Menjamurnya situs berita: Bagaimana agar media digital dapat bertahan?

INTERNET Hak atas foto BAY ISMOYO/GETTY IMAGES

Bukan berita baru kalau media cetak tutup karena tiras dan pendapatan iklannya semakin menurun digerus oleh media digital yang semakin berkembang. Namun bagaimana agar media di internet ini dapat bertahan di tengah-tengah menjamurnya situs berita saat ini?

Beberapa media cetak yang sudah tutup di Indonesia antara lain koran Sinar Harapan, The Jakarta Globe, Majalah Bola. Yang terbaru adalah majalah musik Rolling Stone Indonesia yang memutuskan tutup setelah sempat terbit selama 12 tahun. Penyebabnya? Sama, yaitu pendapatan menurun.

"Karena mahalnya biaya lisensi ini, otomatis tidak nutup pendapatan yang masuk," kata Editor Rolling Stone Indonesia Wendi Putranto.

Di saat banyak media cetak yang tutup, media digital baru tumbuh menjamur. Di lingkup nasional ada kumparan.com, tirto.id, beritagar.id. Yang berjaring internasional antara lain vice.com, rappler.com, dan coconuts.co.

Betapapun, pengamat media Andreas Harsono menyangsikan keberlangsungan media-media baru ini.

"Bukan hanya tirto, kumparan atau vice. Tapi juga yang sangat partisan kayak Arrahmah, seword atau geotimes. Persoalannya adalah, mereka punya stamina tidak? Sekarang mungkin mereka bisa bertahan karena masih baru dan orang senang melihat hal-hal baru. Pertanyaannya apakah mereka bisa mendapat pendapatan yang makin lama makin berkembang? Apakah media-media baru ini punya model bisnis yang sustainable?"

Terlepas dari model bisnis yang harus tepat, jelas potensi pembaca berita kini ada di media internet.

"Lebih simpel, juga lebih update"; "Lebih gampang diakses, lagipula koran banyak sampahnya"; "Kalau beli koran kan harus keluar duit" adalah sebagian alasan warga lebih memilih internet sebagai sumber berita mereka.

Hak atas foto JEWEL SAMAD/GETTY IMAGES
Image caption Banyak media cetak tutup karena tiras dan pendapatan iklannya semakin menurun digerus oleh media digital yang semakin berkembang.

Peta media digital Indonesia

Ross Tapsell, seorang pengajar di The Australian National University, baru-baru ini menulis buku mengenai pemetaan media di Indonesia berjudul Media Power in Indonesia (Kekuatan Media di Indonesia).

Doktor studi media itu menyimpulkan, berdasarkan penelitiannya, bahwa untuk bertahan di era digital, maka media harus memiliki beberapa platform, seperti media televisi, radio, dan internet; berinvestasi di infrastruktur komunikasi; dan mengembangkan audiensinya ke seluruh negeri.

Media yang memiliki multi platform akan lebih mudah memasarkan spot iklan mereka sehingga lebih menguntungkan. Tak heran jika beberapa jaringan media berkembang menjadi konglomerasi digital yang besar.

Ada delapan konglomerasi di Indonesia yang memiliki multi platform dan menurut teori Ross Tapsell, jika ingin bertahan situs-situs berita harus tergabung dalam konglomerasi digital yang besar.

Tempo yang tadinya berdiri sendiri pun akhirnya menawarkan sahamnya ke enam investor di antaranya grup SCTV dan konglomerat Edwin Soeryadjaya.

Sinergi berita dengan komersial

Ke delapan konglomerasi media digital itu sudah 'bermain' di industri media cukup lama. Namun Andreas Harsono memperhatikan bahwa ada satu perusahaan konglomerat yang mulai masuk ke bisnis media, yakni Grup Djarum.

"Lewat Kaskus, beritagar, IDNTimes, mereka paling banyak beli (media digital) sekarang ini Djarum", kata Andreas Harsono.

Selain itu, peluang berkembangnya pembaca berita lewat media digital membuat para pengusaha melihatnya sebagai peluang untuk bisnis nonberita pula. Media berita itu, kelak, bisa disinergikan dengan situs belanja.

"Diarahkan ke situ sih oleh konglomerat-konglomerat ini. Yang jelas dikatakan Ishadi S.K dari detik.com atau Trans mereka akan menjadikan detik.com juga sebagai platform jualannya Transmart itu. Nah saya khawatir kalau e-commerce itu digabung sama jurnalisme, gak tahu gimana tuh deh", kata Andreas.

Hak atas foto BAY ISMOYO/GETTY IMAGES
Image caption Situs berita digital kelak bisa disinergikan dengan situs belanja.

Integritas jurnalisme di era digital

Pada sisi lain, kaitan yang makin erat antara media berita digital dan korporasi bisnis besar dikhawatirkan akan mempengaruhi kemandirian pemberitaan.

Bagi Ketua Asosiasi Jurnalisme Indonesia, AJI, Abdul Manan, tak banyak yang bisa dilakukan untuk mencegahnya selain peningkatkan integritas wartawannya.

"Menguatkan kepatuhan wartawan terhadap kode etik itu saya kira hal yang krusial dilakukan AJI di era seperti sekarang. Kita juga mendorong perusahaan-perusahaan media untuk menghormati prinsip bahwa bisnis media itu kan berbeda dengan bisnis yang lain. Yang tidak hanya bisnis tapi ada juga tanggung jawab sosial. Karena itu juga ditegaskan dalam UU No. 40 Tahun 1999 tentang pers, yang artinya harus dihormati oleh perusahaan media", kata Abdul Manan.

Jelas, menjamin profesionalisme lebih gampang diucapkan daripada dijalani, apalagi menyangkut periuk nasi para wartawan. Dan di Indonesia, ancaman kemandirian sebenarnya bukan hanya dari dalam perusahaan, juga dari pihak-pihak luar sehingga membuat ada istilah wartawan amplop, merujuk wartawan yang mendapat uang untuk menulis berita sesuai dengan kepentingan si pemberi uang tadi.

Berita terkait