'Pasukan Niqab' Indonesia berlatih menunggang kuda dan memanah

Niqab, Islam, perempuan Hak atas foto AFP
Image caption Selain berkumpul untuk membaca Alquran, para perempuan juga menunggang kuda dan berlatih memanah.

Sekelompok perempuan Indonesia yang mengenakan niqab bertekad untuk 'memerangi prasangka atas niqab' atau busana perempuan Muslim yang menutup seluruh wajah.

Para perempuan itu berkumpul untuk membaca Alquran dan dalam sebuah pertemuan baru-baru ini di Bekasi, mereka menunggang kuda dan berlatih memanah.

Tanpa mengenakan niqab saja kegiatan itu jelas tak mudah, namun tetap tak menghentikan mereka untuk melakukan hal yang diyakini dianjurkan oleh Nabi Muhammad tersebut.

Salah seorang perempuan berniqab adalah Janariyah. Perempuan berusia 19 tahun itu sebelumnya tidak pernah menunggang kuda, namun dengan niqabnya yang berwarna hitam dia pun naik ke punggung kuda.

"Tidak terlalu sulit," tuturnya tertawa kecil sambil berupaya mengendalikan kudanya di bawah terik matahari.

Hak atas foto AFP
Image caption Mengenakan niqab tidak menghalangi perempuan ini untuk menunggang kuda.

"Bahkan berlari (dengan menunggang kuda) oke. Jika Anda terbiasa, nyaman. Yang paling penting adalah bahwa Anda tidak melihat itu (niqab) sebagai halangan dan Anda harus sabar," tambah Janariyah kepada kantor berita AFP.

Sementara itu beberapa perempuan berniqab lainnya menembakkan busur panah yang ujungnya berupa mangkuk kecil dari karet yang bisa menempel di sasaran.

Perempuan yang mengenakan niqab sebenarnya tidak tergolong banyak di Indonesia, jika dibanding dengan negara-negara di Teluk walau banyak perempuan Indonesia yang memakai jilbab yang menutup kepala namun tidak sampai menutup seluruh wajah.

Pendiri 'Pasukan Niqab' adalah Indadari Mindrayanti, yang pada tahun 2016 lalu memutuskan untuk mulai mengenakan niqab dari jilbab yang sebelumnya dia pakai.

Perempuan berusia 34 tahun yang sudah dua kali bercerai ini melihat niqab lebih saleh. Meski demikian, keputusannya tidak diterima keluarga. Orang-orang di jalanan yang berpapasan dengannya juga sering kali memberi 'pandangan aneh'.

"Susah mengharapkan orang untuk berbicara dengan Anda. Mereka tampak seperti ketakutan," katanya di salah satu masjid di Jakarta.

Hak atas foto AFP
Image caption Bagi beberapa orang, niqab tampaknya memang dianggap sebagai pertanda berkembangnya Islam yang konservatif.
Hak atas foto AFP
Image caption Mindrayanti menilai para perempuan yang mengenakan niqab mengalami diskriminasi.

Mindrayanti juga menilai perempuan lain yang mengenakan niqab menghadapi perlakuan seperti itu sehingga dia merasa perlu untuk mengubah persepsi tersebut.

"Di jalanan kadang saya mendapat komentar seperti 'Wow ada ninja' atau 'uh seram', komentar-komentar yang tidak menyenangkan seperti itu."

Sebagian dari anggota kelompok perempuan berniqab ini yang berjumlah sekitar 3.000 orang di Indonesia -juga di Malaysia, Taiwan, dan Afrika Selatan- mengatakan mereka mendapat cap ekstremis dan sering kali mendapat pertanyaan, 'kenapa Anda berpakaian seperti teroris?'.

Bagi beberapa orang, niqab tampaknya memang dilihat sebagai pertanda dari berkembangnya Islam yang konservatif, yang diekspor ke Indonesia dari Arab Saudi atau negara-negara Islam konservatif lainnya.

Kekhwatiran akan meningkatnya pengaruh Islam konservatif ini meningkat menjelang dan pada saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta awal tahun ini, yang membuat gubernur petahana, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, dipenjara karena dakwaan penghinaan agama Islam dan kalah dalam pemilihan yang diwarnai isu agama.

Hak atas foto AFP
Image caption Pasukan Niqab ingin menjadi duta besar Muslim untuk yang bukan Muslim dan yang tidak paham Islam.

Namun pendiri Pasukan Niqab bertekad untuk mengubah pandangan umum tersebut dengan berbicara secara halus dan bersahabat dengan orang-orang sehingga bisa memahami bahwa tujuannya adalah baik.

"Niqab tidak melarang kami untuk bersosialisasi dengan orang-orang, walaupun mereka bukan Islam," jelas Mindrayanti.

"Kami bisa menjadi duta besar Muslim untuk yang bukan Muslim... dan mereka yang tidak paham Islam dan hanya mengetahui dari yang mereka lihat di media."

Topik terkait

Berita terkait