'Lagu baru dari masa lalu', demi kelangsungan lagu lawas Indonesia

iramanusantara.org Hak atas foto iramanusantara.org
Image caption Kelak orang bisa mendengarkan lagu-lagu lawas lewat situs dengan gratis.

Sekitar 10.000 lagu lawas digitalisasi oleh sekelompok anak muda untuk diarsipkan sehingga dapat dinikmati kembali oleh generasi masa kini dan mendatang. Selain itu, ada harapan agar lagu-lagu lawas tersebut dapat diolah kembali oleh para musisi -baik dalam dan luar negeri- menjadi 'lagu baru dari masa lalu'.

Tahukah Anda, misalnya, jika lagu Jukebox Joints karya A$AP Rocky dengan Kanye West dan Joe Fox yang dirilis pada 2015 lalu ternyata menggunakan potongan lagu Doa untuk Kekasih dari kelompok Rasela yang dirilis tahun 1972?

Potongan dari lagu yang sama juga dipakai sebagai di lagu hip Shatter Interlude oleh penyanyi hip hop dan rap Lazy J.

Lagu Doa untuk Kekasih adalah salah satu lagu lawas yang diarsipkan Irama Nusantara, sekelompok anak muda yang sejak 2013 mengumpulkan ribuan piringan hitam dan mengubah isinya ke format digital.

_________________________________________________________________

Lagu-lagu yang menggunakan sampling dari Doa untuk Kekasih oleh Rasela

_________________________________________________________________

Pendiri Irama Nusantara, David Tarigan, menjelaskan proyek ini dipicu oleh kegemarannya mendengar musik lawas Indonesia namun tidak ada data yang tersedia untuk menjawab keingintahuannya akan musik dan musisi lawas yang dianggapnya berkualitas.

"Kita tidak punya tradisi pengarsipan jadi apa yang terjadi di negeri ini kita juga tidak pernah tahu sebenarnya. Pada dasarnya (idenya) hanya pengin menyibak (memisahkan)", kata David yang juga pernah mendirikan Aksara Records, perusahaan rekaman indie Indonesia.

Hak atas foto iramanusantara.org
Image caption Jika iramanusantara.org sudah berfungsi penuh, maka Anda bisa mendengarkan lagu-lagu lawas berikut.

Hingga saat ini, Irama Nusantara telah berhasil mendigitalisasi sekitar 10.000 lagu dari lebih dari 2.100 piringan hitam - 1.000 diantaranya dari koleksi Radio Republik Indonesia (RRI) dan sisanya dari koleksi pribadi dan pedagang piringan hitam.

Andapun nantinya dapat mengakses 'harta karun' musik Indonesia ini di situs iramanusantara.org, walau hingga artikel ini dipublikasikan masih belum berfungsi sepenuhnya.

"Itu memang kendaraan utama kita untuk saat ini. Karena balik lagi, kita harus mensosialisasikan, mendistribusikan informasi tersebut biar semua orang juga bisa berkontribusi."

"Karena kalau orang tahu, pasti orang ingin tahu lebih banyak, ingin buat sesuatu dari semua itu, baik para peneliti, atau penggemar musik biasa, atau orang tua yang nostalgia atau anak muda yang sekedar mencari apa yang baru -bagi mereka itu baru karena mereka belum pernah dengar sebelumnya," jelas David.

Meski situs iramanusantara.org tidak untuk dikomersialkan, setidaknya pengarsipan diharapkan dapat diterima oleh pendengar musik saat ini.

Dan menurut Aditya Ari Prabowo, Ketua Asosiasi Music Director Indonesia, hal itu memungkinkan.

"Kesempatan ada. Gue sih lebih percaya banyak banget musik atau apapun yang keren, tapi itu tak sampe (ke khalayak)," papar Aditya.

"Kenapa? Sesederhana karena mereka tidak bisa menyampaikan saja. Bagaimana caranya itu bisa sampai, itu satu. Kedua, bagaimana caranya menarik perhatian. Dan pada akhirnya bukan masalah suka/tak suka, bagus/tak bagus, tapi lebih dasar lagi: mungkin mereka belum tahu, makanya mereka belum mendapat penerimaan sebesar itu."

Lewat platform ini diharapkan juga musisi Indonesia dapat menggunakan dan menggubah lagu lama di arsip itu menjadi lagu baru, seperti yang dilakukan Kanye West dan A$AP Rocky dengan lagu Doa untuk Kekasih.

Hak atas foto GETTY IMAGES
Image caption Toko penjual piringan hitam menjadi 'surga' bagi bagi penggemar lagu-lagu lawas.

Penyanyi hip hop Igor "Saykoji" mengatakan bahwa menggunakan potongan lagu -yang dalam produksi musik hip hop dan rap disebut sampling- untuk membuat musik baru sangatlah gampang, tapi produksinya terbentur hak cipta.

"Kalau ngomong soal dikerjakan, dikerjakan sekarang juga bisa. Sudah banyak yang bikin. Tapi yang rilis resmi dan dimonetisasi itu sulit karena memang kita belum tahu jelasnya mau kemana, banyak lagu-lagu yang lama banget yang kita tak tahu akarnya siapa," ungkap Igor.

"Mereka tak berani rilis beneran, karena mereka takut kejegal, paling mereka bikin, mereka taruh di Youtube, tapi mereka tidak berani monetisasi, cuma diunggah saja."

Hak atas foto ISAAC LAWRENCE/GETTY IMAGES
Image caption Irama Nusantara telah berhasil mendigitalisasi sekitar 10.000 lagu dari lebih dari 2.100 rilisan piringan hitam. (Foto merupakan ilustrasi umum).

Wawan Rusiawan, Direktur Riset dan Pengembangan Ekonomi Kreatif Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia, menyatakan akan menangani masalah hak cipta namun tidak menjamin dapat dibereskan dalam waktu yang singkat.

"Urusan hak cipta tentu saja masih cukup panjang jalannya. Tentunya kan harus kita telusuri (pemiliknya) dan ini proses yang cukup panjang. Juga perlu kita komunikasikan, diskusikan dengan LMKN (Lembaga Manjemen Kolektif Nasional yang mengelola royalti hak cipta lagu), buka juga peraturan-peraturan yang ada mengenai hak cipta," jelas Wawan.

"Tapi minimal kita coba mendukung mendokumentasikan dulu dan di situ belum ada muatan-muatan ekonomi. Dan RRI juga akan memperdengarkan ke publik. Masih sepanjang itu saja."

Berita terkait