'Korban perkosaan ditempatkan sekelas dengan pemerkosanya'

Children standing in a playground

Seorang siswi diperkosa oleh teman satu sekolahnya di Inggris. Murid laki-laki itu sempat ditahan, namun dibebaskan dengan uang jaminan. Besoknya, dia ditempatkan sekelas dengan siswi yang pernah dia perkosa.

"Orang yang pernah diperkosa mengalami kehidupan yang sangat berat. Namun, ketika dia ditempatkan di tempat yang sama dengan pemerkosanya, itu luar biasa buruk," kata Rachel, ibu seorang siswi yang diperkosa.

"Ini mengembalikan trauma yang pernah dia alami, tindakan sangat tercela terhadap korban pemerkosaan," katanya pula.

Pemerintah Inggris mengaku tengah menyusun panduan sementara bagi sekolah-sekolah guna mencegah siswa ditempatkan sekelas dengan sesama siswa yang pernah memperkosa atau melakukan pelecehan seksual terhadap mereka. Namun, pegiat pendidikan menilai pemrintah terlalu lamban.

Rachel, bukan nama sebenarnya, mengungkap bahwa identitas putrinya sudah terkuak pada tahap awal. Hal itu membuat putrinya mengalami masa sulit.

"Berada sekelas dengan orang yang memperkosa sudah sangat berat, apalagi ketika teman-teman sekelas tahu apa yang terjadi dan mereka memperhatikan bagaimana reaksi korban perkosaan terhadap sang pemerkosa. Itu buruk sekali," papar Rachel.

"Stresnya justru bertambah, ketika tahu sesama murid memperhatikanmu. Teramat keji. Seperti mengintip, tapi ini lebih gila lagi."

Mundur dari sekolah

Rachel mengungkapkan bahwa sekolah tampak tidak punya kebijakan khusus untuk mengatasi situasi tersebut dan cara penanganannya 'sungguh sangat buruk.'

Dia harus berinisiatif sendiri menggelar pertemuan dan, meskipun sudah berusaha, menurutnya, pihak sekolah tidak memprioritaskan kebutuhan putrinya.

"Mereka sangat ingin melindungi hak sang siswa untuk mendapat pendidikan, namun seperti tidak mempertimbangkan sama sekali hak putri saya sebagai korban pemerkosaan dan entah bagaimana mereka tidak memahami apa dampaknya terhadap korban pemerkosaan saat ditempatkan di tempat yang sama dengan pemerkosa."

Putri Rachel mulai absen dari kelas yang sama dengan siswa yang memperkosanya, sebelum akhirnya tidak masuk sekolah.

Masalah ini mendapat sorotan dalam laporan Komite Kesetaraan Perempuan pada 2016, yang mengungkap insiden kekerasan dan pelecehan seksual di sekolah-sekolah Inggris.

Data yang diperoleh BBC menunjukkan dari 5.500 pelanggaran seksual yang terjadi di berbagai sekolah di Inggris selama tiga tahun hingga Juli 2015, 600 di antaranya merupakan kasus pemerkosaan.

Bulan lalu, para pengacara yang dihubungi oleh para korban, menulis surat kepada Menteri Pendidikan Justine Greening berisi tuduhan bahwa dia telah melanggar tugasnya sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Kesetaraan 2010. Dalam aturan itu, menteri pendidikan ditugaskan menghapus diskriminasi terhadap siswi di sekolah dan mempromosikan kesetaraan kesempatan.

Departemen Pendidikan Inggris membalas surat itu dengan komentar bahwa mereka sedang menyusun panduan sementara.

'Pendekatan tambal sulam'

Dikatakan Rachel, panduan setebal 11 halaman yang digunakan Departemen Pendidikan menyebut apa yang harus dilakukan sekolah jika pelaku pemerkosaan adalah orang dewasa, namun tak ada rinciian terkait pelecehan yang dilakukan sesama siswa.

"Itulah mengapa terjadi pendekatan tambal sulam yang memakan banyak waktu, sedangkan pihak korban diperlakukan sangat, sangat buruk oleh sekolah," kata Rachel.

"Saya amat yakin bahwa inilah saatnya pemerintah mengambil sikap dan memberikan panduan serinci mungkin sebagaimana jika pelakunya adalah orang dewasa, sebab masalah yang diderita korban, sama rumitnya."

Rachel Krys, direktur lembaga Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan, sepakat bahwa kasus ini memakan waktu "terlalu lama".

Menurutnya, masalah yang mendapat sorotan dalam laporan tahun lalu sangat mengejutkan dan pemerintah Inggris gagal memenuhi kewajibannya sebagaimana diatur dalam undang-undang hak asasi manusia pada bagian perlindungan anak.

"Perempuan terus-menerus dikecewakan oleh sekolah dan sistem. Pemerintah harus memberitahu sekolah apa yang harus dilakukan, tidak bisa mengharapkan setiap kepala sekolah dan dewan sekolah mengambil keputusan. Ini tidak mudah dan pemerintah harus memikul tanggung jawab."

'Mengecewakan'

Rachel, ibu yang putrinya diperkosa, mengaku anaknya dalam tahap pemulihan, namun merasa 'sangat dikecewakan.'

"Situasi buruk memperparah keadaan. Dan ada akibat jangka panjang terhadap dirinya, baik dalam kegagalan anak saya mengakses keadilan maupun kondisi psikologisnya," katanya.

Departemen Pendidikan menyatakan tengah bekerja sama dengan para ahli untuk menentukan cara terbaik dalam menyusun panduan mengenai penanganan komite penyelidik dalam kasus seperti itu.

"Dalam panduan perlindungan jelas bahwa sekolah harus memiliki kebijakan perlindungan anak yang menangani pelecehan sesama siswa. Hal ini harus meliputi prosedur untuk meminimalkan perbuatan itu, berikut nasihat bagaimana tuduhan itu disikapi, dan bagaimana dukungan terhadap korban," ujar Menteri Urusan Anak dan Keluarga, Robert Goodwill.

"Kami tengah mempertimbangkan apa lagi yang bisa diperbuat untuk membantu sekolah dan kami mengumpulkan pandangan para pemangku kepentingan serta para pakar tatkala memperbarui panduan perlindungan."

Berita terkait