Mengapa film Naura dan Genk Juara menuai kontroversi?

Naura Hak atas foto Dokumentasi film Naura & Genk Juara

Film drama musikal, Naura dan Genk Juara menuai kontroversi di khalayak umum lantaran dianggap mendiskreditkan agama Islam. Bahkan ajakan boikot film tersebut ramai di media sosial. Namun, Lembaga Sensor Film (LSF) berpandangan lain.

Ketua LSF Ahmad Yani Basuki, menegaskan LSF selaku penanggungjawab meloloskan film tersebut lantaran berdasar parameter penilaian sensor, yaitu judul, tema adegan dan ungkapan dalam film, ini tidak mencitrakan Islam secara negatif.

"Jadi, kalau diarahkan seperti menista agama atau melecehkan, kami tidak sampai ke sana. LSF tidak melihat muatan semacam itu," ujar Ahmad Yani kepada BBC Indonesia, Kamis (23/11).

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi pun angkat bicara perihal reaksi berlebihan akan tudingan negatif terhadap film ini. Menurutnya, orang tua mesti bijak untuk memberi pemahaman menyeluruh terkait film yang ditonton buah hati mereka.

"Biarkanlah anak-anak menggunakan kemampuannya sendiri, menangkap kreativitasnya mengintepretasikan film itu dan jangan buru-buru campur tangan kepada anak-anak. Kalau mereka bertanya, berikan jawaban yang justru meluruskan pandangan-pandangan negatif tadi," ujarnya.

Polemik menggelinding begitu film ini resmi beredar di bioskop pada 16 November lalu. Film musikal untuk anak-anak garapan sutradara Eugene Panji ini dituding mencitrakan Islam dengan negatif lantaran penjahat digambarkan orang yang berjenggot, brewokan selalu mengucapkan istighfar, ucapan permohonan ampunan yang sering diungkapkan oleh orang muslim kebanyakan.

Namun, menurut Ketua Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (PP LESBUMI) Agus Sunyoto, penggambaran ini tidak serta merta bisa disebut mendiskreditkan Islam.

"Nggak, tidak ke arah sana," tegas Agus.

"Kita tidak perlu protes-protes begitu. Kita bikin aja sesuatu perimbangan untuk itu, bagaimana kita bukan bagian dari itu, dan gambaran-gambaran itu kan lebih cenderung ke Arabian muslim. Kita bukan Arabian muslim, kita Indonesian muslim," ujarnya lagi.

Ajakan boikot

Kontroversi bermula ketika Nina Asterly, salah satu orang tua yang menonton film Naura & Genk Juara bersama anaknya, memuat status di laman Facebook-nya. Menurutnya, selain gambaran fisik dari para penjahat yang mencirikan orang Islam, 'lebih ekstrim lagi saat si penjahat yang diserang anak-anak lalu si penjahat lantang mengucapkan kalimat Takbir berkali-kali'.

Polemik terus menggelinding seiring munculnya petisi untuk memboikot film tersebut. Hingga Minggu lalu, hestek #BoikotFilmNauraDanGenkJuara masih beredar di Twitter.

Hak atas foto BBC Indonesia
Image caption Hingga Kamis (23/11) sudah lebih dari 46.000 orang yang menandatangi petisi boikot fim Naura & Genk Juara.

Aktivis Ratna Sarumpaet melalui akun pribadinya, @RatnaSpaet, meminta Badan Sensor Film bertindak jika apa yang diungkap para netizen Muslim tersebut benar.

"Orang2 ribut film Naura & Genk Juara scr explisit memojokan islam. Kalau itu betul, pemerintah, dalam hal ini Badan Sensor Film/Badan Perfilman @BadanPerfilman sebaiknya segera menarik film ini dari bioskop," katanya.

Seto mengakui, ia semula merasa 'panas' dengan film ini. Sebagai seorang muslim, ia mempertanyakan film anak yang justru memberi nilai-nilai negatif terhadap pemeluk agama Islam. Akhirnya ia memutuskan menonton dan baru memberi opini kemudian.

"Setelah saya nonton, saya bilang tidak ada yang mendiskreditkan dan sebagainya," ujar Seto seraya menambahkan bahwa "99% dari film ini" justru penuh dengan nilai pendidikan, etika, ilmu pengetahuan dan nasionalisme.

"Jadi di tengah kegalauan, di tengah kerinduan anak-anak untuk sebuah film anak yang edukatif, menurut saya ini harus diberi apresiasi supaya tidak membuat para tokoh seniman di balik itu, baik sutradara atau produser, jadi kapok."

"Akhirnya anak-anak juga tidak mendapatkan kebutuhan untuk adanya film dan lagu-lagu anak yang edukatif," imbuhnya.

Kendati begitu, ia menegaskan peran orang tua tetap diperlukan untuk menemani dan membimbing anak ketika mereka menonton film-film tersebut.

"Untuk menetralisir kalau ada kesalahpahaman penangkapan terhadap film itu. Jadi diluruskan, bahwa ini maksudnya begini, biarkanlah anak-anak menikmati dunia yang indah dengan tayangan film," kata dia.

Senada, Ahmad Yani menegaskan orang tua memiliki kewajiban untuk menjelaskan kepada anak, bukan lantas bereaksi berlebihan terhadap sebuah film.

"Itu kan fenomena sosial yang seperti itu bisa saja terjadi. Samalah ketika film Barat, pencurinya yang tentu bukan Islam, misalnya [menyebut] 'Oh my God!",

Hak atas foto Dokumentasi Narua & Genk Juara
Image caption Tiga pemeran penjahat dalam film Naura & Genk Juara.

Diakui Ahmad Yani, dalam film tersebut terdapat adegan di mana salah satu penjahat mengucapkan istighfar. Namun, menurutnya ucapan tersebut merupakan ucapan spontanitas yang sering diucapkan oleh orang-orang kebanyakan.

"Dari kacamata LSF melihatnya itu bentuk-bentuk spontanitas, itu bisa terjadi pada siapa saja. Begitu juga, kebetulan itu terjadi di Indonesia, kita tidak fokus pencuri itu Islam atau Kristen, tapi dia kan tidak menggunakan atribut Islam. Dan tampilannya, menurut LSF, adalah tampilan penjahat," jelasnya.

Bagi LSF, imbuhnya, film yang diloloskan dan dikritisi publik menjadi perhatian badan tersebut. Namun ia menegaskan kritik terhadap suatu film semestinya sesuai proporsi dan konteks.

Sentimen SARA terhadap film tak hanya kali ini terjadi. Bertahun-tahun lalu, serial televisi legendaris Si Unyil juga sempat dikritik lantaran pemeran antagonis di film tersebut diidentikan dengan orang Jawa.

"Ini semua tentu menjadi sebuah pembelajaran bersamalah. Oleh karena itu, terkait hal ini LSF sudah melangkah. Sebelumnya kami melakukan sosialisasi sensor mandiri. Kami melihat bahwa sensor mandiri penting untuk mengajak masyarakat memahami film sebagaimana film itu."

Bagaimana di luar negeri?

Kontroversi semacam ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja. Baru-baru ini, film Bollywood Padmavati juga menuai kritik dan protes dari kelompok sayap kanan India lantaran adanya adegan romantis dalam mimpi antara dua tokoh utama, Rani Padmavati yang merupakan Ratu Hindu dengan Alauddin Khilji yang merupakan Sultan Muslim.

Bintang Bollywood Deepika Padukone dan Ranveer Singh memainkan peran utama dalam produksi mewah Sanjay Leela Bhansali.

Kelompok Hindu dan sebuah organisasi kasta Rajput Karnik Sena menuduh bahwa film tersebut menggambarkan sebuah adegan romantis yang intim antara kedua karakter tersebut.

Parta sayap kanan India, Bartiya Janata Party (BJP) bahkan menawarkan imbalan masing-masing 50 juta rupee untuk siapa saja yang bisa memenggal Padukone dan Bhansali. Seruan tersebut tentu saja memicu kecaman publik.

Hak atas foto VIACOM18 MOTION PICTURES
Image caption Padmavati adalah ratu rekaan dalam puisi abad ke-16.

Sementara di Hollywood, film besutan James Cameron True Lies pada tahun 1994 juga menuai kontroversi yang sama lantaran menggambarkan orang Arab-Amerika sebagai teroris, yang kemudian dibantah oleh rumah produksi 20th Century Fox.

Juru bicara 20th Century Fox mengatakan, "Film ini adalah karya fiksi dan tidak mewakili tindakan atau kepercayaan budaya atau agama tertentu."

Lebih jauh, Agus menuturkan film-film sejenis ini menunjukkan 'semacam pembiasaan' terkait tema semacam ini, terutama pasca-Perang Dingin pada 1990.

"Itu kan peta dunia sudah berubah. Konflik borjuis dan proletar sudah nggak ada, Barat dengan Timur nggak ada, yang ada konflik agama," cetusnya.

Ia mengakui ada arah bahwa di era global ini Islam memang diarahkan untuk menggantikan peran komunis pada zaman dulu. "Komunis kan common enemy, sekarang ada usaha Islam perlahan-lahan digiring ke arah sana, untuk jadi common enemy," ujar Agus.

Berita terkait