Anak-anak diajak bayangkan makan serangga di Science Film Festival

SFF 2017
Image caption Di acara pembukaan Science Film Festival 2017, anak-anak diperkenalkan dengan beberapa hidangan yang dibuat dari serangga.

Anak-anak diajak membayangkan serangga sebagai makanan masa depan di acara pembukaan festival film sains yang diadakan Goethe Institut.

Tayangan di layar lebar mempertontonkan hidangan makan siang yang tak biasa. Menunya terdiri dari saus tomat cacing, salad rumput laut, dan keripik jangkrik sebagai hidangan penutup. Sesekali, para penonton yang terdiri dari siswa sekolah dasar dan menengah mengungkapkan rasa geli: "Hiii..."

Mereka menyaksikan adegan dalam salah satu film pendek yang diputar di gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada Selasa (24/10). Nine-and-a-half: Ew, Insects? memperkenalkan berbagai hidangan yang dibuat dari serangga kepada anak-anak.

Film dokumenter berdurasi 9 menit itu menceritakan bagaimana serangga dapat menggantikan daging di masa depan. Dengan luas lahan di bumi yang terus berkurang dan meningkatnya populasi manusia, mungkin sudah saatnya kita melirik serangga sebagai sumber protein.

Bahkan serangga sebenarnya merupakan makanan populer di banyak negara di dunia, meskipun masih dianggap menjijikkan di beberapa negara berkembang.

Salah satu penonton yang tidak terlalu antusias akan ide itu ialah Nasya, siswa kelas 7 dari SMP Islam Tugasku, yang mengatakan kepada BBC Indonesia: "Kalau memang saya sampai ya di masa depan di mana kita semua makan serangga, saya sih kayaknya masih enggak pengen makan serangga."

Namun demikian di antara lebih dari 600 siswa yang ikut menonton, ada juga yang jadi tertarik mencoba hidangan serangga.

"Kalau mendengar cerita dari orang-orang tua dahulu, pernah mencoba makanan seperti jangkrik atau laron atau semacamnya, saya pun tertarik untuk mencobanya. Namun masih ada kata-kata terlarang karena takut alergi saja," kata Anisa, siswa kelas 9 dari SMP 66 Jakarta.

Kalau melihat reaksi penonton, pantas saja film Ew, Insects? menjadi film terakhir dalam rangkaian film pendek yang diputar pada acara pembukaan Science Film Festival (SFF) 2017. Namun dua film lain yang diputar pada siang itu pun tak kalah menarik.

Image caption Selain pemutaran film, acara juga diramaikan dengan pertunjukkan eksperimen ilmiah yang melibatkan para siswa.

Film pertama berjudul (Not) Just a Touch menerangkan bagaimana manusia merasakan sensasi seperti panas, dingin, lembut, kasar, lunak, ataupun keras.

Dimulai dengan pertanyaan "Kenapa selimut terasa lembut?", film buatan Inggris itu menggunakan animasi untuk menerangkan keterhubungan saraf pada kulit dengan otak, yang kemudian menerjemahkan sensasi itu menjadi persepsi.

Sedangkan Nine-and-half: Green Wonder mengajak para penonton berjalan-jalan ke pusat penelitian alga di Julich, Jerman. Sang presenter membahas potensi alga sebagai penyelamat iklim karena kemampuannya menyerap CO2.

Tak cuma itu, alga juga mengandung minyak yang bernilai tinggi - bahkan dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar pesawat terbang.

Science Film Festival (SFF) ialah acara tahunan yang diselenggarakan Goethe Institut. Dimulai di Thailand pada 2005, festival ini menampilkan film-film yang membahas IPTEK secara menghibur bagi anak-anak berusia 9-14 tahun dengan tujuan menunjukkan bahwa mempelajari IPTEK itu menyenangkan. Selain pemutaran film, festival juga diramaikan dengan pertunjukan eksperimen ilmiah.

SFF diselenggarakan secara internasional di 23 negara. Di Indonesia, acara ini kembali digelar untuk kedelapan kalinya pada tahun ini, mulai dari 24 Oktober - 23 November.

Antroposen

Total ada 12 film yang diputar di SFF 2017. Kebanyakan film-film tersebut menunjukkan gambaran masa depan, ketika dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem bumi begitu kentara. Beberapa pakar geologi menyebut era baru itu "Antroposen".

Hal itu diangkat sebagai tema, kata koordinator festival dari Goethe Institut Gilang Hendyanto, untuk mengajak anak-anak merenungkan bagaimana manusia mengubah planet Bumi. "Apakah (dampaknya) mengarah ke positif atau negatif ... dan banyak riset-riset yang mengatakan bahwa bumi ini akan semakin buruk apabila manusia tidak mengubah kebiasaannya saat ini," tuturnya.

Image caption Dengan mengangkat tema Antroposen, anak-anak diharapkan menyadari dampak cara hidup mereka terhadap planet Bumi, kata Gilang.

Gilang mengakui bahwa Antroposen mungkin konsep yang agak rumit untuk dijelaskan kepada anak-anak. Karena itu mereka lebih menitikberatkan pada isu lingkungan seperti urbanisasi, perubahan iklim, dan sumber energi baru.

"Setidaknya mereka memahami apa yang terjadi pada bumi kita pada beberapa tahun yang akan datang, 10 atau 20 tahun lagi. Sehingga ketika mereka mengetahui itu, ada rasa memiliki terhadap bumi ini. Sesimpel buang sampah, mereka mengerti dampaknya seperti apa," pungkas Gilang.

Topik terkait

Berita terkait