Menghapus tato dengan 'imbalan' hafalan Qur'an

hapus tato Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Donny Supriadi menunjukkan tato-tato di lengannya.

Puluhan orang tampak mengantri untuk mengikuti program penghapusan tato di Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (12/08) malam, dengan 'imbalan' hafalan surat Ar Rahman dari Al Qur'an.

Donny Supriadi meringis saat sinar laser itu ditembakkan ke rajah yang terukir di jari-jari tangannya. Sinar berbentuk titik merah itu ditorehkan mengikuti huruf-huruf yang dicacahkan di setiap jarinya.

Dia sedang menjalani proses penghapusan tato dengan menggunakan mesin Laser Q Switch nd YAG. Sinar laser akan memecahkan tinta yang disuntikan ke dalam lapisan kulit itu. Sekitar 15 menit, proses tersebut selesai, meninggalkan warna kemerahan di sekitar area tato.

"Panas," kata Donny saat ditanya rasa dari sinar laser itu. Sebelumnya, Donny sempat menjalani anastesi untuk mengurangi rasa sakit saat proses penghapusan tato berlangsung.

Pria berpostur tinggi besar itu lalu menunjukkan jari jemarinya yang telah ditembaki laser. Tulisan "Them F**k" di jarinya yang tadinya berwarna hitam pekat, mulai memudar dengan warnanya yang berubah menjadi keabu-abuan. Untuk menghilangkan total rajahannya itu, Donny harus menjalani proses yang sama sekitar 4 hingga 5 kali lagi.

Tato di jarinya itu hanya sebagian kecil dari tato yang ada di tubuhnya. Sebagian besar badan Donny memang dihiasi tato aneka motif, dari mulai lettering hingga portrait.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Penghapusan tato menggunakan sinar laser yang akan terasa panas. Sebelumnya peserta dianastesi di area tato yang akan dihapus untuk mengurangi rasa sakit.

Donny mulai menato tubuhnya pada 18 tahun. Setiap momen berharga dalam hidupnya selalu dia curahkan lewat goresan tinta di tubuhnya.

"Teman-teman di jalanan, di musik bawah tanah, selalu berpikiran kagok edan (kepalang basah). Jadi udah gini (ditato), nanggung aja. Jadi seakan-akan di pikiran kita, neraka itu hangat, biarin aja nanti juga kebal," tutur Donny yang merupakan vokalis sebuah band underground lokal Bandung bernama Jeruji.

Tetapi pada 2012, ketika mulai memperdalam agama Islam, Donny mengetahui bahwa tato haram dalam Islam.

"Waktu saya berhijrah, untuk ke masjid itu mikir berapa kali karena keadaan bertato seperti ini," ujar pria yang kini biasa dipanggil Ayah Donny ini.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Salah seorang peserta, Donny Supriadi menunjukkan tato di jari-jarinya yang ingin dihapus. Mantan vokalis band underground, Jeruji, ini ingin menyempurnakan proses berhijrahnya.
Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Setelah dilaser, tato akan terlihat memudar. Proses hilangnya tato kan bertahap melalui beberapa kali proses laser.

Kegelisahan yang sama juga dirasakan Saidah Halimatusadiah. Perempuan berusia 24 tahun itu ingin menghilangkan tato yang tercetak di sepanjang tangan kirinya.

"Dulu biasa lah, ABG (Anak Baru Gede) labil, terus broken home juga, jadi pengen dapat perhatian dari orang tua dengan cara seperti itu. Pokoknya kesal aja sama diri sendiri. Jadi gitu lah, namanya dulu labil," ungkap Saidah.

Dia menganggap ketika dewasa tato justru membuatnya kesulitan untuk mendapatkan jodoh dan pekerjaan, dan menjalankan ibadah.

"Sekarang sudah mikir, aku tuh gimana yah kalau suatu saat nanti aku meninggal, kalau sampai anak aku sampai tahu, tetangga-tetangga yang mandiin sampai tahu. Ngeri ke situnya juga," kata warga Cikampek ini.

Saidah pernah berupaya untuk menghapus tato di tangan kirinya tetapi batal karena biaya yang sangat besar sekitar Rp 4 juta untuk sekali perawatan.

Hak atas foto Julia Alazka
Image caption Program penghapusan tato juga diikuti oleh kaum perempuan.

Hapus tato dan hafalan surat Qur'an

Program penghapusan tato gratis ini diselenggarakan oleh Gerak Bareng Community, Punk Muslim, dan IMS bekerja sama dengan Komunitas Dakwah dan Sosial (KODAS) Bandung. Acara ini digelar di Masjid Istiqamah, Jalan Citarum Kota Bandung, Sabtu 12 Juli 2017.

Meski diberi judul penghapusan tato gratis, namun peserta harus membayar dengan cara lain, yakni dengan hapalan surat Ar Rahman.

"Ini memotivasi teman-teman yang mau dihapus tatonya untuk serius dalam berhijrah karena mungkin ada yang mau dihapus tatonya dengan motif menghapus tatonya yang jelek atau mengganti tatonya, dan mungkin ke dokter mahal, jadi memilih ingin ikut program gratis ini," tutur Ketua Program Penghapusan Tato dari KODAS, Rifki Saeful Rohman.

Rizki Sari, dokter yang terlibat dalam program penghapusan tato, mengungkapkan, teknik penghapusan tato dengan menggunakan sinar laser sejauh ini masih merupakan metode yang paling aman, karena tidak merusak jaringan kulit. Sinar laser ditembakkan langsung ke tinta tato yang nantinya akan pecah dan memudar.

Menurut Rizki sejumlah orang ingin menghilangkan tatonya dengan cara yang berisiko, antara lain dengan menggunakan zat-zat kimia yang korosif dan abrasif atau bahkan menggunakan alat seperti solder, silet, dan pisau.

"Biasanya proses-proses tradisional yang dilakukan sama orang yang memilki tato itu, ujung-ujungnya menimbulkan kecacatan atau scar dan belum tentu pigmen tatonya hilang, karena ada berapa peserta yang dia sudah memakai berbagai cara, pigmen tatonya tetap ada," ujar dokter estetik di sebuah rumah sakit di wilayah Tangerang, Banten ini.

Meski teknik laser disebut sebagai cara yang aman, namun Rizki mengakui, teknologi itu masih mahal. Untuk satu sentimeter tato, seseorang harus membayar dana sebesar Rp 200 ribu. Biaya juga akan bertambah besar, karena proses penghapusan tato harus dilakukan lebih dari satu kali hingga si tato benar-benar pudar.

Laporan wartawan di Bandung, Julia Alazka

Topik terkait

Berita terkait