Apa bahaya briket batubara, yang diduga tewaskan Jonghyun 'Shinee’?

jonghyun Hak atas foto KWON HWON JIN
Image caption Kim Jong-hyun

Kim Jong-hyun, anggota boyband Korea Selatan SHINee, diduga meninggal dunia pada Senin (18/12) akibat bunuh diri.

Kim, yang lebih dikenal dengan nama Jong-hyun, ditemukan tak sadarkan diri di apartemen kontrakannya di kawasan Cheongdam-dong, bagian selatan Seoul, sekitar pukul 18.10 waktu setempat.

Saudara perempuan Jong-hyun merupakan orang pertama yang menelpon layanan darurat. Dalam laporannya, dia meyakini Jong-hyun berupaya bunuh diri.

Setelah Jong-hyun dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan meninggal dunia, aparat Korsel langsung melancarkan penyelidikan. Sebagaimana dilaporkan kantor berita Yonhap, penyelidik meyakini Jong-hyun meninggal dunia akibat menghirup zat beracun.

Dugaan ini diperkuat oleh temuan barang bukti berupa briket batubara yang tengah dipanggang di penggorengan.

Hak atas foto Reuters/Yonhap
Image caption Tim investigasi dari kepolisian Korea Selatan memasuki rumah sakit tempat Kim Jong-hyun dibawa.

Bunuh diri menggunakan batubara

Jika Jong-hyun benar terbukti meninggal dunia akibat bunuh diri menggunakan briket batubara, dia bukanlah orang pertama di Korsel yang melakukan tindakan tersebut.

Penelitian ilmuwan dari Universitas Chung-Ang di Seoul yang dimuat Journal of Korean Medical Science pada 2014 menunjukkan jumlah kematian penduduk Korsel akibat bunuh diri menggunakan briket batubara meningkat sejak 2008.

Selama 2000 hingga 2007, kematian akibat bunuh diri dengan cara menghirup briket batubara yang dibakar mencapai 84 kasus. Pada 2008 jumlahnya meningkat hingga 292 kasus. Kemudian, pada 2011, menyentuh 1.251 kasus.

Peningkatan angka ini, menurut makalah itu, ditandai dengan peristiwa kematian aktor Korsel, Ahn Jae-hwan, pada 2008. Pria itu diketahui mencabut nyawanya sendiri dengan menghirup asap pembakaran batubara di dalam mobilnya.

Makalah tersebut mengindikasikan bahwa pemberitaan mengenai kematian Ahn Jae-hwan meningkatkan keingintahuan masyarakat soal bunuh diri menggunakan briket batubara. Hal lainnya adalah kabar bahwa bunuh diri dengan cara tersebut tidak terasa sakit.

Hak atas foto 뉴스1
Image caption Para wartawan Korea Selatan meliput peristiwa kematian Kim Jong-hyun.

Mitos 'tanpa sakit'

Padahal, sebagaimana dipaparkan Dr Paul Yip Siu-fai, selaku direktur Pusat Riset dan Pencegahan Bunuh Diri di Universitas Hong Kong, bunuh diri dengan cara menghirup batubara tidak terasa sakit dan mudah, adalah mitos belaka.

Hal senada diutarakan Profesor Dominic Lee Tak-shing yang juga meneliti bunuh diri di Hong Kong.

"Pengalaman itu menyesakkan dan sangat tidak menyenangkan. Proses (bunuh diri dengan cara menghirup asap batubara), membuat tubuh tidak mendapat oksigen, hampir sama seperti dicekik. Orang yang selamat mengatakan hal itu tidak mereka antisipasi atau pikirkan masak-masak sebelumnya," ujarnya dalam laporan yang dimuat British Journal of Psychiatry.

Penyebab utama mengapa seseorang bisa kehilangan nyawanya dan menderita cedera saat menghirup batubara yang dibakar adalah karena batubara yang dibakar mengeluarkan karbonmonoksida (CO) yang beracun.

Hak atas foto EPA/Yonhap
Image caption Sebagaimana dilaporkan kantor berita Yonhap, penyelidik meyakini Jong-hyun meninggal dunia akibat menghirup zat beracun. yang ditimbulkan dari briket batubara.

Riset Il Saing Choi dari Departemen Ilmu Saraf di Universitas Yonsei yang dimuat dalam Journal of Korean Medical Science, melibatkan hampir 3.000 pasien yang mengalami keracunan CO di Korsel pada 1979-1982.

Dari hampir 3.000 pasien yang mengalami keracunan CO, 243 orang mengalami penyakit saraf. Ada pula yang mengalami gagal ginjal, pendarahan usus, serta penumpukan cairan di paru-paru.

Makalah tersebut merujuk kajian literatur yang menyebutkan bahwa konsentrasi maksimum CO yang diperbolehkan terpapar pada tubuh mencapai 0,01% (100 ppm) selama delapan jam dan 0,04% (400 ppm) selama satu jam.

Apabila jumlah CO yang terhirup lebih dari kadar normal, CO akan mengikat hemoglobin—molekul protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen dari paru-paru ke organ-organ tubuh dan mengembalikan karbondioksida ke paru-paru.

Akibatnya, organ-organ tubuh gagal berfungsi, tubuh kekurangan oksigen, dan keracunan CO.

Keluhan paparan CO ini beragam, dari tingkat rendah hingga tinggi. Di tingkat 20-40%, individu akan merasa pusing dan muntah, sedangkan di tingkat 70% koma dan kegagalan fungsi pernapasan bisa terjadi.

Berita terkait