Penggunaan AC oleh pembantu rumah tangga di Hong Kong dipersoalkan

PRT di Hong Kong Hak atas foto TENGKU BAHAR/AFP
Image caption Dua pekerja domestik melewati unit apartemen ber-AC di Hong Kong. Seruan agar pembatasan penggunaan AC oleh pekerja rumah tangga sudah ditentang.

Seorang anggota dewan kota di Hong Kong, Michael Lee, menyuarakan perlunya para majikan memberlakukan ketentuan apakah pekerja rumah tangga boleh menggunakan AC di rumah majikan atau tidak.

Politikus dari Partai Liberal itu menyuarakan pendapatnya setelah, menurutnya, terjadi peningkatan pengaduan menyangkut perlakuan "tak manusiawi" yang dialami oleh para tenaga kerja domestik, disebabkan karena tidak ada ketentuan khusus tentang penggunaan pendingin ruangan atau AC ketika mereka mulai bekerja di rumah majikan, sebagaimana dilaporkan oleh Radio Television Hong Kong (RTHK).

"Ada kekhawatiran besar terkait masalah ini menyangkut apakah seorang pekerja rumah tangga tidak meminta izin majikan jika ia ingin menyalakan pendingin ruangan," kata Lee kepada RTHK.

"Saya pikir harus ada ketentuan rumah tangga untuk memastikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pekerja domestik."

Ditentang

Ditambahkannya banyak pekerja rumah tangga "berasal dari negara-negara yang panas. Saya tidak tahu apakah mereka terbiasa tidur dengan pendingin ruangan."

Hong Kong mempekerjakan sekitar 360.000 pembantu rumah tangga (PRT) asing, sebagian besar dari Indonesia dan Filipina.

Hak atas foto YOKO AZIZ
Image caption Suhu rata-rata selama musim panas di Hong Kong adalah 31 derajat Celcius.

Usulan agar ada ketentuan atau pembatasan penggunaan AC oleh para pembantu rumah tangga sudah ditentang oleh kalangan buruh migran dan aktivis di Hong Kong.

"Anjuran Partai Liberal itu sangat buruk, tidak adil dan tidak manusiawi," tegas Ketua Aliansi Buruh Migran Internasional di Hong Kong, Eni Lestari, yang berasal dari Indonesia itu.

Peraturan di Hong Kong mengharuskan pekerja rumah tangga tinggal bersama majikan. Namun karena klausal dalam kontrak hanya menyebutkan bahwa majikan berkewajiban menyediakan akomodasi "layak", maka banyak pekerja rumah tangga tinggal dalam kondisi tak memadai.

Menurut organisasi Misi untuk Pekerja Migran di Hong Kong, sekitar tiga di antara lima pekerja rumah tangga di sana mendapat akomodasi memadai, dan satu di antara 50 orang terpaksa tidur di tempat-tempat tidak layak, seperti WC, balkon atau ruang pakaian.

Hak atas foto DALE DE LA REY/AFP
Image caption Mantan TKI di Hong Kong, Erwiana Sulistyaningsih yang pernah mengalami penyiksaan, menyuarakan perlindungan bagi tenaga kerja domestik.

Ketua Aliansi Buruh Migran Internasional di Hong Kong, Eni Lestari, mengatakan tanpa ketentuan baru pun seharus fasilitas AC disediakan.

"Sudah kewajiban majikan memberi fasilitas bagi PRT termasuk AC ketika musim panas, dan heater (pemanas ruangan) ketika musim dingin," jelas Eni Lestari kepada wartawan BBC Indonesia, Rohmatin Bonasir.

Dalam kesempatan sebelumnya, politikus dari Partai Liberal Michael Lee pernah menyampaikan usulan agar pihak berwenang menempuh langkah-langkah untuk memastikan hak-hak pekerja domestik dihormati.

Pada Mei tahun ini, Lee mengusulkan agar Departemen Imigrasi mengadakan sidak ke rumah-rumah majikan atau mengumpulkan foto tentang akomodasi yang diberikan kepada pekerja rumah tangga.

Topik terkait

Berita terkait