Ketika para pemuda korban 'bully' membalikkan keadaan, jadi sosok seksi di kalender

Jay Pagan Hak atas foto Jay Mountain / Thomas Knights / Red Hot 100

Sejumlah pria yang awalnya dirisak dan jadi bulan-bulanan ejekan karena warna rambut atau ukuran tubuh, membalikkan keadaan hingga menjadi model 'seksi' dan tampil telanjang untuk kalender.

Seorang laki-laki bernama Jay Pagan dirisak alias di-bully sejak ia duduk di bangku sekolah dasar hingga kuliah, karena rambutnya yang berwarna kemerahan serta memiliki berat badan berlebih.

Saat masih anak-anak, teman-teman sebayanya memanggilnya ginger germ, "hama jahe" dan ketika beranjak dewasa, ia kerap dijadikan meme atau bahan ejekan di media sosial.

Rambut kemerahan, dikenal sebagai ginger, yang secara harfiah berarti jahe, sering jadi bahan ejekan dan direndahkan di beberapa kalangan kulit putih.

Jay mengatakan berbagai komentar "olok-olok" yang dilontarkan saat kuliah, sama menyakitkannya dengan cemoohan yang ia terima ketika di taman kanak-kanak.

"Menjengkelkan," tutur pemuda berusia 25 tahun yang tinggal di Cardiff mengatakan kepada Newsbeat BBC.

"Kalau sekali dua, tidak terlalu menyakitkan, tapi selama tiga tahun saya kuliah, semuanya menumpuk dan kekesalan saya memuncak.

"Kita jadi mempertanyakan kepercayaan diri. Dan bahkan jika sedang bangga pada sesuatu, tetap saja ada suara-suara miring."

Hak atas foto Jay Pagan
Image caption Jay mengatakan ingin mengubah penampilannya setelah di-bully oleh teman-temannya.

Lelah dengan berbagai ejekan "gemuk, rambut seperti warna jahe", akhirnya pada tahun 2013 Jay bergabung dengan pusat kebugaran untuk menurunkan berat badannya.

Dan pada musim panas ini, ia berpose telanjang di suatu atap gedung di kota London dan difoto untuk kalender yang hanya menampilkan pria-pria berambut merah.

Saat pemotretan, katanya, "Sekeliling saya adalah gedung-gedung kaca tinggi dan di dalamnya banyak perempuan mengetuk-ngetuk jendela kaca gedung mereka dan melambaikan tangan," kata Jay.

"Sebuah pengalaman dahsyat."

Jay sering membagikan foto selfie nya yang bertelanjang dada kepada lebih dari 8.000 pengikut Instagram-nya.

Kalender bernama Red Hot diluncurkan pada tahun 2013 oleh Thomas Knights untuk menggalang dana bagi lembaga-lembaga anti perundungan terhadap kaum LGBT.

Sang pendiri ingin "mengubah citra" dan persepsi publik tentang pria-pria berambut merah setelah ia juga mengalami perundungan.

"Gagasan itu terlahir dari pengalaman pribadi," katanya.

Lantas ia pun menyadari bahwa model-model yang difoto untuk kalendernya memiliki pengalaman yang sama dengan dirinya.

"Tak ada satupun model yang tidak pernah mengalami perundungan. Mereka selalu datang dengan berbagai kisah perundungan."

Hak atas foto Thomas Knights / Red Hot 100
Image caption Alex mengatakan gerakan Red Hot ini benar-benar "mengubah" pola pikirnya tentang rambut merah.

Dan ternyata para model ini tidak hanya mengalami perundungan dari teman-teman sekelasnya.

"Bahkan para guru pun terlibat dalam perundungan, yang membuat saya merasa terkucil di sekolah," tutur Alex Mountain, 27 tahun, dari Weybridge.

Bahkan seorang bintang kalender berambut merah yang meski tidak mengalami perundungan, tetap kerepotan dengan jati dirinya.

"Di bawah sadar, hal itu telah mempengaruhi saya," kata Chris Jammer, 23 tahun dari London.

"Saya tidak ingin menjadi mahluk ganjil: pria kulit hitam yang putih dengan rambut merah."

Hak atas foto Thomas Knights / Red Hot 100
Image caption Chris Jammer mengatakan kalender telah membuat "perbedaan besar" terhadap bagaimana orang berpikir tentang pria berambut merah.

Para model percaya bahwa kalender Thomas and Elliott ini telah membantu mengubah persepsi publik tentang rambut merah dan juga bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri.

"Tak pernah terlintas di benak saya, bahwa saya bisa terlihat begitu hebat" kata Jay."

Dan Alex mengatakan bahwa ia kini mendapat pujian sepanjang hari dengan rambut merahnya.

"Gerakan Red Hot telah mengubah hidup saya."

Topik terkait

Berita terkait