Kisah pemilik salon yang merias pengantin di kamp pengungsian

Rozhin Ahmed-Hussein Hak atas foto Helen Nianias
Image caption Rozhin Ahmed-Hussein berfoto bersama kelima putrinya di depan salon kecantikan miliknya.

Hidup harus terus berlanjut, begitu pun dengan kehidupan di salah satu kamp pengungsian di Irak bagian utara. Ketika seorang laki-laki dan perempuan memutuskan untuk menikah dengan merayakannya besar-besaran, tentu harus ada orang yang menanganinya.

Dia adalah Rozhin Ahmed-Hussein, seorang pemilik salon kecantikan pengungsi suku Kurdi dari Suriah yang melakukan sebuah pekerjaan langka di kamp pengungsian.

"Sebagian besar orang yang tinggal di kamp pengungsian berasal dari kalangan tidak mampu, dan pengungsi Suriah seperti saya, jadi ketika saya akan merias seorang calon pengantin, saya akan merasa sangat senang," kata Rozhin Ahmed-Hussein.

Permintaan selalu ada

Jika Anda pergi ke kamp pengungsian yang berdebu di Mosul utara, mungkin Anda tidak menyangka akan menemukan sebuah salon kecantikan dan toko yang menyewakan gaun serba putih dan jas turquoise dari balik etalase.

Di kamp pengungsian ini, tempat-tempat tinggal darurat dipisahkan oleh hamparan luas batu kerikil, yang membuat debu-debu beterbangan di tengah suhu 47 derajat Celcius.

Ada 41.000 pengungsi Suriah yang tinggal di tempat penampungan ini. Kondisinya seringkali membuat putus asa, namun tidak menghentikan orang-orang untuk jatuh cinta. Dan jika itu terjadi, mereka melakukan apa yang dilakukan orang-orang tempat-tempat lainnya, yaitu menikah.

Hak atas foto Helen Nianias
Image caption Setelah melihat banyaknya permintaan gaun-gaun pengantin dan pesta, Rozhin mulai menyediakan pakaian-pakaian pengantin.

Salon kecantikan milik Rozhin bukanlah satu-satunya salon di kamp tersebut, tapi mungkin yang paling bagus.

Beberapa peralatan, seperti tempat cuci rambut serta kursinya, mengisyaratkan bahwa Rozhin bukanlah orang baru yang bergerak dalam bisnis ini. Wajahnya yang tanpa riasan terlihat bersih.

"Saya berias sepanjang hari, ini seperti melakukan pekerjaan," katanya. Kelima putrinya yang berusia antara satu sampai tujuh tahun seringkali memakai pakaian yang sama.

"Saya suka tampil glamor, saya selalu seperti ini," katanya.

Rozhin dan keluarganya melarikan diri dari Qamishli, sebuah kota Kurdi di Suriah pada tahun 2012, saat perang sipil semakin intens.

"Di Suriah saya memiliki kehidupan yang normal, bekerja sebagai ahli kecantikan, lalu saat kami datang ke sini, situasinya terlalu sulit, terlalu berat menyesuaikan diri dengan lingkungan," katanya.

Modal pinjaman

Dia sering menangis, katanya, karena putrinya jatuh sakit dan dia rindu kampung halaman.

"Saya terus meminta kepada suami saya agar bisa kembali lagi ke kampung halaman, meskipun itu berbahaya, tapi dia menolaknya. Pada saat itu, saya menyesuaikan diri dengan situasi dan anak saya berangsur membaik."

Kondisi ini membantunya untuk membuka usaha. Awalnya mereka mendirikan toko kelontong yang dikelola oleh suaminya, namun setelah tokonya tidak banyak meraup keuntungan, Rozhin melihat peluang dalam dirinya. Dia lalu meminjam sejumlah uang dari pamannya dan mendirikan sebuah salon kecantikan.

Hak atas foto Jwan S Kamal
Image caption Selain memiliki pelanggan tetap yang ingin memotong rambut dan membentuk alis, Rozhin juga sudah menangani hingga 30 pesta pernikahan setiap tahun.

Setelah melihat banyaknya permintaan gaun-gaun pengantin dan pesta, dia mulai menyediakan pakaian-pakaian yang dimaksud. Kini salon kecantikan yang diberi nama Tulin (diambil dari nama salah seorang putrinya) sudah berjalan selama lima tahun.

Selain memiliki langganan-langganan tetap yang ingin memotong rambut, membentuk alis atau hanya berkunjung, Rozhin juga sudah menangani hingga 30 pesta pernikahan setiap tahun. Banyak dari para pelanggannya adalah orang Kurdi, dan tidak bisa disebutkan seberapa mewah pesta-pesta pernikahan ini.

Hak atas foto Jwan S Kamal
Image caption Kini salon kecantikan yang diberi nama Tulin itu sudah berjalan selama lima tahun.

Di kamp tersebut terdapat dua ruang aula yang cukup untuk menampung 300-400 tamu, jumlah yang sedikit menurut standar orang-orang Kurdi. Mereka mengatakan jumlah yang hadir seharusnya sekitar 1.000 orang.

Dalam pesta pernikahan orang-orang Kurdi, para tamu bahkan merias tebal bagian matanya agar nampak berkilau. Mereka menggunakan bedak yang tebal, rambut panjang palsu atau hijab dengan logo desainer.

Karena suhu di kamp pengungsian amat panas, biasanya Rozhin akan mengerjakan dulu bagian rambut sang pengantin perempuan. Lalu dia akan merias bagian wajah belakangan untuk menjaga agar riasan tidak luntur.

Upacara pernikahan biasanya berlangsung pada jam 19.00 atau 20.00 saat udara mulai sejuk, namun di musim panas suhu akan tetap di kisaran 30 derajat Celcius - faktor yang mengharuskan wajah dirias setebal mungkin.

'Semua bersaudara'

Setiap pengantin membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam untuk bersiap-siap, tapi ini bukan hanya untuk para pengantin perempuan saja. Seluruh anggota keluarga yang hadir dalam pesta pernikahan tersebut mungkin ingin rambut serta riasan wajah mereka selesai, dan terkadang dalam sehari Rozhin harus menangani dua pesta pernikahan sekaligus.

Beruntung dia mempunyai teman-teman yang siap membantunya. Mereka adalah orang-orang dari Korps Medis Internasional yang sambil menjalankan sebuah program pelatihan bagi para penyintas kekerasan berbasis gender.

"Banyak pekerjaan yang harus dilakukan berkenaan dengan pesta pernikahan," kata Rozhin. "Ketika saya memanggil mereka untuk datang dan membantu mereka sangat senang- kita semua bersaudara dan kami memiliki kepercayaan satu sama lain. Jika pekerjaan sudah selesai kami minum teh dan kopi bersama."

Hak atas foto Helen Nianias
Image caption Rozhin memiliki banyak teman yang siap untuk membantunya merias pengantin.

Sebagian besar para calon pengantin yang ditangani oleh Rozhin masih sangat muda.

"Biasanya saya tidak menanyakan berapa umur mereka, tapi kalau dilihat dari wajahnya mereka rata-rata berusia sekitar 18 atau 19 tahun.

"Saya tidak tahu mengapa mereka menikah semuda itu, tapi ketika Anda berusia 18 tahun dan Anda tinggal di sini bersama keluarga Anda - apa lagi yang harus dilakukan?"

Ini juga berarti mereka akan mengadakan sebuah pesta besar. Hal ini penting bagi orang-orang yang mengalami kerasnya hidup dan kesulitan di kamp pengungsian.

"Bagi setiap perempuan lajang ini adalah hari yang istimewa untuk mengenakan sebuah gaun mewah dan riasan yang glamor," ujar Rozhin. "Hanya satu hari untuk merasa istimewa. Tak ada seorang pun yang terluka oleh ini."

Meskipun beberapa mempelai perempuan bisa menikmati pengalamannya menjadi glamor, sebuah lukisan dinding terpampang menunjukkan seorang pengantin perempuan yang memegang boneka beruang di luar toko.

Ini merupakan himbauan serius tentang gadis-gadis di bawah umur yang dinikahkan dengan para pria yang jauh lebih tua - sesuatu yang sangat merajalela di kamp-kamp pengungsian.

Hak atas foto Jwan S Kamal
Image caption Sebuah lukisan di dinding memperingatkan soal pernikahan anak di bawah umur.

Tapi tokonya menjadi tempat pelarian, meski para perempuan tidak bisa melupakan masalah mereka sama sekali.

"Di salon kami mencoba riasan dengan teknik baru, tapi kami selalu memikirkan teman-teman dan saudara-saudara kami."

Rozhin adalah tulang punggung keluarga. Suaminya, Ahmed, bekerja serabutan, kadang esoknya tidak ada pekerjaan dan tinggal di rumah.

"Sayalah yang menghasilkan uang untuk keluarga dan suami saya dan saya tidak memiliki masalah dengan hal ini. Biasanya para pria di sini tidak suka jika perempuan yang bertanggung jawab. Namun dia berujar, 'Kami tidak masalah jika kamu yang harus mencari uang. '"

Usaha salon yang didirikannya melewati proses jatuh bangun. Setelah melahirkan putri kembarnya baru-baru ini, dia harus cuti dan menutup salonnya selama beberapa bulan, dan membiarkan para pesaingnya di kamp untuk melayani beberapa pelanggan setianya, tapi sekarang keadaannya sudah kembali normal.

"Ada tiga salon kecantikan lainnya yang mempunyai banyak pelanggan," kata Rozhin.

Banyak keluarga sudah lama tinggal di tempat pengungsian ini seperti halnya Rozhin. Komunitas membangun, tetangga saling mengenal, orang-orang jatuh cinta. Menikah berarti memiliki saham di masa depan, bahkan saat masa depan tidak pasti. Jika Anda melihat dengan saksama gaun pengantin di toko Rozhin, Anda bisa melihat kemeja bernoda sama dengan warna bebatuan di kamp pengungsian.

Sudah berapa banyak perempuan yang mengenakan gaun-gaun tersebut, lalu berjalan dengan hati-hati ke aula yang sama, karena khawatir merusak rambut dan riasan mereka, dan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya?

Topik terkait

Berita terkait