Kampung lukisan 3D, cara Depok agar pengendara tidak ngebut

zebra cross

Jalanan perumahan warga biasanya sepi di siang bolong. Namun, tidak demikian dengan sebuah jalan di Depok Timur, Jawa Barat. Belasan orang silih berganti memenuhi jalan, berfoto dengan lukisan 3D yang menghiasinya.

Delapan lukisan itu sudah ada di sana sejak satu bulan terakhir, dibuat oleh para pemuda karang taruna setempat.

Kepada BBC Indonesia, ketua karang taruna Jalan Danau Tondano Raya, Muhammad Nur Alam, bercerita bahwa ide membuat lukisan yang menimbulkan ilusi optik itu bermula ketika jalan diperbaiki dan diaspal ulang oleh pemerintah.

"Karena jalan jadi bagus, pengendara jadi bisa melaju dengan kecepatan tinggi." Padahal menurutnya, pembatas jalan atau yang biasa disebut sebagai 'polisi tidur' di jalan tersebut, sebagian sudah tertutup aspal baru.

"Dan di sini banyak anak-anak bermain. Kita khawatir akan keselamatan mereka saat menyeberang. Dengan dibuat lukisan, pengendara jadi lebih hati-hati dan pelan, terutama karena trik gambar," tutur Alam.

Image caption Pengendara sepeda motor jadi memelankan kendaraannya karena melihat ilusi optik dari lukisan 3D.

Salah satu lukisan 3D yang ada di sini berbentuk zebra cross. Efek tiga dimensi membuatnya tidak seperti zebra cross biasa, melainkan tampak timbul jika dilihat dari sudut tertentu, seperti balok-balok yang berada di atas jalan.

Penggunaan zebra cross tiga dimensi untuk memperlambat gerak pengendara mobil dan sepeda motor, sebelumnya telah diterapkan di Islandia, India, Australia dan Selandia Baru.

Hak atas foto Muhammad Alam
Image caption Lukisan 3D perahu dan ikan adalah salah satu yang menjadi favorit pengunjung.

"Tapi lukisan 3D di jalan aspal di Jabodetabek ini, kita yang pertama. Sebagai pemuda, kita harus punya inovasi baru," cerita Alam.

Jadi viral

Sebuah lukisan 3D dibuat selama 'tiga jam hingga dua hari'. Pengerjaan dilakukan pada malam hari ketika jalanan sepi, 'sehingga kita juga enak kalau menutup jalan'.

Selain zebra cross, lukisan tiga dimensi yang sudah dibuat di antaranya adalah sampan beserta ikannya, kubus warna-warni, tangga, permadani yang melayang dan jurang.

Image caption Lukisan 3D ini juga banyak digemari anak-anak.

Menariknya, semua lukisan ini dibuat oleh sekitar 10 orang anggota karang taruna, yang tidak punya keahlian khusus dalam bidang desain atau seni lukis. Alam yang berprofesi sebagai sopir taksi online, memiliki latar belakang pendidikan di bidang ilmu sosial-politik.

"Kita otodidak. Modal keberanian saja. Gambar-gambar kita ambil referensinya dari google. Lalu sketsa awal kita pakai kapur. Setelah digambar, kita keker pakai kamera handphone, untuk mengetahui apakah efek 3D-nya sudah dapat atau belum."

Hak atas foto Muhammad Alam
Image caption Satu lukisan dibuat selama tiga jam sampai dua hari.

Berkat media sosial, kreasi yang semula ditujukan hanya untuk membuat lingkungan semakin aman bagi anak-anak ini, berubah menjadi tempat wisata dadakan.

Selama tiga jam BBC Indonesia berada di Jalan Tondano Raya, belasan pengunjung silih berganti. Mayoritas dari mereka adalah keluarga yang membawa anak-anak mereka. Tidak sedikit yang berasal dari luar Depok.

Image caption Sebuah keluarga yang berfoto di Kampung 3D.

Misalnya Dewi yang mengaku tahu tentang Kampung 3D ini setelah melihat unggahan salah seorang rekannya di Facebook. "Awalnya anak saya nggak mau ke sini, tetapi ketika sudah sampai, jadi senang. Bagus banget foto-fotonya."

Sementara Aura, yang berkunjung ke sini masih menggunakan seragam SMP menceritakan bahwa ia tertarik setelah melihat postingan kakak kelasnya di Instagram. "Soalnya membuat lukisan 3D ini susah kan, tidak gampang, jadi keren sada di sini."

Akankah bertahan lama?

Namun, dengan keramaian yang tidak kunjung henti di Jalan Danau Tondano, tampak sepeda motor sekarang malah sulit, bahkan kadang tidak bisa melintas.

Alam menegaskan, karena Jalan Danau Tondano adalah jalan utama di perumahan tersebut, "jadi warga sudah tahu. Dan kebenaran di sini banyak jalan alternatif, jadi tidak mesti harus lewat sini untuk melintas," tambah Alam.

Hak atas foto Muhammad Alam
Image caption Lukisan 3D ini dibuat di jalan, salah satunya agar pengemudi kendaraan bermotor memelankan laju kendaraan.

Ketika BBC Indonesia menemui sejumlah warga, terkesan bahwa mayoritas mereka tidak menolak jalanannya dilukis, "meski banyak di awal yang bertanya-tanya". Bahkan sebagian warga mengaku senang karena warung dagangan mereka "jadi ramai" pengunjung.

Bagaimanapun, seorang peneliti dari Fakultas Teknis Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung, Prasanti Widyasih Sarli, menyatakan Kampung 3D ini akan bertahan lama atau tidak, bergantung pada "dampak keuntungan yang dirasakan oleh individu (warga)."

Image caption Kampung 3D akan bertahan lama atau tidak 'bergantung pada dampak yang diberikan pada warga'.

Peneliti yang biasa dipanggil Asih ini mencontohkan kampung tematik yang pernah ditelitinya, yaitu Kampung Warna-warni di Malang, dan Kampung Pelangi di Semarang.

"Di kampung warna-warni, mereka pada dasarnya cuma modal cat, tetapi karena banyak pemasukan (dari turis), mereka akhirnya mengeluarkan upaya sendiri untuk melukis yang baru, buat lampu warna-warni dan sebagainya."

Dampak ekonomi benar-benar dirasakan warga di kedua kampung, karena kampung tersebut semula adalah wilayah kumuh, dengan mayoritas warga bergolongan ekonomi menengah ke bawah.

Image caption Warga dari dalam dan luar Depok berkunjung ke Jalan Danau Tondano Raya untuk berfoto.

Lalu bagaimana dengan Kampung 3D yang mayoritas warganya berkelas ekonomi menengah ini?

"Walaupun warganya banyak yang kerja kantoran, tetapi apakah istri kerja kantoran? apakah bisa dapat penghasilan tambahan. Misalnya, yang tadinya istrinya hanya ibu rumah tangga, tapi sekarang dapat penghasilan, kan lumayan. Tetap ada impact-nya," tutur Asih.

Image caption Alam dan teman-temannya di Karang Taruna kini diajak Dinas Lingkungan Depok untuk membuat lukisan 3D di taman kota.

Yang jelas, lukisan 3D ini mendapat dukungan dari pemerintah kota Depok. Nama Kampung 3D juga diberi oleh Walikota Depok. Alam dan teman-teman karang tarunanya bahkan kini mendapat tugas baru dari pemerintah setempat untuk membuat lukisan 3D di sejumlah taman kota Depok.

Topik terkait

Berita terkait