Oen Sin Yang seniman gambang kromong klasik 'terakhir' di Tangerang

Oen Sin Yang Hak atas foto Dwiki Marta/BBC INDONESIA

Di teras rumahnya di Kampung Sewan Tangerang Banten, Oen Sin Yang memainkan alat musik gesek Kong'ahyang yang merupakan salah satu instrumen dalam gambang kromong.

"Itu 'rajanya' lagu klasik Phoa Silitan," Sin Yang menjelaskan musik yang dimainkannya.

Phoa Silitan merupakan lagu klasik -yang biasa disebut 'lagu dalam', yang bercerita tentang kisah Bu Tjek Hian, pahlawan perempuan yang memimpin pemberontakan dan menjadi kaisar perempuan di Cina dari 690 sampai 705 Masehi.

Dulu, menurut Sin Yang, lagu tersebut seringkali dinyanyikan oleh Masnah, ibu tirinya yang merupakan maestro gambang kromong.

"Yang bisa (nyanyi) itu ibu saya, sekarang tidak ada anak muda yang bisa," jelas Sin Yang.

Ayahnya, mendiang Oen Oen Hok merupakan seorang panjak atau penabuh instrumen gambang kromong, yang terkenal pada masanya di tahun 1970-1990an. Sin Yang mempelajari gambang kromong secara otodidak, dan mulai serius menggelutinya ketika ayahnya meninggal dunia.

"Saya nggaksuka ikut karena malu, saya enggak diajarin sama orang tua, cuma lihat dan kemudian belajar sendiri," ungkap Sin Yang.

Hak atas foto Dwiki Marta/BBC INDONESIA

Sin Yang, sau dari sedikit sekali pemusik gambang kromong klasik di Tangerang, yang masih dapat memainkan lagu-lagu klasik atau 'lagu dalam.'

"Sejak tahun 1980an sudah menurun, karena pemain sudah meninggal kan, sudahtua-tua. Main (lagu-lagu) ini anak muda nggak bisa. Sudah punah. Tidak ada yang mukul-mukul," katanya.

Saat ini Sin Yang lebih banyak melayani permintaan untuk bermain tehyan atau alat musik gesek yang berasal dari Cina, dan jarang memainkan lagu bersama gambang kromong karena sulit mencari pemain yang bisa memainkan lagu klasik, bahkan setelah mendiang Masnah meninggal, tak ada yang dapat menggantikannya.

Sampai tahun 1990an, musik yang muncul sejak masa penjajahan Belanda ini banyak ditampilkan dalam versi klasiknya, tapi kini tak terlalu populer di kalangan generasi muda.

Gambang Kromong adalah orkes yang merupakan bentuk akulturasi budaya Betawi dan Cina, memadukan unsur musik Cina dan perkusi, yang disebut gambang dan kromong.

Membuat alat musik

Ketika tidak bermain musik, Sin Yang membuat instrumen yang digunakan untuk gambang kromong antara lain Tehyan, Kong'ahyan dan Sukong.

"Ya suka ada pesanan, dari Surabaya dari mana-man. Katanya mereka tahu saya dari internet," kata dia.

Hak atas foto Dwiki Marta/BBC INDONESIA

Alat musik tersebut dibuat Sin Yang dari kayu dan batok kelapa bekas yang diperolehnya dari pinggir sungai.

"Nyari bahannya ke kali. Kayu-kayu hasil mungut di kali, yang bagus saya buat. Yang saya beli kawatnya saja, sama benang kenur," kata dia.

Namun untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, Sin Yang mencari botol plastik bekas kemasan minuman di sepanjang pinggir Sungai Cisadane.

Hak atas foto Dwiki Marta/BBC INDONESIA

Bentuk akulturasi

Gambang kromong konon mulai terbentuk sejak zaman seorang kapten Cina, Nie Hoe Kong yang diangkat Belanda di masa kolonial pada 1736-1740. Lalu kesenian ini berkembang di daerah yang sekarang jadi jakarta, dan sekitarnya, termasuk Tangerang.

Gambang kromong yang dulu berlaras selendro Cina, dalam perkembangannya memasukan unsur selendro Jawa, Sunda dan Deli. Kemudian masuk juga unsur Portugis dan Timur Tengah.

Pada saatnya, Gambang Kromong pun kemudian menjadi musik khas betawi -yang mencakup wilayah Jakarta, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya, kata pemerhati budaya dari Tangerang, Oey Tjin Eng.

"Ada alat-alat musik yang sebagian dari sana (Cina), ada suling juga dan itu merupakan bentuk akulturasi budaya," kata Tjin Eng.

Pada masa itu musik gambang kromong wajib dimainkan di acara-acara pernikahan.

Pada zaman dulu, menurut Tjin Eng, grup gambang kromong lebih banyak memainkan lagu-lagu klasik yang bercerita mengenai kisah sejarah dan kepahlawanan atau lagu-lagu populer atau 'gambang kromong sayur,' seperti jali-jali.

Hak atas foto Dwiki Marta/BBC INDONESIA

Campur dangdut

Namun, pada saat ini gambang kromong seringkali mencampurkan unsur musik dangdut.

"Sekarang modern, ditambah gitar dan organ," kata Tjin Eng.

Perubahan itu seakan tak terhindarkan, sebagai upaya para seniman untuk bertahan. Namun, jarangnya gambang kromong memainkan lagu-lagu klasik menimbulkan kekhawatiran pada diri Sin Yang.

"Saya khawatir akan punah, makanya saya senang kalau ada yang meminta saya mengajar," kata dia.

Sin Yang secara rutin diminta untuk mengajar dalam pelatihan memainkan gambang kromong yang dibuat pemerintah daerah Tangerang dan Banten, beberapa tahun yang lalu.

Dia juga mengaku akan dengan senang hati mengajari orang yang ingin mempelajari gambang kromong klasik di rumahnya. Selain mengajar Sin Yang juga seringkali diundang untuk acara kebudayaan di dalam dan di luar negeri. Ia antara lain pernah mengajar di Australia.

Topik terkait

Berita terkait