Komentar 'dada semangka' dari profesor yang memicu unjuk rasa di India

Kerala, perempuan Hak atas foto AFP
Image caption Sebagian pengunjuk rasa yang turun ke jalan membawa sepotong semangka.

Para mahasiswi di sebuah akademi di negara bagian Kerala, India, menggelar aksi protes setelah seorang profesor membandingkan dada perempuan dengan semangka.

Sebuah video di YouTube yang merekam komentar tersebut menyebar dengan cepat sepanjang akhir pekan lalu dan memicu kemarahan sejumlah orang.

Sebagian mahasiswi turun ke jalan untuk memprotes sambil membawa potongan semangka sementara yang lain menggunakan media sosial untuk menyebar swafoto dengan dada tanpa baju namun ditutup semangka.

Video yang memicu protes itu memperlihatkan Prof Jouhar Munavvir T -yang mengajar di Akademi Pelatihan Farook di kota Kozhikode, Kerala- mengkritik para mahasiswi.

Yang menjadi sasaran kritik adalah mahasiswi yang hanya menyelempangkan selendang ke sekeliling kepala dan membiarkan dada -yang menarik perhatian pria- menjadi terbuka.

"Itu seperti sepotong semangka, yang dipotong untuk memperlihatkan betapa matangnya buah itu."

Setelah tersebar sampai ribuan kali, sekelompok perempuan turun ke jalanan di Kozhikode untuk menggelar protes sambil membawa sepotong semangka dan poster-poster yang mengecam komentar Prof Munavvir.

"Itu melawan semua perempuan. Di negara bagian seperti Kerala, komentar seperti itu tidak bisa ditolerir," jelas Nikhil P, dari Federasi Kaum Muda Demokrasi India, kepada BBC Hindi.

Banyak juga yang mengungkapkan kemarahan lewat media sosial, antara lain dua perempuan yang berswafoto dengan dada terbuka dari baju namun ditutup dengan semangka.

Salah satu perempuan yang berswafoto itu, Aarathi S.A, mengatakan kepada BBC: "Saya menyebar foto setengah telanjang karena adanya seksualisasi yang berlebihan atas tubuh manusia."

"Jika Anda mengenakan sari, Anda selalu tertekan karena tidak ada bagian tubuh yang seharusnya terbuka. Orang menghina kami kalau memperlihatkan bagian tubuh apapun."

Aarathi mengatakan sejak menerbitkan fotonya tersebut, ada yang menyebutnya sebagai 'pelacur' namun sebagian pihak mendukungnya sebagai 'gagasan yang amat bagus'.

Sedangkan Rehana Fathima -yang juga menerbitkan foto dengan dada dan semangka- mengatakan: Ini tubuh saya, hak saya. Profesor tersebut memperlakukan perempuan seperti obyek."

Seorang perempuan mempertanyakan kenapa orang tidak terfokus pada 'akal perempuan yang rajin belajar' atau 'kemampuan bernyanyi yang baik, menulis puisi, menari, dan meraih medali olahraga."

Bagaimanapun ada juga yang membela guru besar tersebut, antara lain seorang pengguna media sosial yang memiliki kaitan dengan Liga Persatuan Muslim India, yang berpendapat 'komentar itu diambil ke luar dari konteks'.

Sementara seorang pengguna lain mengkritik protes dengan menuduh organisasi mahasiswa menghadapi 'kelangkaan isu' untuk dibahas.

BBC sudah berupaya untuk menghubungi pihak manajemen Akademi Pelatihan Farook namun belum mendapat tanggapan.

***

Ditulis oleh George Pierpoint dengan laporan dari Imran Qureshi dan Samiha Nettikkara.

Topik terkait

Berita terkait