuanya, kita bisa melakukan 24 jam lagi!"


Hari 2: Sabtu, 5 Agustus

Detektif polisi Baltimore di lokasi pembunuhan di lingkungan Pigtown pada hari Sabtu
Image caption Detektif polisi Baltimore di lokasi pembunuhan di lingkungan Pigtown pada hari Sabtu

Empat puluh satu jam memasuki Gencatan Senjata Baltimore - setelah satu hari demonstrasi damai, daging di atas panggangan, pertandingan bola basket - mantranya pun terpecah.

Ini dimulai dengan rumor, obrolan tentang pemindai polisi tentang kemungkinan penembakan di lingkungan yang dikenal dengan nama Pigtown. Kemudian rumor tersebut menjadi fakta - seorang pria berusia 24 tahun ditembak dan terbunuh saat berjalan di jalanan. Teman-temannya menjemputnya dan membawanya ke rumah sakit, tapi dia meninggal tidak lama kemudian.

Seorang perempuan dengan rambut panjang yang dikepang dengan kain ungu berdiri di depan pintunya hanya beberapa rumah dari TKP, menyaksikan tim forensik polisi Baltimore memotret trotoar yang bernoda darah.

Dia pernah mendengar tentang gencatan senjata, melihat Bridgeford di televisi. Hatinya cemas bahwa akhir pekan perdamaian berakhir tepat di depan pintu depan rumahnya. Tetangga mengatakan itu adalah penembakan ketiga di blok ini dalam satu setengah tahun terakhir.

"Tujuh teman perempuan saya telah kehilangan tujuh putra mereka (dalam dua bulan terakhir)," katanya. "Tidak pernah terjadi hal seburuk ini, tidak pernah."

"Katakan kepada mereka untuk membangun ppusat rekreasi di sini," seru seorang pria di jalan. "Anda semua mengatakan, 'Gencatan senjata', tapi bagaimana Anda bisa melakukan gencatan senjata? Anda membawa anak-anak keluar dari jalanan. Anak-anak harus melakukan sesuatu selain berada di jalanan."

Seorang pemadam kebakaran Baltimore mencuci darah dari trotoar
Image caption Seorang pemadam kebakaran Baltimore mencuci darah dari trotoar

Tidak lama setelah polisi melepaskan rekaman dari TKP dan mulai membuka jalan kembali, Erricka Bridgeford dan anak-anaknya tiba. Dia menerima pesan teks yang ditakuti dari kontaknya di departemen kepolisian dan bergegas menghampiri, tepat disaat pemadam kebakaran kota menyiramkan air untuk membersihkan darah dari trotoar.

Menatap ke tempat pria itu jatuh, Bridgeford menunjukkan ekspresi hancur. Seorang reporter televisi dengan mikrofon meminta komentarnya, namun Bridgeford mundur dan menolak.

"Ini sangat berarti baginya," kata putranya Paul pelan. "Ini sangat mungkin terjadi, kami berharap yang terbaik, tapi bersiap untuk yang terburuk."

Perlahan, semakin banyak peserta gencatan senjata mulai berdatangan - sebuah cara untuk menunjukkan dukungan masyarakat dan untuk mengguncang kemunculan kematian ini. Bridgeford memanggil mereka untuk bergandengan tangan di sekitar tempat basah di jalan. Beberapa tetangga berdatangan, termasuk perempuan dengan rambut gimbal ungu.

Saat sebuah truk es krim bergulir perlahan-lahan kembali memainkan versi nyaring dari Korobeiniki, Bridgeford mengajak berdoa tidak hanya untuk pemuda itu, tapi juga untuk pembunuhnya.

"Mereka tidak dilahirkan dengan pistol di tangan mereka. Ibu mereka tidak mendorong mereka keluar rahim dengan mengatakan, 'Saya tidak sabar menunggu sampai bayi saya tumbuh dan menembak seseorang pada akhir pekan gencatan senjata,'" katanya.

"Apa yang telah kita lakukan?" Teriaknya, suaranya pecah. "Apa yang telah kita lakukan?"

Lingkaran doa di TKP pembunuhan di hari Sabtu

Kegelapan menyelimuti kota. Di acara makan bersama lain di sisi barat, pengacara kembali berkumpul untuk membantu mengisi dokumen-dokumen penghapusan catatan kriminal. Brittany Oliver dan beberapa teman membakar daun sage. PFK Boom dan anggota tubuh pegiat Nation of Islam berjaga-jaga diam membatu.

Pukul 10 malam, radio polisi berderak kembali - ada pembunuhan lagi, seorang pria berusia 37 tahun ditemukan tewas di sebuah kawasan di selatan Baltimore yang sangat sepi.

Di tempat parkir, salah satu penyelenggara gencatan senjata yang dipimpin oleh Ogun merenungkan sesuatu yang dikatakan seorang pemuda tangguh kepadanya saat penggalangan dukungan.

Dia mengatakan banyak orang mempunyai masalah dengan seseorang saat tidak terjadi mediasi. Jika mereka melihat orang ini di suatu tempat, mereka tidak akan berpikir bahwa masalah itu tidak bisa diselesaikan."

Tidak ada seruan kemenangan ketika tengah malam tiba - momen berlalu tanpa komentar. Sudah ada artikel yang diposting online bahwa gencatan senjata telah "ambruk" dan provokator-provokator di Twitter bercuit bahwa usaha tersebut gagal.

Sekitar jam 1 pagi, Bridgeford naik ke jok belakang mobilnya dan membiarkan anak-anaknya mengantarnya pulang. Dalam kegelapan, dia menyalakan Facebook Live.

"Yang pertama - itu betul-betul membuat saya terpukul. Seakan yang terbunuh adalah orang yang tumbuh besar bersama saya. Saya masih belum tahu nama orang itu," katanya.

"Saya sangat patah hati."


Hari 3: Minggu, 6 Agustus

Salah satu lubang peluru dari serangan terhadap Devrone McKnight
Image caption Salah satu lubang peluru dari serangan terhadap Devrone McKnight

Pada tahun 2001, seorang pria berusia 27 tahun bernama Antoin Lamont McKnight ditembak mati di sebuah sudut yang sepi di lingkungan Sandtown di barat Baltimore. Dia dibawa ke Maryland Shock Trauma Center, di mana dia meninggal karena beberapa luka tembak. Pembunuhnya tidak pernah tertangkap.

Enam belas tahun kemudian, putra Antoin McKnight, Devrone, dilarikan ke rumah sakit yang sama dengan luka tembak di wajah. Berbeda dengan ayahnya, Devrone bertahan hidup.

Pada pagi terakhir akhir pekan gencatan senjata, dia duduk di ruang tamu ibunya, teringat saat tiga hari yang lalu ketika seorang pria menyerangnya dan pamannya saat mereka duduk di teras. Ada foto ayahnya di sebuah meja yang berada tepat di bawah lubang peluru yang menembus dinding dari serangan itu.

Dia baru berumur tujuh tahun saat ayahnya dibunuh, namun Devrone mengingat mengukir labu bersamanya di Halloween, dia ingat pesta-pesta ulang tahun. Dia tidak tahu banyak tentang apa yang ayahnya ikut terlibat, tapi mengakui bahwa seperti banyak orang Baltimore, dia mungkin terjerumus dalam beberapa jenis kegiatan kriminal.

"Saya tidak ingin menjadi seperti itu jadi saya melakukan segala sesuatu dalam kekuatan saya untuk menjauh dari kehidupan jalanan," katanya.

Devrone McKnight masih memiliki serpihan peluru yang tertanam di pipi dan lehernya
Image caption Devrone McKnight berdiri di teras tempat dia ditembak, jendela di belakangnya hancur oleh tembakan
Devrone McKnight masih memiliki serpihan peluru yang tertanam di pipi dan lehernya
Image caption Devrone McKnight masih memiliki serpihan peluru yang tertanam di pipi dan lehernya

Devrone bekerja di rumah sakit yang sama tempat ayahnya meninggal dan belajar di Universitas Morgan State, mempelajari manajemen konstruksi. Sebelum titik ini, dia menduga jika dia pergi sekolah, pergi bekerja, dan memikirkan urusannya sendiri, dia tidak akan pernah berakhir seperti ayahnya.

Tapi serpihan peluru yang tertanam di wajah dan lehernya membuktikan sebaliknya - kejutan dari fakta tersebut membuat dia berlari ke jalan pada hari pertama gencatan senjata dengan masih memakai pakaian rumah sakit yang tipis, mencoba meyakinkan orang-orang yang tidak dia kenal untuk peduli.

Pada tahun 2017, menurut data Kepolisian Baltimore, ada 404 orang yang selamat setelah tertembak. McKnight merasa sangat beruntung bahwa, tidak seperti kedua pria yang meninggal pada hari Sabtu, dia memiliki kesempatan untuk terlibat dalam aksi ini.

"Saya hanya ingin menjadi suara korban yang bisa berbicara sekarang. Sangat menyedihkan bahwa memasuki hari kedua program gencatan senjata, ada orang yang terbunuh," katanya.

"Saya agak merasa sedih dan ikut bersalah karena saya tidak bertindak lebih cepat."

Devrone dan ibunya menuju ke gereja, untuk bersyukur kepada Tuhan karena telah menyelamatkan nyawanya dan berdoa untuk tangan ahli bedah yang pada akhirnya akan ditugaskan melepaskan peluru yang masih bersarang di lehernya, dekat dengan pembuluh arteri. Kemudian dia menuju ke pusat kota Baltimore, di mana salah satu pawai terakhir akhir pekan tersebut sedang berlangsung.

Ceasfire marchers move through downtown Baltimore

Sekitar 150 demonstran berkumpul di kaki Menara Phoenix Shot, setinggi 234 kaki, sebuah bangunan abad ke-19 di mana timah cair diteteskan dari atas ke bak mandi air dingin di bagian bawah - teknik kuno membuat peluru.

Mereka berbaris dengan khidmat melewati Balai Kota Baltimore, dan masuk ke sebuah studio televisi yang ditutup tirai hitam tempat para penyelenggara dan demonstran bergiliran membaca nama lebih dari 200 pria dan wanita yang dibunuh pada tahun 2017, dimulai pada yang pertama tahun ini.

Sheamon Pearlie

James Williams

Davonte Jackson

Jamal Washington

Timothy Stephens

Seorang pria dengan drum tangan memukul dua ketukan setelah setiap nama disebutkan.

Charles Frazier

Tyrell Matthews

Carlos Montgomery

Channon Simpkins

Tony Tingle

Brittany Oliver membakar daun sage sebagai simbol pemulihan
Image caption Brittany Oliver membakar daun sage sebagai simbol pemulihan

Seiring dipanggilnya setiap nama di ruang yang pengap itu, orang mulai menangis. Ada desahan saat pembacaan "orang tak dikenal".

Timothy Campbell

Tyione Brown

Emmanuel Johnson

Marco Stevenson

Antonio Griffin

Akhirnya, Bridgeford memimpin orang-orang untuk membaca dua nama terakhir, yang masih baru diketahui sebagian (namanya):

Trey

Donte, juga dikenal sebagai EA

Kim Ford membawa foto anaknya, Troy Biggus, yang dibunuh saat berusia 21 tahun
Image caption Kim Ford membawa foto anaknya, Troy Biggus, yang dibunuh saat berusia 21 tahun

Pada tengah malam malam itu, akhir pekan gencatan senjata resmi ditutup, Bridgeford berada di rumah, kelelahan, makan pizza. Tapi dia kembali bersemangat.

"Tidak ada pembunuhan yang terjadi di Sandtown. Orang-orang menelepon dan mengatakan kelompok mereka tidak akan - dan tidak melakukannya," katanya. "Apa yang bisa dilakukan Baltimore adalah 41 jam tanpa pembunuhan, dan kemudian dari pukul 10 malam sampai pukul 12 pagi sekarang, itu 26 jam lagi tanpa pembunuhan. Tapi lima jam di antaranya adalah apa yang saya ingin Anda ingat. "

Keesokan harinya, sebuah pertemuan yang disebut Gencatan Senjata Baltimore 365 direncanakan. Penyelenggara bersikeras bahwa tugas mereka tidak berakhir dengan gencatan senjata - salah satu agenda pertama mereka adalah membantu membiayai penguburan dua orang yang telah meninggal.

Meskipun enam orang ditembak selama akhir pekan, dua yang secara fatal, Bridgeford masih menganggap bahwa gencatan senjata itu sukses. Untuk satu akhir pekan tunggal, katanya, beberapa komunitas yang paling bermasalah di Baltimore memenuhi harapan mereka.

"Saya terlahir dengan satu tangan ... Saya harus mengalami bagaimana rasanya menjadi warga Baltimore, terlihat berantakan dan harus menemukan keutuhan," katanya.

"Jangan mati rasa ... Kita perlu mengingat perasaan bagaimana saat kita peduli."

Keesokan paginya, Departemen Kepolisian Baltimore akhirnya melepaskan nama korban hari Sabtu:

Lamontrey Tynes

Donte Johnson

Mereka juga melaporkan satu pembunuhan lagi, yang ke-212 di kota itu.

Street view, Baltimore

.

Topik terkait

Berita terkait