Kikan Namara antara lagu nasionalis, isu radikalisme dan intoleransi

KIKAN NAMARA Hak atas foto FACEBOOK/KIKAN NAMARA

Melalui musik dan pengaruhnya sebagai musisi Kikan Namara, mantan vokalis band Cokelat ini berharap dapat menyebarkan pesan-pesan yang sarat rasa nasionalisme, toleransi serta memerangi radikalisme di kalangan generasi muda.

Ditemui di cafe miliknya di kawasan Jakarta Selatan, Kikan tampak tergesa-gesa karena saya datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Pada Agustus ini jadwalnya cukup padat, karena sering diundang tampil menyanyikan lagu-lagu bertema nasionalisme di bulan peringatan Kemerdekaan ini ataupun meladeni wawancara yang berkaitan dengan single terbarunya Berkibarlah Indonesiaku yang merupakan karya Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri.

"Pertama kali dengar itu, saya harus bisa menyuarakan semangat jadi orang dengar lagu ini ingin lebih mencintai tanah air," kata Kikan tentang isi lagu barunya.

Kikan pertama kali mendapatkan tawaran menyanyikan lagu ini langsung dari Hanif, pada September/Oktober 2016 lalu.

Lagu bertema nasionalisme

Ini bukan kali pertama Kikan menyanyikan lagu-lagu dengan tema nasionalisme, sekitar 15 tahun lalu ketika masih bersama Band Cokelat dikenal dengan lagu Bendera.

Band ini juga sempat mengeluarkan album khusus yang berisi lagu-lagu nasionalisme "Untukmu Indonesiaku" pada 2006 lalu. Album itu diluncurkan untuk mengenalkan lagu-lagu nasional dengan aransemen yang baru.

Keprihatinan Kikan, terhadap anak-anak muda saat ini yang dianggap kurang mengenal lagu nasional menjadi alasan utamanya untuk mengaransemen ulang lagu-lagu tersebut.

"Saya punya dua anak SMP kelas 3 adiknya kelas 2, beda sekali dengan kita dulu yang ada upacara tiap Senin kemudian seni musik yang mengenalkan lagu-lagu nasional, sing dengan lagu-lagu nasional ini, kalau saya nyanyi mereka tanya 'bu itu lagu apa?' jadi saya lakukan agar anak-anak generasi di bawah kita ini juga tumbuh mencintai lagu nasional," kata perempuan kelahiran Jakarta ini.

Hak atas foto FACEBOOK/KIKAN NAMARA

Kikan mengaku ingin kembali membuat lagu-lagu bertema nasionalisme, kalau perlu pengerjaannya bersamaan dengan album solo pertamanya setelah keluar dari Band Cokelat.

Melalui lagu dia ingin menyebarluaskan pesan-pesan nasionalisme dan perdamaian.

"Sebagai musisi yang sangat saya kuasai adalah musik, saya merasa harus membeikan sesuatu untuk orang banyak, main musik kan bagian dari ibadah, subtansi yang disampaikan harus ada isinya, saya bisa aja bikin lagu soal cinta dan laku-laku saja, dengan influence pengaruh bahwa saya didengerin lewat lagu, saya merasa itu dipergunakan untuk sesuatu yang positif, saya tak bisa bilang mau mengedukasi orang tapi arahnya ke sana," ungkap Kikan.

Selain resah dengan anak-anak muda yang mulai jarang kenal lagu nasional, masalah penyebaran intoleransi dan radikalisme yang menjadi perhatian Kikan.

Hak atas foto FACEBOOK/KIKAN NAMARA
Image caption Kikan dalam acara sebagai duta damai BNPT

Radikalisme dan intoleransi

Sejak 2017 ini, dia bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme BNPT untuk menjadi Duta Damai Dunia Maya, yang tujuannya untuk menyebarkan pesan-pesan perdamaian dan anti-radikalisme bersama dengan anak-anak muda dai berbagai daerah di Indonesia.

"Tugasnya adalah menyebarkan virus perdamaian, kalau kita tahu saat ini Indonesia kita mudah sekali dipecah-belah dengan berbagai isu, agama, SARA dan sebagainya, jadi kami membuat konten untuk mengcounter itu," jelas Kikan.

Sebagai ibu dari dua anak, dia mengaku khawatir dengan penyebaran konten dan perekrutan anak-anak muda oleh kelompok radikal melalui media sosial dan internet.

"Anak-anak muda itu paling banyak yang menjadi sasaran perekrutan, dan rentan karena menghabiskan minimal tiga jam mengakses internet dengan laptop atau gawai, mereka mudah sekali terpapar konten radikal," kata dia.

Radikalisme dan intoleransi ini menurut Kikan, harus 'dilawan' dengan pesan yang positif. Kikan mengaku mengalami secara langsung menurunnya nilai-nilai toleransi di kalangan masyarakat belakangan ini.

"Contoh yang paling gamblang paling simple itu menjelang pilkada, saya sedih sebagai warga Jakarta, betapa dangkal dan tidak teredukasi masyarakat kita sehingga mudah banget diadu domba," ungkap dia.

Kikan berharap 'pengaruhnya' sebagai sosok publik mempengaruhi sebanyak mungkin anak-anak muda untuk lebih meningkatkan toleransi, mencintai keberagaman dan mewaspadai radikalisme.

Hak atas foto BBC INDONESIA

'Diserang' lewat media sosial

Meski menyebarkan pesan perdamaian tak semua sepakat dengan Kikan, banyak juga yang kontra terhadap gerakan yang dilakukannya.

Ketika BNPT memposting foto dan pesan perdamaian yang disampaikan Kikan melalui akun Twitternya, sejumlah komentar negatif pun bermunculan. Tapi Kikan mengaku dirinya tak mau menghabiskan waktu untuk menanggapi orang-orang yang kontra terhadap 'tugas' barunya sebagai Duta Damai Dunia Maya BNPT.

"Sebetulnya tentang penolakan ini sudah jadi sesuatu yang saya perhitungkan sebelumnya dengan tim manajemen sudah dihitung pasti ada pro kontra dan serangan , haters atau apa ke saya, sejujurnya saya tak terlalu kaget jadi ketika kejadian itu saya tak terlalu kaget ketika itu terjadi. kembali lagi saya duta damai, karena saya punya misi lebih penting menyebarkan perdamaian selagi saya bisa," jelas Kikan.

Hak atas foto TWITTER

Dia mengatakan dalam komentar di media sosial banyak orang yang menganggap Islam selalu dikaitkan dengan terorisme, dan menuduh BNPT melakukan stereotyping dengan menyebut orang yang tak setuju dengan langkahnya merupakan teroris.

"Buat saya justru jadi pertanyaan dan itu harusnya jadi pertanyaan yang bisa kita jawab bersama-sama, saya tahu betul untuk sampai ke titik menentukan orang itu teroris atau tidak itu kan ada indikator yang harus dicek benar-benar jadi bukan setiap orang dapat cap seperti itu," kata Kikan.

Meski 'diserang' melalui media sosial, Kikan mengaku enggan untuk meladeni mereka yang menentangnya.

"Saya tak pernah menunjuk mereka yang salah saya yang bener, tidak ke sana, kita Indonesia dibangun dengan keberagaman, dan hari ini 72 tahun kok urusan yang harusnya tak jadi perpecahan itu gampang banget dan menyedihkan sekali," kata dia, "Itu sudah konsekuensi dan kembali lagi nawaitu saya Insya Allah lurus, dan saya ingin bangsa ini jadi lebih baik lagi".

Berita terkait