Program Satu Juta Pohon di Kalteng raih penghargaan internasional

fairventures, hutan Hak atas foto fairventures.org
Image caption Selain melestarikan lingkungan, Program Satu Juta Pohon juga akan memberi pemasukan kepada para warga yang ikut serta.

Program Satu Juta Pohon di Kalimantan Tengah meraih salah satu penghargaan internasional yang diumumkan di sela-sela konferensi lingkungan PBB di Bonn, Jerman.

Lembaga Fariventures Worldwide asal Jerman yang melibatkan masyarakat dalam pelestarian lingkungan di Kalimantan Tengah itu meraih penghargaan untuk kategori Community & Social Impact atau Dampak Sosial dan Komunitas dari badan Solution Search.

Dalam pengumuman Rabu (14/11) malam waktu Jerman, penggagas penghargaan, Solution Search, menyebutkan, "Mereka (Fariventures Worldwide) bertujuan menghasilkan kayu yang cepat tumbuh untuk mendapatkan pemasukan, menanam sayur dan buah untuk meningkatkan gizi, sertqa mengurangi pupuk guna melindungi sumber-sumber air."

Program Satu Juta Pohon ditempuh di Kabupaten Gunung Mas dan Kabupaten Katingan, sekitar 100km dari ibu kota provinsi Kalimantan Tengah, Palangka Raya dan sejauh ini sudah melibatkan sekitar 1.100 kepala keluarga.

Tujuannya adalah untuk memperbaiki kualitas lingkungan dan lahan dengan menanam pohon yang cepat tumbuh.

"Yang nantinya dalam lima tahun bisa menghasilkan atau bisa dijual. Artinya tujuan kita adalah memperbaiki lingkungan tapi juga hasil dari yang mereka tanam bisa memperbaiki ekonomi mereka," jelas Direktur Fariventures Worldwide Indonesia, Panduh Tukat, kepada wartawan BBC Indonesia, Liston P Siregar.

Hak atas foto fairventures.org
Image caption Saat ini target menanam satu juta pohon cepat tumbuh di Kalimantan Tengah sudah tercapai.

Ada lima jenis kayu cepat tumbuh yang disarankan oleh Fariventures Worldwide Indonesia ditanam oleh petani, yaitu sengon, jabon, hantangan -yang merupakan spesies lokal- tengkawang, dan akasia.

Pengadaan benihnya dilakukan dengan mengembangkan satu pusat benih setiap desa dari kecamatan-kecamatan yang terlibat dalam Program Satu Juta Pohon.

Pasar 'yang terjamin'

Program Satu Juta Pohon di Kalimantan Tengah ini diawali pada tahun 2014 sehingga saat ini masih belum pernah ada panen karena pohon yang ada sekarang baru berusia sekitar tiga tahun.

"Pertumbuhannya cukup bagus dan sekarang ini ada sengon yang diameternya sekitar 25cm hingga 30cm. Itu sangat bagus karena secara teori, misalnya, kayu cepat tumbuh itu pertumbuhannya per tahun cuma 5cm. Kalau di Jawa segitu tapi di sini lebih cepat mungkin karena faktor tanah," tambah Panduh Tukat.

Walau belum pernah panen, Panduh yakin bahwa pasar untuk kayu-kayu cepat tumbuh itu masih amat besar.

"Sangat besar karena kebijakan pemerintah. Sekarang ini mengurangi penggunaan kayu dari hutan alam dan menggunakan kayu hutan tanamam sebesar-bnesarnya untuk industri. Itu dari sisi kita di Indonesia. Dari sisi lain, kebutuhan sangat besar karena jenis kayu ini cepat tubuh sehingga sangat bisa diterima oleh dunia."

Hak atas foto fairventures.org
Image caption Salah satu syarat program adalah tidak membakar lahan untuk penanaman kayu cepat tumbuh.

Panduh memperkirakan saat ini harga rata-rata satu pohon dengan diameter di atas 25cm sekitar Rp200.000 hingga Rp300.000 sementara satu hektare bisa ditanam sekitar 1.100 pohon.

"Jadi dalam lima tahun itu bisa mendapatkan sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta untuk satu hektare."

Bagaimanapun warga juga diajak untuk mengembangkan tanaman jangka pendek, yang akan memberikan pemasukan bagi warga yang terlibat.

"Tumpangsari dengan menanam palawija dan tanaman lainnya, seperti bumbu-bumbu, berupa jahe, lengkuas, dan sebagainya,yang dalam jangka pendek bisa dijual ke pasar lokal. Kami masih menjajaki bisa menjual ke pasar ekspor, misalnya saat ini sedang mensosialisasi kacang tanah untuk pasar luar. Tapi semuanya organik."

Panduh menegaskan bahwa progam mereka didasarkan pada tiga syarat, yaitu tidak boleh membuka hutan, tidak boleh membakar, serta tidak menggunakan bahan kimia dan saat ini sudah tercapai target satu juta pohon yang cepat tumbuh.

Pemenang utama dari Nepal dan Ethiopia

Untuk tahun ini, Solution Search -badan yang mendapat dana dari Prakarsa Iklim Internasional- memilih para pemenang dari 300 nominasi yang tersebar di seluruh dunia.

Adapun pemenang utama pilihan juri untuk tahun 2017 adalah National Disaster Risk Reduction Center Nepal yang melibatkan sekitar 14.000 rumah tangga untuk memperbaiki kerusakan lingkungan di Daerah Aliran Sungai Banganga.

Sedangkan pemenang utama pilihan masyarakat adalah Apis Agribusiness di Ethiopia, yang mengembangkan industri madu masyarakat untuk menciptakan lapangan kerja bagi kaum muda, yang sekaligus mencegah kerusakan hutan dan mempertahankan proses penyerbukan yang penting.

Kedua pemenang utama mendapat hadiah US$30.000 atau sekitar Rp400 juta sedang empat pemenang lainnya, yang mendapat hadiah US$15.000 adalah:

  1. Biodiversity Impact: Fundación ECOTOP di Bolivia.
  2. Community & Social Impact Winner: Fariventures Worldwide di Indonesia).
  3. Food Security & Nutrition Impact Winner: Desarrollo Alternativo e Investigación A.C di Meksiko.
  4. Water Impact Winner: The Mountain Institute di Peru.

Topik terkait

Berita terkait