Berkunjung ke festival serba cokelat di Jerman, seperti apa rasanya?

Festival cokelat Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Setiap tahun kota Tubingen di negara bagian Baden-Württemberg, Jerman, seakan menjadi magnet bagi para pemburu, penikmat dan pencinta cokelat.

Di kota yang terletak di tepi Sungai Neckar ini setiap tahun digelar festival cokelat yang bertajuk ChocolART, kata wartawan di Jerman, Arti Ekawati.

Dan untuk tahun ini festival diselenggarakn mulai 5 hingga 10 Desember.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Aroma cokelat langsung tercium begitu pengunjung menghampiri stan yang berjumlah tak kurang dari 100, yang berasal dari berbagai negara, termasuk produsen cokelat dan biji kokoa seperti Belgia, Jerman, Swiss, Italia, Ekuador dan Kolumbia.

Cokelat beragam rasa dapat ditemui di sini mulai dari rasa jeruk, buah ara, jamur truffel dan salami hingga yang bertabur kelapa, bubuk kopi dan rempah seperti cabai dan lada.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Harganya pun beragam mulai dari 2,5 euro untuk sebatang kecil cokelat.

Berbagai kursus singkat membuat cokelat praline maupun kue tart cokelat juga tersedia sehingga pengunjung baik anak-anak maupun dewasa bisa membuat cokelat dengan bermacam bentuk dan rasa sesuai selera.

Karena tempatnya terbatas, pengunjung perlu mendaftar sebelumnya untuk mengikuti kursus ini dengan biaya sekitar 25 euro (sekitar Rp400.000) selama 1,5 jam.

Terkenal karena kecintaannya akan cokelat, warga Tubingen, Erwin Hildenbrand, pada 1930 untuk pertama kalinya membuat kue black forest atau yang dalam bahasa Jerman disebut Schwarzwälder Kirschtorte.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Kue tart klasik yang terbuat dari coklat, krim, dan buat ceri ini kemudian terkenal dan digemari di seluruh dunia.

Selain rasa, bentuk cokelat yang ditawarkan pun beraneka mulai dari biola, mesin jahit, hingga cangkir.

Semakin kompleks bentuk dan semakin besar ukuran, semakin mahal pula harganya.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Cokelat berbentuk tas tangan perempuan ini misalnya, dijual seharga 20 euro atau sekitar Rp300.000 per buah. Sedangkan yang lebih kecil dan berbentuk biola dijual seharga 17 euro (Rp270.000).

Cokelat berbentuk sepatu kulit untuk lelaki ini dibuat sangat menyerupai bentuk aslinya.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Selain itu, ada pula cokelat yang berbentuk fragmentasi yang diambil dari cerita rakyat populer Jerman seperti Hansel und Gretel. Untuk para penggemar perkakas, tersedia juga cokelat berbentuk tang, mur dan perkakas lainnya. Tentunya semuanya dapat dimakan.

Selain makanan, ada juga cokelat dalam bentuk minuman seperti bir yang bercita rasa cokelat.

Namun bila tidak ingin meminum alkohol, ada juga minuman cokelat panas seharga enam euro atau sekitar Rp95.000, harga sudah termasuk cangkirnya.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Jika Anda tidak ingin memiliki cangkir itu, bisa dikembalikan setelah coklat habis dan Anda bisa mendapatkan kembalian tiga euro (Rp47.000).

Festival ini juga menjadi ajang para pengrajin cokelat dan kembang gula mempertunjukkan kelihaian mereka. Salah seorang pengrajin, Dorte Schetter, dari rumah produksi cokelat Dorte's Marzipan Atelier melukis bola-bola berukuran besar.

Schetter adalah salah satu master cokelat dan manisan yang disegani di Jerman dan sudah memperoleh berbagai penghargaan.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Untuk melukis gambar dengan tema Natal dan musim dingin ini ia memakai bahan baku bubuk kokoa, cokelat dan minyak. Udara dingin menjadi tantangan tersendiri karena ia harus berdiri atau duduk beberapa jam di stan terbuka untuk menyelesaikan lukisannya.

Ketika langit berangsur gelap, sekitar pukul lima sore pada musim dingin, pengunjung bisa menikmati pertunjukkan proyeksi lampu yang menghias dinding bangunan di kota tua Tubingen.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Khusus pada Sabtu, 9 Desember, festival berlangsung hingga pukul 11 malam, jauh lebih lama daripada hari lain yang hanya sampai pukul 7 atau 8 malam.

Kesadaran untuk memproduksi cokelat secara etis berkembang pesat di Eropa.

Proses produksi ini menitikberatkan keadilan ekonomi dan kesejahteraan bagi para pekebun kakao serta kesinambungan ekosistem di lahan-lahan perkebunan kakao di seluruh dunia.

Berdasarkan data Organisasi Kokoa Internasional (ICCO) tahun 2010/2011 lebih dari separuh biji kokoa diproduksi oleh negara-negara di Afrika seperti Ghana dan Pantai Gading.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Lebih dari separuh biji ini kemudian diekspor ke Eropa untuk diolah menjadi produk akhir cokelat. Hanya sekitar 0,3% biji kokoa yang berakhir untuk diolah di dalam wilayah Afrika.

Suhu udara yang mencapai beberapa derajat di bawah nol terbukti tidak menyurutkan semangat pengunjung.

Hak atas foto BBC Indonesia/Arti Ekawati

Semakin malam semakin ramai dan semarak dengan lampu-lampu. Festival ini juga merangkul para konsumen yang menganut vegan dengan adanya beberapa stan yang menjual cokelat vegan dan peduli terhadap kesejahteraan binatang dalam proses produksinya.

Topik terkait

Berita terkait