Ritual Yazidi untuk terima lagi perempuan yang menjadi budak seks ISIS

Ritual menerima kembali perempuan Yazidi
Image caption Pemuka Yazidi memberikan pemberkatan di Lalish kepada perempuan-perempuan yang pernah disekap sebagai budak seks ISIS.

Kegiatan keagamaan di Desa Lalish, yang berbatasan dengan wilayah Kurdi, di Irak utara, dalam beberapa terakhir makin ramai.

Terletak di antara dua lembah, Lalish bukan desa biasa.

Bagi pengikut Yazidi, Lalish sangat disucikan. Di ini, para pengikut Yazidi harus melepas sepatu atau sandal saat mengikuti upacara khusus yang biasanya dikaitkan dengan kelahiran, pernikahan, dan kematian pemeluk.

Inti prosesi adalah memercikkan air yang mengalir dari sumber yang terdapat di satu gua. Setelah itu, pemuka agama kemudian memberikan semacam pemberkatan.

Dalam dua tahun ini, acara ritual ditambah, yaitu untuk menerima kembali perempuan-perempuan Yazidi yang pernah menjadi budak seks milisi kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).

"Setiap yang datang ke sini punya cerita tersendiri tentang apa yang dialami saat berada dalam sekapan ISIS," kata Iman, salah seorang perempuan Yazidi yang baru saja mengikuti 'upacara pembersihan' di Lalish, kepada BBC.

"Apa yang ISIS lakukan kepada kami sungguh sangat buruk," kata Shireen, yang datang ke Lalish bersama Iman.

Iman dan Shireen adalah dua dari sekitar 6.000 warga Yazidi yang ditangkap oleh milisi ISIS dari desa-desa mereka di kawasan Sinjar, Irak utara, pada Agustus 2014.

Ketika itu ISIS baru saja merebut Mosul dan berbekal senjata dan rasa percaya diri, para milisi ISIS menyerbu desa-desa Yazidi.

Para perempuan Yazidi ditahan, dimasukkan ke penjara, dan diperjual-belikan sebagai budak. ISIS punya pasar khusus untuk jual beli perempuan Yazidi, harganya mulai Rp93 juta.

Ekhlas, salah seorang perempuan belia Yazidi diambil dari penjara dan menjadi budak seks selama setengah tahun. Ia mengatakan dirinya diperkosa setiap hari oleh milisi ISIS.

Ekhlas berhasil melarikan diri dan beruntung ia ditemukan oleh aktivis yang kemudian membawanya ke Jerman untuk menjalani terapi dan rehabilitasi.

Fatwa bagi perempuan yang pernah menjadi budak seks ISIS

Image caption Desa Lalish terdapat di dekat perbatasan dengan wilayah Kurdi di Irak utara.

Sama seperti Ekhlas, Iman dan Shireen juga melarikan diri dari penyekap mereka.

Perubahan peta di lapangan

Akhir-akhir ini semakin banyak perempuan Yazidi yang lepas dari sekapan ISIS, karena terjadinya perubahan peta kekuatan di lapangan.

Ini antara lain ditandai dengan kekalahan ISIS di Mosul dan kawasan-kawasan yang selama ini mereka kuasai.

Iman datang ke Lalish untuk bertemu dengan kerabat dan untuk menjalani 'prosesi pembersihan diri'. Ia diberi air yang dipercikkan ke kepalanya dan membuat simpul pada kain.

"Kami meyakini, ketika kami membuat simpul di sini, satu orang Yazidi (yang tengah disekap di satu tempat) akan dibebaskan," kata Iman.

Ia mengaku upacara ini membuat hatinya tenang dan merasa diterima lagi sepenuhnya sebagai anggota komunitas Yazidi.

Image caption Perempuan Yazidi membuat simpul dengan harapan warga Yazidi yang tengah disekap di satu tempat bisa bebas.

Perempuan Yazidi lain, Nour, datang ke Lalish setelah tujuh kali diperjualkan di 'pasar budak' ISIS. Ia mengatakan kehamilan membuatnya tak mendapatkan perlakukan seburuk yang diterima perempuan-perempuan Yazidi lain.

Setelah melahirkan, anaknya diambil oleh ISIS, dan dia melakukan berbagai cara, agar tak diambil menjadi budak seks, antara lain 'dengan sengaja tampil jelek'.

Nasibnya berubah setelah melihat ada peluang untuk lari. Kini ia kembali ke Lalish sebagai bagian dari upaya untuk membangun kembali kehidupannya secara normal.

Para pemuka Yazidi sudah mengeluarkan fatwa bahwa perempuan-perempuan yang pernah disekap ISIS atau pernah menjadi budak seks akan diterima lagi secara terbuka di komunitas mereka.

Saat ini diperkirakan sekitar 3.000 warga Yazidi masih berada dalam sekapan ISIS, banyak di antaranya yang menjadi 'budak seks atau tentara anak'.

Topik terkait

Berita terkait