Ethan Stables: Kisah seorang teroris biseksual yang pernah membenci LGBT

Ethan Stables
Image caption Ethan Stables dan bendera Swastika kebanggaannya.

Seorang pria 20 tahun yang mengaku simpatisan neo-Nazi dan dulu menyembunyikan jati dirinya, divonis untuk serangan teroris yang dipersiapkannya terhadap sebuah pub yang menyelenggarakan pesta gay.

Kasus ini menimbulkan kecemasan tentang penggunaan materi online ekstrim-kanan.

Barrow-in-Furness bukan kota yang asing untuk urusan keamanan negara. Di sanalah dibuat armada kapal selam nuklir Inggris di fasilitas yang aman, di antara supermarket raksasa dan Laut Irlandia.

Tapi warga kota tidak pernah mengalami peristiwa seperti 23 Juni tahun lalu ketika petugas polisi bersenjata lengkap bergegas ke sebuah pub, New Empire dan mengepungnya.

Mereka berusaha melindungi para pengunjung dari serangan teror yang akan segera terjadi.

Ethan Stables, 20 tahun, tengah bersiap untuk masuk ke pub, yang sedang mengadakan Pride Night untuk kelompok pendukung LGBT di kota Barrow. Ia menenteng sebilah golok dan siap membunuh siapa pun yang ia temui.

Kejadian ini merupakan peringatan akan rangkaian teror di tahun yang mengerikan, dipicu oleh seorang pria yang tampaknya membenci dirinya sendiri.

Image caption Ethan Stables mencoba berpenampilan seperti keturunan Arya.

Pada awal tahun 2017, Stables tinggal sendirian di sebuah flat kecil di pinggiran kota. Ia menganggur dan kendati kepada warga setempat ia mengaku punya pacar, namun tak ada seorang pun yang pernah melihatnya.

Stables yang tinggal di sebuah flat yang menghadap ke laut, menghabiskan waktunya di dunia maya, mengutuk nasibnya dan membenci hidupnya - dan akhirnya mewujud pada terorisme.

Selama persidangannya, disebutkan bahwa Stables:

  • Mencari informasi tentang kelompok-kelompok ekstremis di internet diantaranya kelompok yang dinamakan Combat 18 dan kelompok terlarang yang bernama National Action. BBC mengetahui bahwa ia pernah bertanya kepada kelompok NA apakah ia bisa bergabung - tapi ditolak. Dari berbagai pencarian yang dilakukannya di internet, dua diantaranya adalah bagaimana menyiapkan sebuah "perang rasial" dan kiat "bagaimana menjadi seorang teroris."
  • Mencari berbagai video kekerasan atau terorisme, seperti adegan penyiksaan, pembunuhan dan pembunuhan membabi buta.
  • Menelusuri bagaimana cara mendapatkan senjata dan cara merakit bom sendiri dengan panduan populer. Stables bertindak lebih lanjut, dengan mencari bahan-bahan kimia yang dibutuhkan untuk membuat peledak - dan mengusakan bergabung dengan tentara dan menyelundupkan senjata untuk digunakan dalam serangan.

Ia kemudian larut dalam gagasan Nazi pada bulan September 2016. Lalu melakukan riset tentang slogan "Fourteen Words" (empat belas kata) - sebuah kode ekstrim kanan untuk ungkapan "Kita harus menjamin keberadaan orang-orang kita dan masa depan anak-anak kulit putih."

Dan setelah meyakini bahwa ia memenuhi syarat sebagai seorang supremasi kulit putih, ia pun mulai berbagi komentar-komentar penuh kebencian secara daring.

Ia mencari tahu berbagai lelucon yang menggabungkan kata N (Negro) serta penghinaan terhadap orang-orang Yahudi, Muslim dan Pakistan. Ia mencari bahan-bahan yang terkait dengan homofobia yang penuh kekerasan.

Ia mengambil swafoto di flatnya dengan sebuah lambang swastika dan berpose bertelanjang dada dengan sepucuk senapan angin - suatu model untuk 'keunggulan ras Arya.'

Dan ia merekam sebuah video yang menunjukkan ia membakar selembar bendera pelangi, dengan mengatakan bahwa ia ingin melihat kaum gay dilalap kobaran api juga.

Hak atas foto GMP
Image caption Ethan Stables membakar bendera pelangi.

Namun ia jadi diketahui orang gara-gara ia, setelah membuat sebuah grup neo-Nazi di Facebook, memasukkan seorang perempuan yang berpandangan berbeda sepenuhnya, sebagai salah satu anggotanya. Dan ia terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Kelompok itu dinamakan "Serikat Sosialis Nasional yang berdiri melawan Dunia Baru." Pada tanggal 23 Juni, di media online Stables menuturkan bahwa ia sangat marah karena New Empire Pub di kotanya mengadakan acara Pride Night yang terkait dengan Furness, sebuah kelompok pendukung LGBT.

Pub ini sudah mengadakan acara serupa dua kali - sang pemilik Lorraine dan Steve Neale ingin tempat mereka terbuka untuk semua kalangan.

Tapi Stables berpandangan lain. Ia kemudian mengunggah gambar parang yang dibelinya dari sebuah toko. Dan sore itu ia mengatakan di laman Facebook itu bahwa ia akan menyandang parang itu ke dalam ke pub itu dan "membantai setiap gay (sembari mengumpat)".

Hak atas foto Twitter
Image caption Peringatan soal ancaman di serangan teror ke pub di cuitkan dalam Twitter.

Stables menunggah foto pub dengan bendera pelangi yang berkibar di luar, itu artinya ia telah mengincar tempat itu sejak siang.

Perempuan muda yang diikutsertakan dalam grup Facebook itu menyadari bahwa waktunya mendesak.

"Itu tidak benar, Ethan," katanya.

"Saya sudah tidak tahan," jawab Ethan. "Saya tidak ingin tinggal di dunia gay dan saya pasti tidak ingin anak-anak saya tinggal di tempat ini. Apa yang terjadi dengan nilai tradisional kita?"

"Saya tidak peduli jika saya mati, saya memperjuangkan apa yang saya yakini dan itu adalah masa depan negara saya, rakyat saya, dan ras saya.

"Saya akan jadi berita. Saya ingin mereka tahu mereka menjadi sasaran. Malam ini akan menjadi malam yang hebat, dan awal dari suatu akhir."

Perempuan itu kemudian berupaya menghubungi kepolisian setempat melalui Twitter dan mendapat jawaban yang menyebut ia harus menghubungi layanan 101.

Ia lantas menghubunginya lagi dan mengunggah peringatan di Facebook - diantaranya tangkapan layar (screen shot) tentang komentarnya sendiri - untuk membuktikan bahwa ia tidak turut melakukannya.

"Jika Anda berada di kota Barrow-in-Furness, tolong jangan datang ke acara LGBT di pub!", tulisnya. "Saya sudah melaporkannya ke polisi tapi tetap jangan pergi!"

Image caption Pesta LGBT itu akan diadakan di pub New Empire.

Barmaid Katy Bolger sibuk menyiapkan segala sesuatunya di dalam pub. Ia sudah berada di sana sejak siang dan akan segera datang sang pemilik, Lorraine dan Steve Neale.

"Empat polisi bersenjata siap tembak," kata Bolger. "Saya sangat takut. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hal pertama yang mereka katakan adalah 'apakah ada cara lain orang-orang itu masuk atau keluar dari pub ini?' Dan mereka mengatakan ada yang telah menebar ancaman teror - dan bahwa orang ini akan masuk saat acara berlangsung dan membahayakan pengunjung."

Lorraine Neale, yang baru menata rambut di rumahnya, bergegas ke tempat kejadian. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Image caption Katy Bolger dan Lorraine Neale.

Pub New Empire kini mempunyai para petugas keamanan yang terlatih dan siap tempur: polisi bersenjata bertugas untuk mengamankan lokasi, sementara para petugas lainnya disebarkan di kota Barrow untuk melakukan pencarian besar-besaran.

Meskipun sudah dijamin keamanannya, Nyonya Neal dan Nona Bolger meletakkan kursi-kursi di depan pintu untuk berjaga-jaga jika ada orang yang mau menghadang polisi. Putra Nyonya Neale berencana untuk menjadi DJ dan mengatakan tak satu pun teroris yang bisa menghentikannya.

"Sangat menakutkan. Saya tidak tahu apakah saya ingin berada di sana - tapi ia bertekad untuk melakukannya. Saya pun terus mengawasinya," tuturnya.

Tepat setelah pukul 10 malam, tim bersenjata lengkap melihat Stables di jalan Michaelson. Apartemennya berada di ujung jalan, sementara pub terletak di sisi lain, dengan dermaga pembangunan kapal selam Inggris bertenaga nuklir di antara keduanya.

Lewat tengah malam, para petugas kepolisian mendobrak pintu apartemennya. Dan apa yang mereka lihat - terekam dalam video yang menempel di tubuh polisi - adalah bukti nyata betapa seriusnya ancaman yang dibuat pemuda berusia 19 tahun kala itu.

Hak atas foto GMP
Image caption Polisi merekam kondisi di dalam apartemen Stables yang salah satunya menampilkan bendera swastika.

Di dindingnya tergantung sebuah bendera swastika berukuran besar. Di sebelah kirinya berserakan berbagai pucuk senjata - pisau dan kapak. Parang yang dipamerkan di Facebook tergeletak di atas meja di flat yang begitu berantakan itu. Dan ada bukti perakitan bom. Stables, kata jaksa saat sidang, sudah mulai mengumpulkan sejumlah kecil residu peledak dari korek-korek api.

Ini menjadi tahap awal dari perang yang hendak dikobarkan Ethan Stables - tapi mungkin ia kehilangan kesabaran, lantas ia menyerah dan memutuskan untuk beralih melakukan serangan dengan pisau. Dan nyatanya, pada periode itu di tahun 2017, warga Inggris sudah menderita tiga serangan teror teknologi rendah di London, yang para pelakunya hanya membutuhkan kendaraan dan belati.

Hak atas foto GMP
Image caption Rekaman video dari kamera di baju polisi menunjukkan upaya Stable merakit bom.

Stables pun diciduk polisi, yang lalu menyerahkan kasus tersebut kepada Unit Kontra Terorisme di Kepolisian Manchester.

Selama diinterogasi, ia menolak menjawab pertanyaan, juga menolak memberikan akses ke akun Facebook-nya.

Lalu ia dibebaskan dengan jaminan. Kepolisian Manchester menuturkan kepada BBC bahwa kejaksaan tinggi menyebut tidak ada cukup bukti untuk mendakwa Stable saat itu. Kepemilikan parang - dan logo Swastika - bukanlah tindak pidana.

Saat dibebaskan, Stables kembali aktif di dunia maya dan mengunggah peristiwa yang menimpa dirinya kepada para pengikutnya. Ia kemudian mengenakan lambang swastika lainnya yang dipasang di tangan.

Pada tanggal 27 Juni ia dibawa kembali ke tahanan dan kali ini ia mengakui telah mengunggah ancaman yang ditujukan ke pub tersebut. Polisi menemukan panduan merakit bom dalam komputernya, sehingga ia dikenai tuduhan terkait dengan pidana terorisme, namun pada tingkat relatif rendah kendati tetap ditahan.

Namun ia tidak didakwa atas perbuatannya menyiapkan aksi terorisme, tindak pidana yang bisa membuatnya dijerat hukuman seumur hidup.

Baru pada bulan September pengadilan menyatakan bahwa perbuatannya adalah pelanggaran pidana serius.

Hak atas foto GMP
Image caption Sebagian senjata yang dimiliki Ethan Stables.

"Hal itu bisa menjadi peristiwa seperti di Admiral Duncan," kata Lee Wicks, ketua kelompok pendukung LGBT Furness, merujuk pada pemboman di Soho tahun 1999 ketika seorang neo-Nazi lainnya, David Copeland, membom jantung komunitas gay London, menewaskan tiga orang. "Tempat itu akan bergelimang darah."

"Saya selalu mengatakan bahwa ketika menyangkut terorisme (terhadap acara gay), saya tidak takut dengan serangan kalangan Islamis, tapi saya takut akan terjadinya serangan ekstrim kanan.

"Ketika saya pertama kali melihat laman Facebook Stables, saya lihat ada lambang swastika di belakangnya. Mengerikan, saya pikir Facebook seharusnya menutup akunnya. Namun cukup membingungkan mengapa mereka tidak melakukannya."

Image caption Lee Wicks kesal dengan tingkah Stables yang dibiarkan mengunggah ujaran-ujaran kebencian,

Lee Wicks bukan satu-satunya orang yang berpendapat begitu. Di pengadilan terungkap bahwa perempuan muda yang memberi tahu polisi sudah melaporkan Stables ke jaringan media sosial itu setidaknya empat kali.

BBC meminta tanggapan Facebook namun mereka belum menjawabnya.

Hak atas foto Facebook

Selama pra-persidangan, Stables mengakui mengaku memiliki bahan-bahan tentang aksi terorisme, diantaranya materi merakit bom dan panduan untuk membuat senjata sendiri.

Tapi Stables mengatakan kepada juri bahwa tidak melakukan persiapan untuk melakukan serangan. Ia mengaku tidak serius - dan berbagai ucapan yang ia lontarkan di dunia maya adalah akibat dari gangguan mental dan masalah perilaku serta masalah psikis - yang semuanya ini menyebabkan sang ibu mengusirnya.

Dan kemudian, yang mengejutkan semua orang, adalah pengakuan Stables di depan juri bahwa ia sebenarnya biseksual. Ia mengatakan pernah melakukan hubungan seksual dengan pria di masa lalu dan karenanya tidak mungkin ia menjadi homofobia.

Ini bertentangan dengan pernyataannya saat dinterogasi polisi: saat itu ia mengaku memiliki pandangan neo-Nazi.

Hak atas foto Lee Wicks
Image caption Lee Wicks menentang aksi teror terhadap kaum LGBT.

Pengakuan Stables tentang orientasi seksualnya nampaknya tidak penting bagi juri. Mereka menyatakan bahwa pada tanggal 23 Juni itu Stables memang menjadi ancaman bagi pub New Empire.

Kini pub New Empire ditutup. Keluarga Neales pindah ke kota lain. Namun kelompok pendukung LGBT yang dimotori Lee Wicks terus melanjutkan kegiatannya. Mereka sekarang bertemu di tempat lain.

Malam itu Wicks mengunggah video yang menunjukkan ketegaran di Facebook, dengan bendera pelangi berkibar di atas pub, bukan dibakar seperti yang diinginkan Ethan Stables.

"Sepanjang sejarah LGBT, kami mendapat begitu banyak serangan dan kekerasan," katanya kepada BBC. "Saya bangga dengan fakta bahwa acara malam ini tidak dibatalkan. Setiap orang berhak untuk keluar malam. Itu yang dilakukan semua orang - bersosialisasi dan bersenang-senang, merayakan identitas mereka."

Topik terkait

Berita terkait