Facebook atur transparansi iklan politik

Facebook Hak atas foto Reuters
Image caption Facebook mendapatkan tekanan untuk lebih transparan terkait iklan politik

Facebook telah mengumumkan kebijakan untuk membuat iklan politik di media sosial lebih transparan.

Para pengiklan politik harus memverifikasi identitas dan lokasi serta unggahan mereka akan disertai keterangan "dibayar oleh".

Langkah ini dilakukan Facebook ditengah tuduhan bahwa kelompok yang didukung Rusia menggunakan iklan di media sosial untuk mencampuri pemilu AS.

Eksekutif dari Facebook dan perusahaan internet raksasa lainnya akan memberikan kesaksian sebelum rapat Senat pada Selasa (31/10).

"Ketika itu merupakan iklan di Facebook, orang harus dapat memberitahukan siapa pengiklannya dan melihat iklan mereka, terutama untuk iklan politik," kata Rob Goldman, wakil presiden Facebook untuk urusan iklan, dalam pernyataan di sebuah blog.

Dengan mengklik keterangan "dibayar oleh", para pengguna akan dapat melihat lebih detail mengenai pengiklan, tambah dia.

Facebook mengatakan memperluas kebijakan transparansi terhadap seluruh iklan, dan harus terhubung ke sebuah laman. Para pengguna dapat juga melihat iklan yang dipasang di setiap laman, kata perusahaan itu,.

Pengujian alat baru itu akan dimulai di Kanada, dengan tujuan menerapkannya pada AS pada pemilu November 2018.

Hak atas foto EPA
Image caption Donald Trump membantah adanya kolusi antara tim kampanyenya dengan Rusia.

Perusahaan teknologi ini berniat untuk menunjukkan bahwa mereka dapat membuat regulasi sendiri setelah ditemukan penggunaan iklan di media sosial oleh kelompok yang didiuung oleh Rusia. Pada Selasa Twitter juga mengumumkan kebijakan transparansi yang serupa, termasuk penggunaan label untuk iklan yang terkait dengan pemilu dan rincian mengenai siapa penyandang dananya.

Perusahaan media sosial ini juga melarang media terbesar Rusia Russia Today (RT) dan Sputnik - untuk beriklan ditengah kekhawatiran mereka berupaya untuk mencampuri pemilihan presiden AS pada 2016 lalu.

Rusia telah berulang kali menyampaikan bantahan klaim yang menyebut negara itu mencampuri pemilu AS, tetapi tuduhan itu telah mengarahkan ke penyelidikan kemungkinan kaitan antara Rusia dan Presiden AS Donald Trump. Dia membantah adanya kolusi.

Topik terkait

Berita terkait