Afghanistan riwayatmu dulu: lembar-lembar hidup yang hilang

Pages from Afghan magazine Zhvandun - women's fashion photoshoot, man by the sea and baby milk advert

Cerah, riuh, dan penuh warna, itulah lembar-lembar halaman majalah Zhvandun yang menguak aspirasi kaum elit Afghanistan selama puluhan tahun perubahan politik dan sosial.

Majalah yang terbit di pertengahan Abad ke-20, menggabungkan berbagai artikel tentang peristiwa dunia, masyarakat dan sejarah dengan peristiwa-peristiwa ringan tentang para pesohor dan mode.

Zhvandun artinya 'hidup', baru saja didigitalisasi.

Majalah ini bisa kita bayangkan mungkin ibarat majalah Time dengan tambahan isi puisi dan cerpen.

Lebih dari lima dasawarsa dunia politik yang penuh gejolak, halaman-halaman Zhvandun mencerminkan pergolakan masa-masa itu. Juga menangkap sesuatu yang lebih rapuh - cita-cita dan impian para pembaca mereka.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - front covers

Majalah Zhvandun diterbitkan untuk segelintir orang di negara yang mayoritas penduduknya masih buta huruf.

Para penulis dan pembacanya sebagian besar tinggal di Kabul. Mereka adalah orang-orang progresif, yang menghabiskan waktu dan kesempatan untuk memikirkan film mana yang akan dilihat di bioskop atau pakaian mana yang akan dikenakan.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - reflecting the Soviet influence post-1979

Zhvandun adalah majalah dengan isi ringan dan santai -berbeda dengan banyak majalah lain yang terbit di Afghanistan sejak akhir tahun 1920-an.

Majalah lain, misalnya Kabul merupakan wahana para penulis dan pemikir kenamaan terkemuka Afghanistan.

Majalah Adab (Budaya) merupakan penerbitan berkala Universitas Kabul, sementara majalah Kamkayano Anis (Sahabat Anak) penuh dengan kisah dongeng dan teka-teki.

Front covers of Kabul and Children's Companion (Kamkayano Anis) magazines

Majalah Zhvandun terbit pada tahun 1949, tahun yang sangat menentukan di kawasan ini. Berbagai kekaisaran Eropa lama runtuh akibat Perang Dunia Kedua.

Sejumlah negara tetangga Afghanistan seperti India, Pakistan dan Iran, menjadi lahan pemikiran paska kolonial baru.

Afghanistan harus membangun suatu negara modern dan setidaknya sejumlah uang di bank.

Raja Zahir mengundang banyak penasihat asing untuk membantunya mengembangkan visinya dan mencari dukungan baik dari Amerika Serikat maupun Uni Soviet.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - airline images

Pembentukan maskapai Ariana Airlines pada tahun 1955 membuat Afghanistan terhubung dengan berbagai wilayah di separuh dunia.

Rute yang paling terkenal adalah dari Kabul ke Frankfurt melalui Teheran, Damaskus, Beirut dan Ankara. Rute ini dikenal dengan nama Marco Polo, yang diambil dari nama penjelajah Italia pada Abad ke-13.

Secara internal, kota-kota Afghanistan yang dipisahkan oleh pegunungan dan gurun menjadi terhubung dengan penerbangan-penerbangan reguler ini.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - soft drink and department store advert

Sejumlah iklan kemudian menyusup pula di majalah Zhvandun pada tahun 1960-an.

Mobil, lemari es, susu bayi - barang-barang semacam itu sungguh di luar jangkauan kebanyakan orang, tapi bagi beberapa kalangan barang-barang tersebut mewakili daya tarik revolusi gaya hidup, terutama bagi kaum perempuan.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - car, shoes, fridge and radio adverts

Perubahan terjadi.

Sepupu Raja Zahir, Mohammed Daoud Khan menggulingkan sang raja pada tahun 1973.

Ia kemudian mengubah tradisi yang sudah berlangsung selama berabad-abad, dengan menyatakan diri sebagai presiden sebuah republik baru, dan bukan raja.

Menarik untuk melihat kemunculan iklan-iklan dalam negeri dalam majalah Zhvandun selama periode ini, karena Presiden Daoud Khan mendorong didirikannya berbagai pabrik dan perusahaan jasa.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - images of Afghan women in the mid-1970s

Tapi Afghanistan kemudian juga memanas oleh berbagai gagasan dan persaingan politik yang baru. Dan Daoud Khan sendiri akhirnya digusur oleh sekelompok perwira militer berhaluan komunis pada tahun 1978.

Dikenal dengan nama Revolusi Saur, pemberontakan di Afghanistan ini menandai generasi perang yang terus berkesinambungan hingga saat ini.

Iklan-iklan komersial menghilang seiring dengan invasi Soviet tahun 1979.

Tapi majalah Zhvandun terus merefleksikan mimpi-mimpi -yang berbeda.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - reflecting the Soviet influence post-1979

Bintang-bintang film Soviet menggantikan Hollywood. Mesin-mesin pertanian muncul dan bukan alat pemutar musik tape recorder dan lemari es.

Kita bahkan menemukan bagaimana utopia melingkupi Soviet.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - reflecting the Soviet influence post-1979

Namun, kendati yang dimunculkan kemudian adalah Lenin dan tim-tim senam, ada kemiripan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam visi modernitas mereka seperti yang terungkap dalam Zhvandun.

Pages from Afghan magazine Zhvandun - Lenin and sport front covers

Majalah Zhvandun, Kabul dan majalah-majalah lainnya semuanya berhenti terbit setelah kekalahan Soviet di tahun 1990-an.

Situasi berubah menjadi tak keruan dan banyak penulis, penerbit dan pembaca meninggalkan negeri itu.

Kemunculan kelompok Taliban membuat majalah-majalah itu dipastikan tidak akan pernah kembali dan rekaman-rekaman sosial berharga itu pun lenyap.

Tapi media-media Aghanistan itu ternyata tidak sepenuhnya musnah. Masih ada yang dirawat oleh pembaca. Dan para kolektor dan perpustakaan menyimpannya dengan baik.

Perpustakaan Kongres AS mengoleksi majalah-majalah itu -hampir lengkap- di Pakistan.

Ratusan majalah itu kini telah didigitalisasi, melalui kerjasama dengan Carnegie Corporation, sebagai bagian dari World Digital Library.

Memang sulit untuk menemukan lagi majalah ini sekarang, tapi satu dua masih muncul di lapak loak di pinggir-pinggir jalan dari waktu ke waktu.

Pages from Afghan magazine Zhvandun

Foto-foto di atas produksi ulang oleh Library of Congress (World Digital Library) dan yayasan filantropi Carnegie Corporation of New York.

Berita terkait